Hak Waris Saudara Seibu


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Saya seorang janda ( suami meninggal dan telah memiliki seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan ) dinikahi seorang laki-laki ( duda tanpa anak ). Dari pernikahan tersebut, kami dikaruniai satu orang anak perempuan. Sekarang mereka sudah dewasa dan mapan. Sebagai tambahan informasi, suami saya yang kedua adalah adik kandung dari suami saya yang pertama. Suatu saat, jika anak perempuan saya ( dari suami pertama ) wafat, siapakah yang menjadi ahli warisnya?

Hamba Allah

Jawaban :

Merujuk pada ilustrasi di atas, jika anak perempuan dari suami pertama wafat, yang berhak menjadi ahli waris adalah ibu, saudara laki-laki sekandung ( anak laki-laki dari suami pertama ), saudara perempuan seibu ( anak perempuan dari suami kedua ), dan paman kandung ( adik suami pertama ).

Ibu mendapatkan seperenam karena pewaris ( si mayit ) meninggalkan beberapa saudara. Sebagaimana firman Allah SWT, “…jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, maka ibunya mendapat seperenam….“ ( QS an-Nisa [4] : 11 ).

Saudara laki-laki kandung mendapatkan ashabah karena pewaris tidak memiliki keturunan dan tidak ada ayah ( telah wafat terlebih dahulu ) atau disebut kalalah. Allah berfirman, ”…dan saudaranya yang laki-laki memusakai ( seluruh harta saudara perempuan ), jika ia tidak mempunyai anak.“ ( QS an-Nisa [4] : 176  ).

Saudara perempuan seibu mendapatkan 1/6 karena ia sendirian dan dalam kasus kalalah. Allah berfirman, “…Jika seseorang mati, baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak, tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki ( seibu saja ) atau seorang saudara perempuan ( seibu saja ), maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta.“ ( QS an-Nisa [4] : 12 )

Adapun paman kandung, ia terhijab oleh saudara laki-laki kandung.

 

 

 

 

 

 

Wallahu a’lam bish shawab

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Senin, 4 Juni 2012 / 14  Rajab 1433 H

Gambar : konsultasisyariah.com

ΩΩΩ

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bachtiar Nasir, Waris and tagged , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s