Negara Agama


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz, belakangan ini para penyelenggara negara bahkan agamawan banyak yang ragu menjadikan agama sebagai landasan hidup berbangsa dan bernegara. Alasannya, Indonesia adalah negara demokrasi berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Indonesia bukanlah negara agama. Benarkah pernyataan seperti ini, Ustadz?

Fuad R — Solo

Jawaban :

Sila pertama Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 alinea keempat sangat tegas menjelaskan bahwa Indonesia adalah negara yang didasari agama, “Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada Ketuhanan Yang Maha Esa,“ dan seterusnya.

Kalau penyelenggara negara ini berjiwa kesatria dan jujur serta amanah mestinya mereka tak perlu ragu menegaskan Indonesia adalah negara yang berlandaskan nilai-nilai agama atau negara agama, dan tidak perlu berkecil hati atau takut dituduh dan dikecam sebagai fundamentalis atau merasa tidak pluralis serta kehilangan netralitasnya.

Ketika para pendiri bangsa menempatkan Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai sila pertama, tentunya mereka ingin menjadikan fondasi negara adalah nilai-nilai ketuhanan yang diatur dalam agama dan bukannya meniadakan unsur agama yang menjadikan negara ini sebagai negara kesetanan!

Kalau sejarah dapat diputar ulang dan sejarawan mau jujur, pekikan kata “Allahu Akbar“ senantiasa mengiringi slogan ‘merdeka ataoe mati’. Jika perut bumi Indonesia ini dibelah, darah para syuhada yang berjuang dengan dasar agama, khususnya Islam, mendominasi lumuran yang membasahi perut bumi persada nusantara ini.

Bahkan, dalam saptamarga TNI butir ketiga para prajurit TNI diperintahkan untuk bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. “Kami Kesatria Indonesia, yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta membela kejujuran, kebenaran, dan keadilan.” Hal itu dipertegas dalam sumpah prajurit dan delapan wajib TNI yang memulai sumpah mereka dengan menyebut ‘Demi Allah’.

Memang belakangan ini banyak penyelenggara negara ( legislatif, eksekutif, dan yudikatif ) bahkan ormas serta tokoh nasional Islam yang terserang penyakit kemunafikan kontemporer bernama relativisme. Ragu menolak Lady Gaga yang jelas membawa kemungkaran dan melanggar norma susila dan kearifan lokal masyarakat Indonesia. Membela bahkan memuji Irshad Manji, tokoh lesbian yang sakit jiwa itu.

Saat ini, kita saksikan bagaimana penyelenggara negara dan tokoh-tokoh nasional menyikapi paham kesetaraan gender yang akan diundang-undangkan, andai mereka mau berpikir sedikit saja tentang kata gender dan menjadikan sila pertama sebagai landasan analisisnya, mereka pasti akan menolak istilah yang dibawa oleh ideologi Marxisme dan  materialisme itu.

Apalagi, jika menggunakan kacamata akidah Islam, sungguh kesetaraan gender itu adalah paham haram yang bakal menghancurkan nilai-nilai kemanusiaan bukan hanya perempuan, melainkan lelaki juga. Karena, semangat paham ini adalah meniadakan kefemininan pada perempuan yang menjadi penyebab perempuan rela ditindas lelaki.

Para pendiri bangsa ini meyakini sepenuhnya kemerdekaan yang diperoleh bangsa Indonesia adalah atas berkat Rahmat Allah SWT, sebagaimana tertuang dalam pembukaan UUD 1945. Karena itu, kehancuran negara ini juga akan terjadi jika Allah mencabut rahmat-Nya dari negeri ini karena mayoritas penduduknya meninggalkan agama Allah. Wallahu a’lam bish shawab. ■

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Selasa, 5 Juni 2012 / 15  Rajab 1433 H

Gambar : Tribun Pontianak

ΩΩΩ

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bachtiar Nasir, Dunia Islam and tagged , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Negara Agama

  1. mustiko says:

    SAYA SETUJU PAK USTAD NAMUN KITA SEMUA HARUS TAAT PADA KEYAKINAN MASING2
    DAN UTUK HIDUP DINEGARA KITA HARUS BHINNEKA TUNGGAL EKA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s