Menyebarkan Aib Mayat


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz, dalam peristiwa musibah kecelakaan jatuhnya pesawat Shukoi baru-baru ini, jenazah para korban itu banyak yang tubuhnya tidak utuh lagi dan ada yang hangus terbakar. Sekarang ini, beredar di internet foto-foto jenazah korban dan sungguh sangat disayangkan terkadang menjadi ajang membuka aib para korban. Bagaimana hukumnya orang yang melakukan hal itu dan apa saja hak mayat? — Muhsin G, Jakarta

Jawaban :

Hak seorang Muslim atas Muslim lainnya ada enam. ( Para Shahabat bertanya ), “Apa saja wahai Rasulullah?“ Beliau bersabda, “Apabila engkau berjumpa dengannya ucapkanlah salam. Bila ia mengundangmu, penuhilah undangannya. Bila ia meminta nasihat, nasihatilah. Apabila ia bersin lalu ia mengucapkan alhamdulillah maka doakanlah ( dengan ucapan yarhamukallaah ). Bila ia sakit, jenguklah. Dan, apabila ia wafat, antarkanlah jenazahnya ( ke pemakaman ).“ ( HR Muslim ).

Keseimbangan syariat hubungan sosial dalam Islam bukan hanya mengatur hubungan antara sesama manusia yang masih hidup saja, tetapi juga memberikan tuntunan mulia dalam hubungan kepada mayat saudaranya.

Hal pertama yang harus dilakukan adalah bertakziyah. Diriwayatkan dari Abdullah bin Abi Bakr bin Muhammad bin ‘Amru bin Hazm dari ayahnya dari kakeknya bahwasanya Nabi Muhammad bersabda, “Tidak ada seorang Mukmin pun yang bertakziyah kepada saudaranya yang tertimpa musibah, kecuali Allah SWT pasti memberinya pakaian dengan pakaian kemuliaan pada hari kiamat.“ ( HR Ibnu Majah ).

Sedangkan, mengenai kewajiban seorang Muslim terhadap suadaranya yang meninggal, Rasulullah mengajarkan umatnya untuk memandikan, mengafani, menyalatkan mayat saudaranya sesama Muslim itu, mengantarkan ke kuburannya serta menguburkannya. Diriwayatkan dari Ummu ‘Athiyyah, ia berkata, “Ketika salah satu putri Nabi wafat, beliau keluar seraya berkata, `Mandikanlah dengan mengguyurkan air yang dicampur dengan daun bidara tiga kali, lima kali, atau lebih dari itu jika kalian anggap perlu dan jadikanlah yang terakhirnya dengan kapur barus (wewangian) atau yang sejenis dari kapur barus (kamper). Dan, bila kalian telah selesai beritahu aku.’” Berkata Ummu `Athiyyah, “Ketika kami telah selesai, kami memberi tahu beliau kemudian beliau memberikan kain, seraya berkata, `Pakaikanlah ini kepadanya.’“ ( HR Bukhari ).

Betapa besar kebaikan orang yang memuliakan mayat saudaranya sehingga dijanjikan pahala oleh Allah seumpama dua gunung besar. Abu Hurairah mengatakan, Rasulullah bersabda, “Barang siapa menyaksikan jenazah hingga dishalatkan, dia mendapat satu qirath dan barangsiapa yang menyaksikan hingga jenazah itu dikuburkan, dia mendapatkan dua qirath. Kemudian beliau ditanya, apakah yang dimaksud dengan dua qirath itu? Beliau menjawab,`Seperti dua gunung besar.“ ( HR Bukhari ).

Disamping itu, Rasulullah juga mengajarkan kepada umatnya ketika menguburkan mayat atau jenazah saudaranya sesama Muslim agar memintakan ampun dan mendoakan si mayat agar diteguhkan oleh Allah. Diriwayatkan dari Usman bin Affan, ia berkata, “Rasulullah melewati suatu pemakaman jenazah, Rasulullah bersabda, “Mintakanlah ampunan bagi sahabat kalian dan berdoalah agar dia diteguhkan Allah karena sekarang dia sedang ditanya.“ ( HR  Ahmad, Abu Daud, al-Hakim, dan al-Baihaqi ).

Itulah seharusnya yang kita lakukan sebagai Muslim dan bukan malah menjadikan musibah yang menimpa saudara-saudara kita sebagai bahan lelucon atau menjadikan itu sebagai ajang untuk menjelekkan atau menyebarkan aib mereka. Rasulullah mengajarkan kepada umatnya untuk berusaha menutup aib saudara-saudaranya sehingga tidak tersebar di tengah masyarakat.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Nabi bersabda, “Barangsiapa yang menutupi aurat saudaranya sesama Muslim, Allah akan menutupi auratnya pada hari kiamat dan barangsiapa yang membuka aurat saudaranya sesama Muslim, Allah akan membuka auratnya hingga Allah akan membukakan auratnya di dalam rumahnya.“ (HR Ibnu Majah). Wallahu a’lam bish shawab

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Jumat, 18 Mei 2012/26 Jumadil Akhir 1433 H

Foto : metrotvnews.com

ΩΩΩ

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Akhlak, Bachtiar Nasir, Fiqih, Muamalah and tagged , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s