Etika Menyampaikan Hadis Dhaif


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz, pada saat ini banyak sekali penceramah dan ustadz mengeluarkan hadis dhaif dalam ceramah dan pengajian mereka. Bahkan, ada juga yang menyebutkan hukum sesuatu ketika menjawab pertanyaan jamaahnya tanpa menyatakan apakah dalilnya itu ada dari Al-Quran atau perkataan ulama. Bagaimana kita menyikapi fenomena ini, Ustadz?

Abdullah

Jawaban :

Memang a da mubalig yang dengan keawamannya di bidang ilmu syariah sering berceramah tanpa dasar kuat dan mengatasnamakan Rasulullah. Untuk mereka ada ancaman dari Rasul. Diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amru, Nabi bersabda, “Sampaikanlah dariku walaupun hanya satu ayat dan ceritakanlah cerita-cerita dari Bani Israil dan tidak ada dosa. Dan, barang siapa berdusta atas namaku secara sengaja hendaklah dia menempati tempat duduknya di neraka.“ ( HR Bukhari ).

Hadis di atas membuat para sahabat Nabi tidak sembarangan meriwayatkan suatu hadis dan menisbahkannya kepada Rasulullah karena takut akan ancaman beliau. Memang ada pendapat yang mengatakan, boleh menyebutkan dan menggunakan hadis dhaif dalam masalah fadhail al-a’mal ( keutamaan-keutamaan amal ).

Tetapi, ada beberapa hal yang seharusnya diperhatikan umat Islam dalam masalah meriwayatkan hadis dhaif ini sehingga tidak menganggap remeh masalah meriwayatkan hadis dhaif. Pertama, pendapat itu bukanlah merupakan kesepakatan para ulama karena banyak juga ulama yang tidak setuju dengan pendapat tersebut.

Mereka mengatakan bahwa hadis dhaif tidak bisa dipakai dalam semua perkara, baik dalam masalah fadhail al-a’mal apalagi dalam masalah akidah dan hukum syariat. Di antara ulama yang berpendapat seperti ini adalah Yahya bin Ma’in, Bukhari, Muslim, al-Qhadhi Abu Bakar bin al-‘Arabi, Abu Syamah, dan Ibnu Hazm.

Kedua, jika dalam suatu masalah yang hendak disampaikan dan diajarkan kepada orang lain itu ada hadis sahih dan hadis hasan mengenainya maka sebenarnya kita tidak perlu lagi mengutip dan menggunakan hadis dhaif karena sudah cukup dengan hadis sahih dan hasan saja. Dan, hampir di semua masalah agama dan akhlak ada hadis sahih atau hasan yang membahasnya.

Tetapi, mungkin karena malas mencari dan tidak mau bersusah payah membuat seseorang menyebutkan dan menggunakan apa saja yang memang sudah terkenal dan sudah mereka hafal meskipun itu adalah hadis dhaif.

Ketiga, para ulama juga menegaskan bahwa hadis dhaif tidak boleh diriwayatkan dengan menggunakan shighat al-jazm ( lafaz yang tegas menunjukkan Nabi memang mengatakannya ). Seperti dengan menggunakan ungkapan qala, tapi harus menggunakan shigat al-tamridh ( lafaz yang tidak tegas ) seperti ungkapan ruwiya, dzukira, dan hukiya maka meriwayatkan hadis dhaif dengan menggunakan kata qala adalah sesuatu yang dilarang.

Keempat, para ulama yang membolehkan untuk meriwayatkan hadis dhaif dalam fadhail al-a’mal tidak membolehkannya begitu saja, tetapi mereka menetapkan batasan-batasan yang ketat, yaitu hendaknya hadis itu bukan hadis yang sangat lemah. Wallahu a’lam bish shawab

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Kamis, 31 Mei 2012 / 10 Rajab 1433 H

Gambar : kaifahal.com

ΩΩΩ

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bachtiar Nasir, Hadis and tagged , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s