Suap untuk Kegiatan Sosial


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz, saya mendengarkan kajian yang disampaikan seorang ulama. Beliau membahas masalah hukum suap. Dari hasil kajian, dapat diambil dua kesimpulan. Kesimpulan pertama, menurut pendapat ulama salaf, suap-menyuap hukumnya haram. Kedua, menurut ulama kholaf (sekarang), suap-menyuap diperbolehkan selama memenuhi beberapa kriteria, yaitu hasil suap digunakan untuk kegiatan sosial, yang mengajukan suap benar-benar memerlukan dana, dan hasil suap penggunaannya lebih banyak manfaat daripada mudharatnya. Bagaimana pandangan, Ustadz?

Hamba Allah

Jawaban :

Diriwayatkan dari Abdullah bin Amru, ia berkata, “Rasulullah melaknat pemberi suap dan penerima suap.“ ( HR Ahmad, Adu Daud, Ibnu Majah, Tirmizi, al-Hakim, dan al-Baihaqi ).
Para ulama bersepakat, suap-menyuap diharamkan dan merupakan dosa besar yang pelakunya mendapatkan laknat dari Rasulullah.

Allah SWT menegaskan hal itu dalam Al-Quran, “Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil dan ( janganlah ) kamu membawa ( urusan ) harta itu kepada hakim supaya kamu dapat memakan sebagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.“ ( QS al-Baqarah [2]: 188 ).

Dalam ayat lain Allah menyatakan, “Mengapa orang-orang alim mereka, pendeta-pendeta mereka tidak melarang mereka mengucapkan perkataan bohong dan memakan yang haram? Sesungguhnya, amat buruk apa yang telah mereka kerjakan itu.“ ( QS al-Maidah [5] : 63 ). Imam al-Thabari dalam tafsirnya menjelaskan, yang dimaksud memakan yang haram dalam ayat di atas adalah risywah ( suap-menyuap ).

Adapun yang dibolehkan oleh jumhur ulama adalah memberikan suap untuk mendapatkan haknya atau untuk mencegah kezaliman atas dirinya. Dan, ini hanya dibolehkan bagi yang memberi sedangkan bagi yang menerima suap tersebut maka hukumnya tetap haram dan tidak ada seorang pun ulama yang membolehkannya.

Jadi, syarat untuk dibolehkannya seseorang membayar suap kepada seseorang, pertama, dia membayarnya untuk mendapatkan haknya atau untuk mencegah kezaliman atas dirinya, sedangkan jika ia membayarnya untuk mengambil yang bukan haknya, itu merupakan dosa besar. Kedua, tidak ada jalan lain untuk mendapatkan hak atau mencegah kezaliman itu kecuali melalui suap tersebut.

Sebagai umat Islam yang menjadikan Al-Quran dan sunah Nabi Muhammad SAW sebagai pegangan hidup kita, tentunya kita selalu mengembalikan segala sesuatu kepada keduanya agar hidup kita selamat di dunia dan di akhirat. Bukan sebaliknya, mengacu pada pendapat orang yang bertentangan dengan keduanya.

Selama pendapat para ulama itu ada dalilnya dan tidak bertentangan dengan Al-Quran dan sunah, kita boleh mengikutinya, tapi sebaliknya, jika bertentangan, kita tidak boleh mengikutinya. Para ulama Islam juga selalu menegaskan bahwa umat Islam harus selalu berpegangan kepada Al-Quran dan sunah.

Imam Syafii mengatakan, “Jika suatu hadis itu sahih, itulah mazhabku.“ Dan, Imam Malik menegaskan, “Setiap orang ucapannya bisa diambil atau ditinggalkan, kecuali orang yang ada di dalam kubur ini sambil menunjuk ke arah kuburan Nabi Muhammad SAW.“ Wallahu a’lam bish shawab

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Senin, 14 Mei 2012/22 Jumadil Akhir 1433 H

Gambar : surabaya-metropolis.com

ΩΩΩ

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Akhlak, Bachtiar Nasir, Fiqih, Muamalah and tagged , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s