Pernikahan Seorang Muslim dengan Non-Muslim


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz, seorang teman bertanya apa hukumnya bila laki-laki Muslim menikah dengan perempuan non-Muslim?

Hamba Allah

Jawaban :

“Wanita dinikahi karena empat hal, yaitu karena hartanya, kemuliaannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka, pilihlah karena agamanya maka engkau akan beruntung.“ ( HR Bukhari dan Muslim ). Perlu diketahui dulu bahwa haram hukumnya bagi laki-laki Muslim menikahi perempuan kafir dan musyrik penyembah berhala, ateis ( tidak bertuhan ), dan perempuan murtad.

Sebab, tidak mungkin ada titik temu antara akidah tauhid murni dan akidah musyrik, penyembah berhala, atau yang tidak mempercayai adanya Tuhan sama sekali. “Dan, janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang Mukmin lebih baik dari wanita musyrik walaupun dia menarik hatimu. Dan, janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik ( dengan wanita-wanita Mukmin ) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang Mukmin lebih baik dari orang musyrik walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka sedangkan Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan, Allah menerangkan ayat-ayat-Nya ( perintah-perintah-Nya ) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.“ ( QS al-Baqarah [2]: 221) .

Tetapi, ada pengecualian dari hukum umum di atas, di mana menurut jumhur ulama dibolehkan bagi laki-laki Muslim menikahi perempuan ahli kitab ( kaum Yahudi dan Nasrani ) yang baik dan menjaga kehormatannya. Meskipun dibolehkan, tapi kebanyakan ulama menjelaskan bahwa meninggalkannya adalah lebih baik.

Adapun dalil dibolehkannya adalah berdasarkan apa yang ditegaskan dalam Al-Quran. “Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. Makanan ( sembelihan ) orang-orang yang diberi Alkitab itu halal bagimu dan makanan kamu halal ( pula ) bagi mereka. ( Dan dihalalkan mangawini ) wanita yang menjaga kehormatan di antara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Alkitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar mas kawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak ( pula ) menjadikannya gundik-gundik. Barang siapa yang kafir sesudah beriman ( tidak menerima hukum-hukum Islam ) maka hapuslah amalannya dan ia di hari kiamat termasuk orang-orang merugi.“ ( QS al-Maidah [5]: 5 ).

Dan, diriwayatkan bahwa Huzaifah bin al-Yaman, Utsman bin Affan, dan Thalhah bin Ubaidillah telah menikahi perempuan ahli kitab. Namun, seorang Muslim yang ingin menikah dengan perempuan ahli kitab harus memperhatikan syarat-syarat yang mesti dipenuhi agar ia dapat menikahi perempuan ahli kitab tersebut.

Syarat itu adalah perempuan itu harus panganut Yahudi atau Nasrani yang meyakini agamanya bukan orang yang ateis, keluar dari agamanya atau yang tidak beragama. Ia harus perempuan baik-baik yang menjaga kehormatannya bukan perempuan yang memerangi dan memusuhi Islam dan tidak ada fitnah.

Tapi, ada kemungkinan mudarat dari pernikahan itu. Semakin banyaknya laki-laki Muslim yang ingin menikah dengan perempuan ahli kitab, menyebabkan banyaknya perempuan Muslimah yang tidak menikah. Ditakutkan kepemimpinan dalam keluarga itu bukan di tangan laki-laki sebagaimana yang ditetapkan dalam Al-Quran, baik karena peraturan dan undang-undang negara maupun adat istiadat daerahnya.

Maka, agar selamat dan demi kehati-hatian, lebih baik seorang Muslim tidak menikahi perempuan ahli kitab karena sulitnya untuk memenuhi syarat-syaratnya dan karena banyaknya mudarat yang akan timbul karena perkawinan beda keyakinan tersebut. Rasulullah menganjurkan menikahi Muslimah saja yang baik agamanya dan salihah.

Hal itu juga sesuai dengan fatwa MUI dalam Musyawarah Nasional II pada 1980 yang mengharamkan pernikahan beda agama ini karena mafsadahnya lebih besar dari manfaatnya. Wallahu a’lam bish shawab

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Rabu , 16 Mei 2012 / 24 Jumadil Akhir 1433 H

Judul asli : Nikah Beda Agama

Gambar : cover buku ( doldolan.com )

ΩΩΩ

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bachtiar Nasir, Fiqih, Keluarga, Pernikahan and tagged , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s