Azan dengan Pengeras Suara


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz, baru-baru ini Wapres Boediono dalam sambutannya di Muktamar ke-6 Dewan Masjid Indonesia ( DMI ) menganjurkan kepada dewan masjid untuk mulai membahas pengaturan penggunaan pengeras suara yang digunakan untuk azan agar jangan terlalu keras dan kalau bisa dengan suara yang sayup-sayup terdengar.

Yang ingin saya tanyakan, apakah hukumnya azan dengan pengeras suara itu yang bertujuan agar azan dapat didengar oleh semua orang sehingga mengingatkan mereka bahwa waktu shalat telah masuk dan bersegera melaksanakannya ?

Hamba Allah

Jawaban :

Mengeraskan suara atau dengan menggunakan pengeras suara saat azan adalah bagian dari yang disunahkan dalam syariat Islam. Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar, ia berkata, “Ketika awal kedatangan kaum Muslimin di Madinah, mereka datang berkumpul untuk mengerjakan shalat dengan memperkirakan waktu karena tidak ada orang yang khusus bertugas menyeru mereka berkumpul untuk shalat. Suatu hari, mereka mempercakapkan hal ini. Sebagian mereka berkata, “Kita akan menggunakan lonceng seperti loncengnya Nasrani untuk memanggil orang-orang agar berkumpul untuk mengerjakan shalat.“  Sebagian lain mengatakan, “Kita pakai trompet seperti trompetnya Yahudi.“  Namun, Umar mengusulkan, “Tidakkah sebaiknya kalian mengutus seseorang untuk menyerukan panggilan shalat?“  Nabi pun bersabda, “Bangkitlah, wahai Bilal, kumandangkanlah seruan untuk shalat.“ ( HR Bukhari dan Muslim, ini lafaz Muslim ).

Dan, untuk mencapai tujuan agar didengar oleh umat Islam itu maka azan harus dikumandangkan dengan suara keras, tidak dengan suara lirih atau sayup-sayup. Sebagaimana yang ditegaskan dalam Al-Quran, “Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jumat maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.“ ( QS al-Jumu’ah [62] : 9 ).

Di antara makna naada atau nida’ itu berarti memanggil atau menyeru dengan suara keras. Begitu juga ditegaskan dalam hadis Nabi SAW tentang perintah mengeraskan suara bukan dengan sayu-sayup.

Diriwayatkan dari Abdurrahman bin Abdullah bin Abdurrahman bin Abi Sha’sha’ah, dari ayahnya ia menceritakan kepadanya bahwa Abu Sa’id al-Khudri ra berkata kepadanya, “Sesungguhnya saya melihat kamu menyenangi kambing dan ( badiyah ) pedalaman maka jika kamu berada di antara kambing-kambingmu atau di pedalaman lalu engkau mengumandangkan azan maka angkatlah suaramu dengan azan tersebut karena sesungguhnya tidaklah mendengar suara muazin baik itu jin, tidak pula manusia, dan tidak pula sesuatu apa pun kecuali akan mempersaksikan untuknya pada hari kiamat.” Abu Sa’id berkata, “Saya mendengar hal ini dari Rasulullah SAW.” ( HR Bukhari ).

Diriwayatkan oleh Abdullah bin Zaid, setelah menceritakan tentang mimpinya yang mengandung lafaz-lafaz azan kepada Rasulullah SAW, beliau mengatakan kepada Abdullah bin Zaid, “Mimpimu itu adalah mimpi yang benar, insya Allah. Bangkitlah engkau bersama Bilal, sampaikan padanya apa yang kau dapatkan dalam mimpimu agar dia mengumandangkan azan tersebut karena dia lebih lantang suaranya darimu.” ( HR Ahmad, Ibnu Majah, Abu Daud, Ibnu Khuzaimah, dan Tirmizi ).

Agar suara terang terdengar dari kejauhan maka azan perlu dikumandangkan dari ketinggian, misalnya, di atas menara. Diriwayatkan dari Urwah bin al-Zubair ra dari seorang wanita dari Bani Najjar, dia berkata, “Rumahku adalah rumah yang paling tinggi di antara rumah yang lain di sekitar masjid dan Bilal mengumandangkan azan Subuh di atasnya.” ( HR Abu Dawud ).

Dalam riwayat ini dijelaskan bahwa Bilal dengan sengaja memilih naik rumah yang paling tinggi, milik salah seorang wanita Bani al-Najjar untuk mengumandangkan azan. Pemilihan ini bertujuan agar suara azan yang dikumandangkan dengan keras bisa didengar oleh banyak orang karena jangkauannya yang lebih luas.

Dalam hadis lain juga disebutkan, diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwasanya Nabi SAW bersabda, “Jika kalian mendengar iqamah dikumandangkan maka berjalanlah menuju shalat dan hendaklah kalian berjalan dengan tenang berwibawa dan jangan tergesa-gesa. Apa yang kalian dapatkan dari shalat maka ikutilah dan apa yang kalian tertinggal maka sempurnakanlah.” ( HR Bukhari dan Muslim ).

Hadits ini menggambarkan bahwa para sahabat dapat mendengar adzan dan iqamah ketika masih berada jauh dari masjid sehingga mereka diperintahkan oleh Nabi SAW  untuk berjalan dengan tenang, tidak perlu tergesa-gesa untuk cepat sampai di masjid.

Dan juga diriwayatkan oleh Imam Malik dalam kitab Muwaththa-nya: Diriwayatkan dari Nafií bahwa Abdullah bin Umar ra. mendengarkan iqamah sedangkan ia masih di Baqií, maka dia mempercepat jalannya menuju masjid. Padahal sebelum perluasan masjid Nabawi, jarak antara masjid dengan Baqií cukup jauh, ada yang mengatakan jarak antara masjid Nabawi dengan Baqií pada zaman Nabi SAW. lebih kurang 500 m.

Hal itu menunjukkan bahwa adzan dan iqamah dapat didengar oleh mereka yang berada di luar dan jauh dari masjid. Hal itu berarti adzan dan iqamah itu dilakukan dengan suara keras agar dapat didengar oleh orang dalam jarak sejauh mungkin. Berdasarkan dalil-dalil di atas maka jelaslah perintah mengeraskan kumandang azan dan bukan dengan sayup-sayup. Wallahu a’lam bish shawab. ■

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Sabtu, 5 Mei 2012/13 Jumadil Akhir 1433 H

Gambar : http://yusnitafebri.blogspot.com

ΩΩΩ

Silakan Baca Juga :

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bachtiar Nasir, Fiqih, Shalat and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s