SMS Pinjaman Riba


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz, sekarang ini banyak pesan pendek ( SMS ) beredar yang menawarkan pinjaman cepat cair. Hanya dengan jaminan BPKPB motor atau mobil akan cair dalam satu jam. Proses yang cepat dibandingkan di bank konvensional maupun syariah membuat masyarakat tergiur. Bagaimana seharusnya umat Islam menyikapi pinjaman seperti itu, Ustadz?

Herman – Bekasi

Jawaban :

Tidak diragukan lagi bahwa pinjaman cepat cair yang sekarang banyak beredar atau kredit tanpa agunan di tengah masyarakat mayoritasnya adalah bentuk praktik rentenir dan riba, yang para pelakunya dilaknat Allah SWT. Karena, dalam praktiknya bunga pinjaman itu sangat tinggi dan berlipat ganda serta akad perjanjiannya berat sebelah. Pada akhirnya menyengasarakan peminjam.

Orang-orang yang menjalankan usaha rentenir seperti ini memanfaatkan kesusahan dan kebutuhan masyarakat untuk memperkaya diri sendiri. Mereka menutupi semua itu dengan seakan-akan memberikan bantuan dan jalan keluar bagi mereka yang membutuhkan. Namun pada akhirnya, pinjaman dna bunganya akan membuat peminjam terbelit utang dengan bunga tinggi.

Bisa dikatakan bahwa riba zaman sekarang ini lebih berbahaya dibanding masa lalu. Dahulu, seorang peminjam diharuskan membayar bunga jika dia tidak sanggup membayar utang pada waktunya. Tetapi sekarang ini, sebelum orang meminjam pun sudah ditentukan berapa bunga yang harus ditanggungnya. Allah dan Rasul-Nya dengan tegas telah mengharamkan riba bagi umat Islam.

Bahkan, para pelaku yang berhubungan dengan proses riba tersebut dilaknat. “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan ( meninggalkan sisa riba ), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan, jika kamu bertaubat ( dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak ( pula ) dianiaya.“ ( QS al-Baqarah [2] : 278-279 ).

Untuk itu, kepada masyarakat jangan mudah tergiur walau dalam keadaan terdesak sekalipun sebelum menyesal pada akhirnya. Kepada pelaku yang terlibat di dalamnya, baik penyebar informasi maupun perantaranya, ingatlah pesan Allah pada ayat di atas dan ayat, “Hai orang-orang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.“ ( QS Ali ‘Imran [3] : 130 ).

Rasulullah juga menegaskan dalam hadisnya. Diriwayatkan dari Jabir, ia berkata, “Rasulullah SAW melaknat pemakan harta riba, yang memberi makan orang lain dengan riba, penulis riba dan dua orang saksinya. Dan, ia mengatakan, ‘Mereka semua itu sama.’“ (HR Muslim).

Memang sangat disayangkan, di saat umat membutuhkan peranan bank syariah yang seharusnya menjadi benteng bagi umat dalam menghadapi sistem ekonomi riba, malah perbankan syariah kita belum berfungsi sebagaimana mestinya. Sehingga, belum dapat menjadi solusi bagi problem ekonomi umat. Mereka terkesan kurang sungguh-sungguh dalam menjalankan syariat di bidang ekonomi.

Produk dan cara operasional bank-bank syariah masih kental dengan pola-pola kapitalisme. Pendekatan ekonomi berbasis tauhidlah yang seharusnya mendasari praktik ekonomi bernuansa syariah agar perbankan syariah kita tidak terperangkap pola-pola kapitalisme .

Sebaliknya, kepada umat Islam juga harus selalu jujur dan amanah dalam memanfaatkan fasilitas yang diberikan oleh bank syariah. Sehingga, kedua belah pihak merasakan manfaat dari kerja sama tersebut. Dan, umat tidak lagi dieksploitasi oleh mereka-mereka yang hanya mencari keuntungan dan kesenangan pribadi dengan memanfaatkan kelemahan dan kebutuhan orang lain.

Wallahu a’lam bish shawab

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Jumat, 1 Juni 2012 / 11 Rajab 1433 H

Gambar : massaleh.blogspot.com

ΩΩΩ

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bachtiar Nasir, Fiqih and tagged , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s