Menggambar Nabi, Bolehkah?


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz, ada yang mengatakan bahwa dalil tentang larangan menggambar Nabi SAW itu tidak meyakinkan. Karena dalam kitab sirah serta tafsir-tafsir juga digambarkan sosok Nabi SAW.
Mohon penjelasannya ustadz.

Mawar S , Kalibata, Jakarta

Jawaban :

Penghinaan dan penistaan terhadap para Nabi dan Rasul Allah sudah berlangsung bukan hanya sejak masa jahiliah, bahkan sebelum datangnya Nabi Muhammad SAW sampai hari kiamat nanti. Namun, Rasulullah SAW tetap dan selalu mempunyai tempat serta kedudukan yang mulia di sisi Allah SWT, juga di dalam hati orangorang Mukmin. Allah ta’ala berfirman, “Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu.“ ( QS Al-Hasyr [94] : 4 ).

Bahkan, Allah SWT dan para malaikatnya bershalawat atas Nabi Muhammad SAW. Dan, Allah memerintahkan umat Islam untuk selalu bershalawat kepadanya, “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.“ ( QS Al-Ahzab [33] : 56 ).

Dalam hadisnya, Rasulullah SAW juga menjelaskan kemuliaan dan kedudukannya yang tinggi di sisi Allah SWT. Diriwayatkan dari Abu Sa’id, ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Saya adalah penghulu bani Adam pada hari kiamat, bukannya untuk membanggakan diri. Di tanganku terdapat bendera pujian, bukannya untuk membanggakan diri, dan tidak ada seorang Nabi pun pada hari itu, baik Adam maupun yang lain kecuali berada di bawah benderaku. Akulah orang yang pertama kali dibangkitkan ( dari kubur ) bukannya untuk membanggakan diri’.“ ( HR Tirmidzi ).

Adalah wajib bagi umat Islam untuk menghormati, mencintai, dan mengagungkan beliau sesuai dengan tuntunannya dengan tidak berlebih-lebihan. Dan, jika ada yang berani di kalangan umat Islam yang menghina, merendahkan, dan mengolok-olokkan Nabi SAW, berarti ia telah kafir.

Allah SWT telah berfirman, “Dan jika kamu tanyakan kepada mereka ( tentang apa yang mereka lakukan itu ), tentulah mereka akan manjawab, ‘Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.’ Katakanlah, ‘Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?’ Tidak usah kamu minta maaf karena kamu kafir sesudah beriman.“ ( QS at-Taubah [9] : 65-66 ).

Diriwayatkan dari Anas bin Malik, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Tidak sempurna iman seseorang sehingga kau menjadi lebih dicintainya daripada anaknya, orang tuanya, dan seluruh manusia.” ( HR Muslim ).

Dasar hukum pelarangan menggambar sosok Nabi SAW ialah telah banyak fatwa kontemporer yang dikeluarkan oleh institusi fatwa di dunia Islam, seperti Universitas al-Azhar, Majma’ al-buhuts al-Islamiyyah,  dan majelis fatwa Mesir di Kairo, Mesir.

Begitu juga, Majma’ al-fiqh al-Islami yang merupakan kumpulan ulama dari seluruh dunia Islam yang tergabung dalam Organisasi Konferensi Islam. Hukum pengharaman menggambar Nabi SAW ini telah menjadi konsensus ( ijma’ ) para ulama. Sedangkan dalil atau dasar pengharaman itu, antara lain:

Pertama, menggambarkan sosok Nabi SAW tidak akan pernah menyerupai persis bentuk aslinya. Oleh karena itu, dengan menggambarkan sosok beliau berarti telah berdusta tentang beliau, dan berdusta tentang Rasulullah SAW. Ini adalah haram sesuai dengan sabda beliau dalam hadis yang mutawatir.

“Barang siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja maka hendaklah dia mempersiapkan tempat duduknya di neraka.” ( HR Bukhari dan Muslim ).

Kedua, ketidaktelitian atau ketidakhati-hatian dalam menggambar atau melukiskan beliau akan menyakiti Nabi SAW. Itu hukumnya haram sesuai dengan firman Allah SWT. “Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya. Allah akan melaknatinya di dunia dan akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan.” (QS al-Ahzab [33]: 57).

Ketiga, menggambar atau melukiskan sosok Nabi SAW mengandung banyak kerusakan dan bahaya yang besar terhadap umat Islam dari segi akidah dan keyakinan umat.

Mengenai penggambaran sosok Nabi SAW dalam hadis-hadis yang berkaitan dengan bentuk fisik dan sifat beliau, bukanlah merupakan bentuk dusta tentang beliau karena memang demikianlah sifat beliau, sebagaimana yang disebutkan para sahabat dalam hadis-hadis tersebut.

Tetapi, ketika digambarkan dalam bentuk lukisan maka itu menjadi berbeda karena sudah dalam bentuk visual yang pastinya tidak akan sama dengan bentuk aslinya. Penggambaran dalam bentuk verbal tidak menimbulkan bahaya, sebagaimana ditimbulkan dalam bentuk visualnya. Coba perhatikan bahaya penggambaran Yesus dan patung-patung yang dipahat sebagai nabi dan tuhan.

Ini mengenai hukum sekadar menggambar Nabi SAW tidak dengan tujuan menghina, merendahkan, atau mencela. Adapun, jika menggambar itu disertai dengan tujuan-tujuan buruk, orang yang melakukannya berarti telah kafir, keluar dari Islam. Wallahu a’lam bish shawab

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Rabu, 30 Mei 2012 /9 Rajab 1433 H

Kaligrafi : http://www.islamicity.com/

 ΩΩΩ

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Aqidah, Bachtiar Nasir, Fiqih and tagged , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s