Gunung Salak Angker?


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Gunung Salak ( foto : id.wikipedia.org)

Ustadz, dengan musibah kecelakaan Pesawat Sukhoi di Gunung Salak beberapa hari yang lalu ini, timbul berbagai macam spekulasi tentang apa penyebab jatuhnya pesawat buatan Rusia itu, di antaranya, ada yang menganggap Gunung Salak itu seperti segitiga bermuda, ada juga yang mengatakan bahwa Gunung Salak itu sangat angker sehingga banyak terjadi kecelakaan di daerah tersebut dan banyak kendaraan yang hilang di sana. Bagaimana seharusnya kita sebagai Muslim yang bertauhid menyikapi hal tersebut, Ustadz?

Mahfuzh

Jawaban :

Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan ( tidak pula ) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab ( Lauhul Mahfuzh ) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. ( QS al-Hadid [57]: 22 ).

Apa pun kata dukun dan paranormal tak lebih dari asumsi dan dugaan belaka. Asumsi mereka adalah bohong walau terkesan benar, yang fakta adalah apa yang sudah ditetapkan Allah dalam rencana-Nya sebelum dunia dan para dukun ada. Semua musibah yang menimpa adalah kehendak dan izin Allah yang terkait dengan perilaku manusia, alam hanya merespons perilaku manusia sesuai kehendak dan izin Allah.

Rasulullah SAW memberikan bimbingan terbaik dalam menyikapi fenomena alam yang diluar jangkauan akal manusia dengan memperkuat kepasrahan ( tawakal ) kepada Allah. Jangan terburu-buru berasumsi apalagi dengan cara pandang mistis. Tawakal juga dapat menyembuhkan penyakit jiwa yang cenderung berprasangka negatif.

Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud dari Rasulullah SAW , beliau bersabda, “Beranggapan sial adalah kesyirikan, beranggapan sial adalah kesyirikan.“ Beliau menyebutnya sampai tiga kali. Kemudian Ibnu Mas’ud berkata, “Tidak ada seorang pun yang bisa menghilangkan sangkaan jelek dalam hatinya. Tetapi Allahlah yang menghilangkan anggapan sial tersebut dengan tawakal.“ ( HR Abu Daud, Ibnu Majah, Tirmizi, Ahmad, al-Baihaqi, dan Bukhari dalam al-adab al-mufrad ).

Cara tepat menyikapi maraknya isu-isu mistis di sekitar kita adalah dengan tegas mengatakan, apa yang menimpa kami adalah sesuatu yang telah ditetapkan Allah dan Allah saja pelindung kami. ( QS at-Taubah [9]: 51 ).

Adapun mengenai angkernya suatu tempat atau lebih umum lagi beranggapan bahwa suatu tempat, suatu waktu, angka, atau benda tertentu akan mendatangkan kesialan atau musibah bagi seseorang maka itu dalam istilah Islam disebut Thiyaroh atau Tathoyyur (beranggapan sial). Dan, sikap syirik ini akan menyebabkan kita jatuh kepada perkara yang sangat dibenci Allah SWT bahkan merupakan dosa yang tidak akan diampuni oleh Allah SWT jika pelakunya tidak bertaubat.

Diriwayatkan dari Anas bin Malik ra bahwasanya Nabi SAW bersabda, “Tidak dibenarkan menganggap penyakit menular dengan sendirinya ( tanpa ketentuan Allah ) dan tidak dibenarkan beranggapan sial. Dan, aku menyukai al fa’lu ( optimisme )“. Para sahabat bertanya, “Apa itu al fa’lu ?“ Nabi menjawab, “Kalimat yang baik ( thayyib ).“ ( HR Bukhari dan Muslim ).

Oleh karena itu, sebagai seorang Muslim seharusnya kita menggunakan cara pandang kita sebagai orang yang beriman kepada Allah SWT. Menggunakan akal kita yang merupakan nikmat dari Allah SWT untuk melihat dan menyikapi berbagai peristiwa dan fenomena yang terjadi. Kita tidak boleh percaya begitu saja kepada mitos atau khurafat yang akan menyebabkan kita jatuh kepada dosa syirik.

Kita harus menyerahkan segala sesuatunya kepada ahlinya untuk menyelidiki penyebab suatu musibah atau kecelakaan itu terjadi sehingga kita dapat mengetahui dan mengerti penyebab kecelakaan itu, apakah itu kesalahan teknis, human error, keadaan cuaca, atau karena fenomena alam ( sunnatullah ). Dan, kita tidak terjebak kepada perbuatan syirik yang menjadi tujuan dari segala usaha dan upaya setan menggoda umat manusia. Wallahu a’lam bish shawab ■

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Sabtu, 19 Mei 2012/27 Jumadil Akhir 1433 H

ΩΩΩ

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Aqidah, Bachtiar Nasir and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s