Jenazah Korban Pesawat Jatuh


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz, bagaimanakah cara penanganan jenazah seperti korban pesawat Sukhoi belum lama ini, di mana tubuh mereka ada yang hancur dan hangus terbakar? Perlukah autopsi terlebih dahulu dan harus dimandikan?

Hamba Allah

Jawaban :

Memandikan, mengafani, menshalatkan, dan menguburkan jenazah seorang Muslim merupakan fardhu kifayah bagi kaum Muslimin yang berada di sekitarnya. Kecuali orang yang mati syahid dalam medan pertempuran di jalan Allah SWT maka wajib bagi karib kerabat, tetangga, dan umat Islam yang dekat dengan mayat itu menanganinya dari memandikan hingga menguburkannya.

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala ( dari kebajikan ) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa ( dari kejahatan ) yang dikerjakannya.“ ( QS al-Baqarah [2] : 286 ). Begitu pula dari peristiwa jatuhnya pesawat. Jenazah Muslim harus dimandikan, dikafani, dishalatkan, dan dikuburkan sebagaimana kita menyelenggarakan jenazah seorang Muslim.

Setiap jenazah yang anggota tubuhnya hancur dan hangus terbakar sedapat mungkin dikumpulkan menjadi satu. Jika tidak ditemukan, kecuali sebagian badannya, maka sebagian anggota tubuh itu saja yang diselenggarakan dengan memandikan, mengafani, menshalatkan, serta menguburkannya.

Syekh Ibnu Dhauyan dalam kitabnya Manar al-Sabil menjelaskan, jika ada anggota badan mayat yang jatuh diletakkan bersama anggota tubuh yang lain dalam kafannya sebagaimana yang dilakukan Asma’ binti Abu Bakar terhadap jenazah anaknya, Abdullah bin Zubair. Jika tidak ada, kecuali sebagian anggota badan si mayat, ia dimandikan dan dishalatkan sesuai ijma’ para sahabat.

Diriwayatkan Imam Ahmad bahwa Abu Ayyub menshalatkan satu kaki, Umar menshalatkan tulang belulang di Syam, dan Abu Ubaidah menshalatkan kepala juga di Syam sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Ahmad. Imam Syafii juga menjelaskan, seekor burung menjatuhkan satu tangan dari lokasi Perang Jamal. Dari cincin yang melekat, tangan itu milik Abdurrahman bin `Utab bin Usaid.

Lalu, penduduk Makkah menshalatkan jenazah itu. Ada perbedaan pendapat antara ulama tentang seberapa besar anggota tubuh dari orang meninggal itu yang harus dishalati. Mazhab Hanafi berpendapat, tidak disyariatkan shalat pada sebagian kecil anggota tubuh mayat meskipun itu setengah bagian tubuh mayat.

Yang harus dishalatkan menurut mereka adalah lebih dari setengah bagian atau sebagian besar tubuh mayat. Menurut Mazhab Maliki, tidak wajib dishalatkan kecuali dua pertiga dari anggota tubuh atau setengah lebih dan kurang dari sepertiga tapi disertai kepala mayat tersebut.

Sedangkan Mazhab Syafii dan Hanbali mengatakan, harus dilaksanakan shalat pada anggota tubuh, seperti badan atau kaki, dengan syarat pemilik anggota tubuh tersebut telah meninggal, jika dia belum meninggal maka tidak dishalatkan. Dan, pendapat ini yang lebih kuat.

Ibnu Qudamah dalam kitabnya al-Mughni menjelaskan, jika tidak ada, kecuali sebagian tubuh mayat, maka menurut Mazhab Hanbali ia dimandikan dan dishalatkan dan ini juga merupakan pendapat Syafii.

Adapun mengenai autopsi mayat, pada dasarnya kehormatan tubuh mayat seorang Muslim itu sama dengan ketika ia masih hidup. Sehingga, haram hukumnya melakukan autopsi mayat seorang Muslim tanpa sebab.

Tapi, ada kaidah syara, jika dua maslahat bertentangan maka diambil yang maslahatnya paling kuat pengaruhnya. Dan, jika ada dua mafsadah yang bertentangan maka diambil yang paling ringan. Oleh karena itu, ulama membolehkan autopsi mayat dalam beberapa keadaan yang memang memerlukannya. Misalnya, untuk penyelidikan kasus pembunuhan, dan mengetahui penyakit yang menyebabkan kematiannya sehingga memungkinkan untuk membuat obat yang dapat mencegah dan mengobati penyakit itu.

Dalam kasus di atas, jika memang diperlukan autopsi atau tes DNA untuk mengetahui mayat ini atas nama siapa sehingga memungkinkan untuk menentukan dan membedakan mayat orang Muslim dengan yang lainnya, hal itu tidak apa-apa dilakukan. Wallahu a’lam bish shawab. ■

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Selasa,15 Mei 2012/23 Jumadil Akhir 1433 H

Gambar : rri.co.id

ΩΩΩ

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bachtiar Nasir, Fiqih, Shalat and tagged , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s