Shaf Khusus Anak


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Saat shalat jamaah, di belakang imam shafnya diisi oleh orang dewasa, lalu shaf kedua dikosongkan, dan shaf ketiga diisi oleh anak-anak. Bagaimana hukumnya, Ustadz ?

Raffiq — Semarang

Jawaban :

Shalat jamaah dalam Islam merupakan cerminan kesatuan hati dan gerak langkah umat Islam. Para makmum dalam barisan atau shaf shalat lurus dan rapi mengikuti gerak imam mereka dan tidak mendahuluinya. Shalat jamaah juga bertujuan meningkatkan persaudaraan dan ukhuwah Islamiah di antara jamaah.

Oleh karena itu, Rasulullah mengajarkan kepada umatnya untuk selalu memperhatikan kelurusan dan kerapian shaf-shaf mereka dalam melaksanakan shalat jamaah. Diriwayatkan dari Anas bin Malik, ia berkata bahwa Rasulullah bersabda, “Luruskan shaf-shaf kalian, sesungguhnya kelurusan shaf-shaf itu bagian dari kesempurnaan shalat.“ ( HR Muslim ).

Rasul menyunahkan agar kita merapatkan shaf dan tidak membuat celah. Disunahkan juga untuk mengisi shaf-shaf terdepan terlebih dahulu dan tidak mengisi shaf berikutnya, kecuali shaf yang di depan telah penuh. Maka, mengosongkan shaf kedua dan menempatkan anak-anak di shaf ketiga itu sebenarnya tidak ada dasarnya.

Rasulullah menganjurkan mengisi shaf terdepan terlebih dahulu sampai penuh, baru kita mengisi shaf yang berikutnya, dan merapatkan jarak antara shaf-shaf yang ada dalam shalat jamaah agar terlihat rapi sebagaimana barisan malaikat dalam beribadah kepada Allah SWT. Adapun mengkhususkan tempat anak-anak di belakang shaf orang dewasa ada perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai hal itu.

Sebagian ulama berpendapat, anak-anak ditempatkan di shaf-shaf belakang, di mana jika salah seorang anak berada di shaf depan hendaklah disuruh ke shaf belakang.

Mereka menggunakan hadis yang diriwayat dari Abdullah bin Mas’ud. Ia berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Hendaknya yang berada di dekatku ( di belakangku ) dari kalian adalah orang yang berakal dan berilmu. Kemudian diikuti orang-orang berikutnya (tiga kali). Dan jauhilah ( suara ) keributan pasar-pasar.“ ( HR. Muslim ).

Lewat hadis tersebut Rasulullah mengajarkan, yang berada di belakang dan dekat imam itu adalah orang-orang dewasa dan berilmu agar ia dapat menggantikan imam jika ada uzur, mengingatkannya jika lupa, dan membetulkan bacaan yang salah.

Ulama lainnya berpendapat, jika seorang anak datang terlebih dahulu dan mengisi shaf di depan, ia tidak boleh disuruh mundur untuk mengisi shaf belakang. Sebab, ia lebih berhak atas shaf itu daripada orang yang tiba belakangan. Hadis riwayat Abu Daud menyebutkan, “Barangsiapa yang mendahului perkara yang tidak didahului oleh seorang Muslim maka dia lebih berhak terhadapnya.“

Dan juga berdasarkan pada hadis riwayat Ibnu ‘Umar, Nabi bersabda : “Janganlah seseorang menyuruh orang lain berdiri dari tempat duduknya, kemudian ia duduk di tempat tersebut“. ( HR Bukhari dan Muslim ).

Menempatkan anak-anak di shaf belakang itu mengandung beberapa hal negatif. Di antaranya, membuat anak-anak membenci masjid, kecewa pada orang yang selalu menyuruhnya ke belakang padahal mereka datang terlebih dahulu, dan berkumpulnya anak-anak di satu shaf akan membuat mereka saling bercanda dan bermain yang akhirnya juga mengganggu makmum yang lain.

Untuk menyatukan kedua pendapat itu, kita bisa melakukannya dengan menempatkan orang dewasa yang berilmu dan baik bacaan Al-Qurannya di shaf pertama yang posisinya dekat di belakang imam, sedangkan anak-anak yang datang terlebih dahulu menempati shaf pertama yang agak jauh dari posisi imam, bukan menyuruh mereka untuk mundur dan mengisi shaf yang di belakang.

Jika kita menyuruh mereka ke belakang, hendaknya dilakukan dengan cara yang baik dan bijaksana sehingga tidak membuat mereka kecewa dan tidak mau lagi menjalankan shalat berjamaah di masjid. Wallahu a’lam bish shawab

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Kamis, 7 Juni 2012 / 17  Rajab 1433 H

Gambar : beelay.multiply.com

ΩΩΩ

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bachtiar Nasir, Ibadah, Shalat and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Shaf Khusus Anak

  1. mustiko says:

    SAYA SETUJU PAK USTAD DENGAN BEGITU KITA MENGAJARKAN HAL YANG POSITIF
    TENTUNYA MENYAMPAIKAN NYA DENGAN SANTUN KARENA KITA SEMUA DULUNYA DARI ANAK2
    KAN GAK MUNGKIN LANGSUNG JADI ORANG BESAR MUSTIKO

  2. Awal says:

    Menagap dalam shat berjamaah anak laki-laki berada di belakang shaf laki-laki dewasa dan anak-anak perempuan di depan shaf perempuan dewasa. Mohon penjelasannya Ustadz wassalam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s