Bagaimana Status Perceraian Jika dalam Masa ‘Iddah Melakukan Hubungan Suami-Istri ?


Oleh : Ustadz Aam Amiruddin

Ustadz, saya mau curhat mengenai masalah rumah tangga. Masalah tersebut bermula ketika suami menikah dengan wanita lain tanpa seizin saya. Karena sudah terlanjur terjadi, saya pun menjalani pernikahan ( poligami ) ini dengan berusaha sabar dan ikhlas.

Saya berharap, suatu saat dia sadar akan kekeliruannya dengan kembali kepada saya dan anak-anak. Tapi ternyata, suami dan saya tidak bisa menjalani semua ini dengan baik. Saya pun menggugat cerai, meskipun kami masih saling mencintai.

Pada suatu hari, sekitar satu setengah bulan setelah perceraian, kami melakukan hubungan suami istri. Saya pernah mendengar, jika wanita yang mengajukan/menggugat (cerai), maka tidak ada masa rujuk dan masa ‘iddahnya hanya satu bulan. Tapi, saya juga pernah mendengar ada lagi pendapat yang menyatakan bahwa masa ‘iddahnya tiga setengah bulan dan jika di dalam masa ‘iddah itu melakukan hubungan suami sitri, berarti perceraiannya batal. Pertanyaannya, bagaimanakah status perceraian saya? Apakah batal atau tidak?

Jawaban :

Ada dua istilah untuk perceraian yang dilakukan atas dasar permintaan cerai atau biasa disebut gugatan cerai dari pihak istri. Pertama, fasakh atau pengajuan cerai oleh istri tanpa adanya kompensasi yang diberikan istri kepada suami dalam kondisi:
1. Suami tidak memberikan nafkah lahir dan batin selama enam bulan berturut-turut;
2. Suami meninggalkan istrinya selama empat tahun berturut-turut tanpa ada kabar berita ( meskipun terdapat kontroversi tentang batas waktunya );
3. Suami tidak melunasi mahar ( mas kawin ) yang telah disebutkan dalam akad nikah, baik sebagian ataupun seluruhnya ( sebelum terjadinya hubungan suami istri ); atau
4. Adanya perlakuan buruk oleh suami seperti penganiayaan, penghinaan, dan tindakan-tindakan lain yang membahayakan keselamatan dan keamanan istri.

Kedua, khulu’ atau perceraian antara suami-istri dengan keridhoan dari keduanya dan atas permintaan istri dengan pembayaran ( imbalan ) sejumlah harta yang diserahkan istri kepada suaminya serta menggunakan kata khulu’ ( gugat cerai ). Besarnya kompensasi (iwadh) bergantung kesepakatan keduanya dan disunatkan tidak melebihi jumlah mahar yang telah diberikan kepada istri. Yang berhak menjatuhkan dan mengucapkan lafazh talak adalah suami, baik dengan sepengetahuan hakim ataupun tidak.

Khulu’ dan fasakh merupakan cerai yang hukumnya halal tapi dibenci. Artinya, selama masih mungkin dipertahankan, sebaiknya bersabar dulu dan mempertimbangkan dengan masak serta berdoa agar diberi jalan yang terbaik. Jika ternyata tiada pilihan lain, maka konsekuensi hukumnya adalah pemberlakuan talak ba’in bagi istri. Talak ba’in artinya talak yang menghilangkan kesempatan rujuk, kecuali sang istri tersebut terlebih dahulu menikah dengan yang lain dan telah dukhul ( berhubungan suami-istri ). Ini menunjukkan bahwa fasakh atau khulu’ sama artinya dengan talak tiga yang berarti talak ba’in.

Namun, sebagian ulama mengatakan bahwa gugatan cerai itu berakibat pada talak ba’in shugra saja dan bukan talak ba’in kubra seperti yang telah dijelaskan tersebut. Talak ba’in shugra yaitu hilangnya hak rujuk pada suami selama masa ‘iddah. Artinya, mantan suami ingin kembali kepada mantan istrinya, maka dia diharuskan melamar dan menikah kembali dengan perempuan tersebut.  Sementara itu, istri wajib menunggu sampai masa ‘iddahnya berakhir apabila ingin menikah dengan laki-laki yang lain.

Dalam hal ini, saya lebih cenderung pada pendapat kedua karena talak yang datang dari suami atau istri pada prinsipnya sama, yaitu jatuhnya talak. Ketika gugatan cerai itu terjadi untuk yang pertama, maka yang terjadi adalah talak satu, bukan talak tiga. Sementara itu, masa ‘iddah karena talak yang datang baik dari suami atau istri adalah sama yaitu tiga kali suci dari haid atau tiga bulan jika belum atau sudah tidak haid.

Berdasarkan pada ketentuan tersebut, kasus yang Anda alami merupakan pelanggaran terhadap ketentuan syari’at. Karenanya, segeralah Anda bertobat dan semoga kesalahan tersebut lebih karena keidaktahuan sehingga peluang terampuni lebih besar. Amin. Wallahu a’lam bishshawab ■

Sumber : Bedah Masalah, Majalah Percikan Iman, No. 02 Th. XIII Februari  2012 /Rabiul Akhir 1433 H

Gambar : majalah.hidayatullah.com

ΩΩΩ

About these ads

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Aam Amiruddin, Fiqih, Keluarga, Pernikahan and tagged , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Bagaimana Status Perceraian Jika dalam Masa ‘Iddah Melakukan Hubungan Suami-Istri ?

  1. Alhadi Putra says:

    aslmkm… bapak, dalam memberikan jawaban tolong diberikan dalil yang kuat dan jelas. jangan hanya omongan saja tanpa dasar yang jelas. saya sarankan agar bapak membaca kembali rujuk menurut para ulama. bagaimana rujuk menurut imam hanafi, maliki, syafi’i dan hambali. jangan mudah memfonis orang berdosa. wasalam…..

    ————————————————–

    Waalaikumussalam,

    Pertanyaan di atas diajukan ke Majalah Percikan Iman dan dijawab oleh pemimpun umumnya, Dr. Aam Amiruddin, M.Si. Saran Anda silahkan sampaikan langsung kepada beliau melalui redaksi Percikan Iman. Terima kasih.

    Wassalam.

  2. bachtiar says:

    Assalamu alaikum…
    saya mau bertanya kepada ustad tentang hukumnya pernikahan siri mantan istri saya,
    singkat cerita saya telah meninggalkan keluarga selama 7 bulan dng tidk menafkahi. alasan saya meninggalkan keluarga dan tidk bisa menafkahi karena faktor ekonomi yg saya alami dan istri tlah menjalin hubungan dng pria lain ( selingkuh ). bulan oktober istri melakukanh gugatan cerai ke pengdilan agama dan sampai saat ini istri belum mendapatkan akte cerai dari pengadilan agama dan masa iddahnya berakhir bulan januari. pada tgl 15 Nopember 2012 istri menikah siri dng pria tsb dngan alasan kpd keluarga utk menutupi fitnah krn pria tsb srng datng ke rumah istri. dan terjadilah pernikahan siri tsb. bagaimana menurut ustad tentang pernikahan hukum dari pernikahan tersebut? terima kasih atas jawabannya
    Wasslam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s