Formalin pada Makanan


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz, saya sering melihat tayangan di televisi kita yang membeberkan fakta bahwa sekarang banyak jenis makanan dan jajanan yang mengandung zat kimia, seperti formalin yang sangat berbahaya untuk dikonsumsi. Apa hukumnya menggunakan zat kimia seperti formalin itu dalam proses produksi makanan yang kemudian dijual untuk dikonsumsi orang banyak?

Suhart SPd — Jember

Jawaban :

Formalin termasuk bahan tambahan makanan yang sangat berbahaya dan dilarang berdasarkan SK Menkes RI Nomor 722 Tahun 1988 tentang Bahan Tambahan Makanan. Diterangkan di sini bahwa yang dimaksud pengawet adalah bahan tambahan makanan yang mencegah atau menghambat pengasaman atau peruraian lain terhadap makanan yang disebabkan oleh mikroorganisme.

Terdapat sembilan bahan tambahan yang dilarang digunakan dalam makanan, di antaranya asam borak, asam salisilat, dietilpirokarbonat, dulsin, kalium klorat, kloramfenikol, minyak nabati yang dibrominasi, dan formalin. Bagi tubuh manusia, formalin diketahui sebagai zat beracun, karsinogen ( menyebabkan kanker ), mutagen yang menyebabkan perubahan sel dan jaringan tubuh, korosif dan iritatif yang mengakibatkan kematian karena kegagalan peredaran darah.

Pada wanita, formalin akan menyebabkan gangguan menstruasi dan infertilitas. Allah dan Rasul-Nya memerintahkan semua manusia untuk mengonsumsi makanan yang halal lagi baik ( halalan thayyiban ). Semua demi kemaslahatan manusia itu sendiri, tapi selalu ada saja setan-setan dari kalangan jin dan manusia yang tidak menginginkan kebaikan dan kemaslahatan itu terjadi.

Syekh Muhammad al-Thahir bin ‘Asyur menjelaskan dalam kitab tafsirnya al-Tahrir wa al-Tanwir, yang dimaksud dengan makanan baik adalah yang tidak berbahaya, tidak berakibat buruk, dan tidak kotor menjijikkan, dan sebaliknya yang buruk itu adalah yang berbahaya, berakibat buruk atau kotor, dan menjijikkan.

Kaidah dasar hukum Islam yang berdasarkan hadis ditegaskan bahwa semua yang membahayakan manusia itu harus dihindari, baik dilakukan seseorang terhadap dirinya sendiri maupun membahayakan orang lain. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata bahwa Rasulullah bersabda, “Tidak ada bahaya dan tidak pula membuat bahaya.“ ( HR Ibnu Majah, Ahmad, Imam Malik, al-Baihaqi, dan al-Daruquthni ).

Para ulama berbeda pendapat soal makna dharar dan dhirar dalam hadis di atas. Sebagian mereka mengatakan, makna kedua lafaz itu sama dan hanya bersifat penegasan. Tetapi, kebanyakan ulama mengatakan maknanya berbeda. Sebagian menjelaskan, dharar maknanya dalam Islam itu tidak ada yang membahayakan manusia, dhirar maksudnya tidak boleh membahayakan diri sendiri dan orang lain.

Sedangkan ulama lainnya memaparkan, dharar artinya membahayakan orang yang tidak membahayakannya, sedangkan dhirar artinya membahayakan orang membahayakannya (dalam arti membalas). Dan, sebagian lain menjelaskan bahwa dharar maknanya membahayakan orang lain dan itu ada manfaat baginya, sedangkan dhirar, membahayakan orang lain tanpa ada manfaat baginya.

Pada intinya, Islam tidak membolehkan perkara-perkara yang membahayakan bagi diri sendiri ataupun orang lain. Berdasarkan penjelasan di atas, haram hukumnya memasukkan unsur formalin dalam makanan, haram menjual dan mengonsumsi makanan yang mengandung formalin, orang atau pedagang yang melakukan itu adalah pelaku dosa besar.

Mereka tergolong kelompok yang harus diperangi seperti halnya memerangi musuh. Pedagang makanan yang masih memasukkan formalin pada makanan atau minuman yang dijualnya berlaku zalim karena hanya demi keuntungan yang mungkin tidak seberapa, ia berani melakukan dosa dan menikmati harta haram yang didapat dari menipu dan berlaku jahat terhadap konsumennya.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang menghunuskan senjata kepada kami, kaum Muslimin, maka dia bukan bagian dari kami. Demikian pula, siapa saja yang menipu kami, kaum Muslimin, maka dia bukan bagian dari kami.“ ( HR Muslim ).

Untuk menghindari makanan berformalin terbiasalah mengonsumsi bahan makanan yang segar atau membuatnya sendiri jika memungkinkan. Agak rumit memang menghindarinya, tapi jika terbiasa dengan pola konsumsi sehat dan teratur, menghindari zat pewarna makanan yang berlebihan, dan teliti mengamati kandungannya, serta mencari yang berlabel halal, insya Allah kita dalam lindungan Allah. Wallahu a’lam bish shawab

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Sabtu, 9 Juni 2012 / 19  Rajab 1433 H

Gambar : Pos Kota

ΩΩΩ

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bachtiar Nasir, Fiqih and tagged , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s