Menasihati Pemimpin yang Bengal


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz, kalau kita lihat pemimpin-pemimpin kita sekarang, baik yang duduk di lembaga eksekutif, legislatif, maupun yudikatif kian hari semakin jauh dari keinginan dan harapan rakyat yang mereka pimpin. Di satu sisi, rakyat menginginkan mereka dengan sungguh-sungguh memikirkan dan mengusahakan kesejahteraan, keamanan, keadilan serta melindungi rakyat mereka dalam menjalankan agama dan ajarannya. Tetapi, para pemimpin kita malah melakukan yang sebaliknya dengan hanya memikirkan kepentingan dan kesenangan pribadi atau kelompok mereka.

Kekacauan dibiarkan dan hukum dipermainkan yang hanya berlaku bagi rakyat jelata. Penghancuran ajaran, nilai, dan norma agama dengan secara sengaja dibiarkan berlaku, seperti paham liberalisme, pluralisme, sekularisme, satanisme, feminisme, dan isme-isme lainnya yang bertentangan dengan ajaran agama, norma, etika, adat, dan kearifan lokal bangsa Indonesia.

Bagaimana sikap kita sebagai umat Islam terhadap pemimpin seperti itu, Ustadz ? Dan, bagaimana kita menjalankan kewajiban amar makruf nahi munkar kita untuk mengingatkan pemimpin?

Maulavi AK

Jawaban :

Tabiat umum penguasa adalah sombong dan kejam. Sementara, efek kejahatan yang dilakukan seorang pemimpin sangat besar dan berbahaya dibanding sejuta demonstran. Perhatikan bagaimana kehancuran umat masa lalu yang dimusnahkan Allah akibat kemungkaran pemimpinnya. Seperti Jalut, Abrahah, Firaun, dan lainnya. Perhatikan berapa korban yang ditimbulkan kejahatan pemimpin dalam peristiwa Arab Spring baru-baru ini di Tunisia dan Libya. Kemudian saat ini, kekejaman yang dilakukan pemimpin di Suriah.

Karena itu, menasihati dan memperingatkan pemimpin yang bengal di Indonesia juga sangat penting dan besar manfaatnya. Al-Quran menjelaskan bahwa umat bangsa ini hanya akan mulia jika menjalankan kewajiban amar makruf nahi mungkar serta senantiasa beriman dengan menegakkan perintah dan menjauhi larangan-Nya.

Allah SWT telah menegaskan dalam firman-Nya, “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” ( QS. Ali ‘Imran [3] : 110 ).

Rasulullah SAW juga menekankan kepada umatnya untuk melakukan kewajiban itu dan tidak melalaikannya meskipun hanya dengan membenci kemungkaran tersebut walau hal itu adalah selemah-lemahnya iman.

Rasulullah SAW menegaskan dalam sabdanya, diriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri, ia berkata, “Pada suatu Hari Raya, Marwan mengeluarkan mimbar, kemudian memulai dengan khotbah sebelum sholat Ied. Maka, seorang laki-laki mengingatkannya dengan berkata, ‘Wahai Marwan, engkau telah menyalahi sunah dengan mengeluarkan mimbar pada hari ini yang sebelumnya tidak pernah dikeluarkan dan engkau memulai dengan khotbah sebelum shalat dan itu tidak pernah dilakukan.’ Abu Sa’id lalu berkata, ‘Laki-laki ini telah menjalankan kewajibannya, saya telah mendengar Rasulullah SAW bersabda, barang siapa di antara kamu yang melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya, jika tidak mampu hendaklah ia mengubahnya dengan lisannya, jika tidak mampu hendaklah ia mengubahnya dengan hatinya dan itulah keimanan yang paling lemah.’” ( HR Muslim, Tirmizi, Ibnu Majah, al-Nasa’i, Abu Daud, dan Ahmad ).

Beramar makruf saja tidak cukup tanpa nahi mungkar. Karena, tanpa mencegah kemungkaran maka amar maruf akan kehilangan makna. Sebagaimana tidak melarang orang yang membocorkan perahu maka seluruh nakhoda dan penumpangnya akan tenggelam. Apalagi, jika kemungkaran itu dilakukan oleh pemimpin maka dampak kerusakan yang ditimbulkannya akan sangat lebih berbahaya, Rasulullah SAW bersabda, “Jihad yang paling utama ialah mengatakan kalimat yang haq ( kebenaran ) kepada penguasa yang zalim.” ( HR Abu Daud, Ibnu Majah dan Tirmizi ).

Nabi SAW juga mengatakan bahwa jika tidak ada lagi dari suatu umat yang berani mengatakan kepada penguasa atau orang yang berbuat zalim bahwa ia telah berbuat zalim maka tidak ada lagi yang bisa diharapkan dari umat tersebut.

Wallahu a’lam bish shawab

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Senin, 28 Mei 2012 / 7 Rajab 1433 H

Gambar : http://www.merdeka.com

ΩΩΩ

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Akhlak, Bachtiar Nasir, Fiqih and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s