Gaji dari Non-Muslim


Oleh : KH. Athian Ali M. Da’i

KH Athian Ali M. Da’i, MA

Dalam kaitan hubungan sosial kemasyarakatan, tentu Muslim dan non-Muslim terjadi interaksi sosial. Yang menjadi ganjalan saya selama ini, saat ini saya bekerja di sebuah perusahaan yang pemiliknya non-Muslim. Yang saya tanyakan, halalkah perolehan upah atau gaji saya selama ini ? Mohon penjelasan Pak Kiai .

Teten, Cirebon

Jawaban:

Manusia adalah makhluk sosial. Karena itu, untuk dapat mencapai dan memenuhi kebutuhan hidup, masing-masing individu memiliki ketergantungan pada yang lain. Sebagai contoh sederhana, katakanlah, hanya untuk sekadar makan nasi saja, terkadang seseorang membutuhkan keberadaan orang lain yang mau mengolah tanah, menanam padi, menuainya pada saat panen, menumbuknya dan seterusnya. Bahkan, terkadang masih membutuhkan pula tenaga orang lain untuk menyuapinya.

Karena manusia makhluk sosial, maka kita saksikan betapa besar perhatian Islam, terhadap aspek-aspek soaial dengan banyaknya aturan yang ditetapkan baik dalam Al-Quran maupun Sunnah Rasul, baik secara implisit maupun eksplisit, menuntun umatnya agar bekerja sama, bergotong-royong, bahu-membahu dalam upaya mencapai tujuan bersama menggapai kehidupan yang baik, sejahtera lahir-batin.

Dari sekian banyak ayat Al-Quran berkenaan dengan masalah ini, kita simak salah satu firman Allah SWT yang menyatakan, “… Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa dan janganlah tolong menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.” ( Al-Maidah : 2 )

Tegas sekali ayat tersebut menyatakan bahwa setiap orang berkewajiban untuk saling membantu, saling tolong satu sama lain dalam segala hal yang kiranya dapat menghasilkan kebajikan, kemanfaatan dan ketakwaan pada Allah SWT. Bukan bahu-membahu dalam berbuat dosa dan pelanggaran.

Kendati sasaran yang dituju oleh ayat tersebut adalah orang-orang mu’min karena diawali dengan firman Allah SWT, “Hai orang-otang yang beriman” ( lihat awal ayatnya ), namun tidaklah harus diartikan bahwa tolong-menolong tersebut hanya berlaku di antara sesama mu’min saja, tapi juga dengan orang non-mu’min sepanjang tidak menyimpang dari tujuan, yakni tercapainya kebaikan dan takwa, bukan dosa dan pelanggaran ( Al-Mumtahanah : 7 – 9 ).

Dari semua itu, dapat ditarik kesimpulan bahwa Akhi  sama sekali tidak dilarang Islam untuk bekerja pada orang non-Muslim sepanjang Akhi dan yang bersangkutan kerjakan adalah pekerjaan halal, yang baik dan dapat memberi manfaat yang baik. Wallahu a’lam bish-shawab

Sumber : Konsultasi Ulama, Suara Islam, Edisi 35, 4 – 17 Januari 2008 / 25 Dzulhijjah 1428 – 8 Muharram 1429 H

  • KH Athian Ali M. Da’i, MA,  kini Ketua Forum Ulama Umat Indonesia ( FUUI )

 ΩΩΩ

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Akhlak, Athian Ali M. Da'i, Muamalah and tagged , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Gaji dari Non-Muslim

  1. الرجل says:

    SaLAM. ANA juga merasa ganjil untuk menerima gaji dari non MuSLiMiYN. ShyuKRan uraiannya

  2. Agus taufiq says:

    Assalamualaikum.pak kiyai.saya mau tanya.jika teman saya mau pinjam uang dgn saya dan uang tersebut akan di belikan gitar buat kegereja. Apa hukumnya pak kiayi.assalamualaikum.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s