Beda Pilihan dengan Organisasi


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz, bolehkah suatu organisasi dakwah atau gerakan politik mengharuskan anggotanya dalam pemilihan umum atau pilkada untuk memilih calon tertentu, dan apakah wajib bagi anggota organisasi itu untuk mematuhinya?

Hamba Allah

Jawaban :

Struktur sosial Islam akan kokoh jika dibangun berdasarkan pesan Rasulullah bahwa para ulama adalah pewaris para Nabi. Sebab, merekalah orang yang dikaruniai Allah pengetahuan dan kemampuan mengambil keputusan yang mendekati nilai kebenaran Ilahiah. Mengikuti arahan ulama yang takut pada Allah dengan ilmunya bagai berjalan di bawah cahaya bulan di gelap malam penuh bintang.

Pada dasarnya, untuk konteks Indonesia saat ini, secara syar’i tidak ada kewajiban bagi seorang Muslim mengikuti dan menaati keputusan atau arahan organisasi atau gerakan politik, saat ia menjadi anggotanya untuk memilih salah satu calon presiden dalam pemilihan umum ataupun memilih gubernur, bupati, atau wali kota dalam pilkada.

Yang menjadi kewajiban warga negara yang baik adalah memilih calon paling cocok dan tepat untuk jabatan tersebut. Selain itu, calon itu diyakini paling mampu membawa kesejahteraan dan kemakmuran bagi rakyat. Sebab, orang itu memiliki kapasitas ilmu dan rasa adil serta jejak rekam yang jelas meskipun pilihannya itu, bertentangan dengan arahan atau pilihan organisasi atau partainya.

Muslim seharusnya berusaha selalu bersama kebenaran, baik kebenaran itu ada di organisasinya maupun organisasi atau partai lain. Ia tidak boleh fanatik buta dengan selalu membela organisasinya kalau organisasinya itu jelas berada dalam kebatilan.

Allah menegaskan dalam firman-Nya, “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.“    ( QS al`Ashr [103] : 1-3 ).

Dalam tafsir al-Azhar-nya, Buya Hamka menjelaskan makna surat al-`Ashr ini bahwa orang yang tidak merugi adalah orang meyakini kebenaran, mengamalkan kebenaran itu, mengajak kepada kebenaran, dan bersabar dalam kebenaran. Allah juga memerintahkan kita selalu tolong-menolong dalam kebaikan dan di jalan ketakwaan serta melarang kita tolong-menolong dalam perbuatan dosa dan kezaliman.

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam ( mengerjakan ) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan, bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.“ ( QS al-Maidah [5] : 2 ).

Ikut serta dalam pemilu, menurut sebagian ulama adalah salah satu bentuk kesaksian individu ketika setiap orang akan dimintai pertanggungjawabannya secara individu terhadap kesaksiannya.

Sesuai kaidah fikih, kepentingan umum diutamakan dan didahulukan dibanding kepentingan pribadi atau kelompok. Maka itu, seharusnya yang menjadi acuan dan dasar dalam memilih seorang presiden atau pemimpin daerah adalah mengutamakan kepentingan negara atau daerah, daripada kepentingan pribadi atau kelompok.

Bisa jadi pendapat organisasi atau partai adalah berdasarkan kepentingan kelompok tertentu, yang ingin berkuasa dan bukan untuk kepentingan negara atau daerahnya. Maka itu, boleh bagi seseorang yang berpandangan demikian untuk tidak mengikuti arahan organisasi atau partainya.

Tetapi, harus dipahami, jangan sampai perbedaan dengan organisasi sekadar karena ingin berbeda. Jika seseorang berpandangan arahan dan keputusan organisasinya adalah pendapat yang benar, hendaklah ia mengikutinya. Apalagi, jika berkaitan dengan organisasi dakwah, hendaknya keberpihakan kepada agama Allah dan tegaknya nilai-nilai Ilahiah harus diutamakan untuk ditaati. Wallahu a’lam bish shawab ■

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Selasa, 22 Mei 2012/1 Rajab 1433 H

Ilustrasi : http://stisforkas.blogspot.com

ΩΩΩ

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bachtiar Nasir, Dunia Islam, Fiqih and tagged , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s