Pembagian Harta Waris Suami


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz, suami saya sudah wafat setahun lalu meninggalkan seorang istri ( saya sendiri ) dan tiga orang anak, yaitu satu laki-laki dan dua perempuan. Beliau meninggalkan harta berupa dua bidang tanah. Satu bidang tanah seluas 260 m2 ada rumahnya yang sekarang saya tempati, sebidang lainnya luasnya 280 m2, ada rumah kontrakan lima pintu. Bagaimana pembagian warisnya?

Ibu Maryam, Pasar Minggu

Jawaban :

Sebelum bicara tentang penyelesaian masalah waris, langkah pertama adalah mengklarifikasi ahli waris. Apakah ada ahli waris lainnya selain yang disebut di atas? Seperti kedua orang tua almarhum. Jika mereka sudah wafat sebelum almarhum ( suami Anda ) maka tidak menjadi masalah.

Tapi, jika mereka ( salah satu atau keduanya ) masih hidup maka mereka mendapatkan bagian. Selain itu, apakah pernikahan antara suami istri ( almarhum dan Anda ) adalah pernikahan yang sah secara hukum Islam? Jika sah secara hukum Islam maka tidak bermasalah, tapi ( mohon maaf ) jika tidak sah maka bermasalah di mana di antara keduanya tidak saling mewarisi.

Lalu, apakah ketika almarhum wafat, semua ahli waris dalam keadaan beragama Islam? Jika semuanya demikian maka tidak bermasalah, tapi jika di antara mereka ada yang murtad atau bukan beragama Islam, hak warisnya gugur, sekalipun ada hubungan darah dengan almarhum.

Langkah kedua adalah mengklarifikasi harta waris. Apakah ada di antara harta peninggalan almarhum, harta yang syubhat atau harta haram? Jika ada maka harta itu dikeluarkan dan digunakan untuk kemaslahatan manusia. Apakah Anda ( istri almarhum ) ada kontribusi dalam harta peninggalan almarhum? Jika ada, harta itu dinamakan harta bersama.

Anda mendapatkan bagian dari harta bersama itu sesuai peran dan kontribusi. Misalkan, dalam pembangunan rumah, istri berkontribusi sebesar 25 persen. Bila rumah itu dijadikan harta waris almarhum, istri memperoleh bagian tersebut. Adapun sisanya ( 75 persen ) dimasukkan ke dalam harta waris almarhum.

Kalau almarhum memiliki utang, wajib dibayarkan utang-utangnya. Seandainya berwasiat, tunaikan wasiatnya. Dengan syarat wasiat tersebut tidak dutujukan kepada ahli waris dan tidak lebih dari sepertiga dari sisa harta setelah pembayaran utang ( jika ada ).

Berikutnya adalah penyelesaian masalah waris. Jika tak ada masalah dengan beberapa poin yang diungkapkan di atas, perincian bagian masing-masing ahli waris adalah sebagai berikut:

Istri mendapatkan 1/8 karena pewaris meninggalkan keturunan (lihat QS an-Nisa [4]:12). Anak laki-laki mendapatkan dua bagian dan setiap anak perempuan mendapatkan satu bagian (lihat QS an-Nisa [4] :11). Istri, di samping mendapatkan bagian 1/8 dari harta waris, ia juga memperoleh bagian dari harta bersama sesuai kontribusinya. Wallahu a’lam bish shawab

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Senin, 30 April 2012/8 Jumadil Akhir 1433 H

Gambar : konsultasisyariah.com

 ΩΩΩ

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bachtiar Nasir, Waris and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Pembagian Harta Waris Suami

  1. ssyahreza says:

    Asslamua’laikum Ustad
    Ada bebrapa hal yang ingin saya tanyakan perihal pembagian harta warisan. Baru-baru ini kami ahli waris, telah sepakat membagi harta warisan almarhum Ayah, yang telah meninggal dunia pada tahun 1997. Saat itu (sesudah ayah meninggal) ada beberapa alasan ibu saya untuk tidak membagikan harta warisan ke pada kami anak-anaknya, kecuali kepada Ibu dari pada ayah (alm) mendapatkan harta warisan tersebut setelah dihitung jumlah haknya. Alasan yang pertama, kami semuanya masih menempuh pendidikan, karena ayah saya pernah berwasiat kalau dia meninggal maka utamakan pendidikan untuk anak2. Alasan lainnya, pada waktu itu kami tinggal secara terpisah, ibu dan adik saya yang paling bungsu tinggal berdua (dirumah dinas ayah yang kala itu masih dalam pengurusan kepemilikan) dikota M, saya dengan adik saya yang lain, tinggal di kota B, dan menempati rumah yang dibelikan orang tua saya, karena kami bersekolah disana. Sedangkan kakak saya juga tinggal terpisah(sekolah di bandung), dan tinggal ngekost. Ibu saya bekerja sebagai guru PNS, demikian juga dengan ayah saya almarhum adalah seorang PNS. Kami kakak-beradik berjumlah 4 org ( 1 pr (kakak) dan 3 laki-laki, saya nomor 2 sesudah kakak). Ayah kami meninggal, mewariskan tanah kosong, rumah dinas(dalam pengurusan hak milik) dan 2 rumah di kota tempat saya tinggal.baru-baru ini saat kami membagikan harta tersebut, kami langsung berinisiatif harta tersebut di bagi dua dahulu (bagian ibu 1/2), karena tidak ada lagi penjelasan yang tepat berapa bagian dari harta ibu dan harta ayah saat membeli tanah berserta rumah2 tersebut. bahkan, salah satu rumah yang ada dikota B, saat ayah meninggal baru selesai skirat 50 % sekarang sudah hampir selesai 95 %. demikian juga rumah dinas yang di kota M dulu sewaktu ayah meninggal belum terbayarkan sama sekali, sekarang sudah lunas 100 % dah sudah jadi hak milik ibu. Selain itu tanah kosong yang ada di kota B juga telah di jual untuk merampungkan rumah di kota B, selain itu dana setoran haji (ayah dan ibu) juga terpakai untuk biaya sekolah kami. yang menjadi pertanyaan saya adalh sbb: 1. Apakah dibenarkan secara langsung kami membagi harta peningalan itu menjadi 50 % bagian ibu dan 50 % bagian ayah, yang nantinya akan diwariwskan? mengingat sangat sulit untuk mengingat kembali masing2 konstribusi dari orang tua saya.
    2. Harta warisan dibagi setelah kami uangkan semuanya-dengan menghitung jumlah kira2 jika rumah dan tanah itu kami jual, kemudian baru di bagikan, artinya samasekali kami selaku anak-anaknya mendapat harta tersebut sesenpun.Apakah ini dibenarkan?
    3. Sesudah kami hitung2 jumlah totalnya adalah 1. 280.000.000, kemudian dibagi menjadi dua ( harta bersama-bagian istri), maka menjadi 640.000.000, inilah bagian yang kami bagikan, dengan rincian: bagian istri (ibu saya ) 1/8 = 80.000.000; 3 anak laki2 masing 160.000.000;
    dan bagian kakak pr adalah 80.000.000
    4. Ibu ada harta 640.000.000, di tambah harta yang diwariskan maka harta ibu adalah :
    640.000.000 + 80.000.000 = 720.000.000,
    Kemudian uang itu ibu belikan rumah dinas yang ada di kota M, rencananya akan di wariskan ke kakak ( rumah tersebut kami kira dengan jumlah 500 juta) jadi sisa uang ibu adalah 220 juta. yang menjadi pertanyaan apakah ini di bolehkan secara hukum,
    Hanya ini pertanyaan dari saya Ustad, mohon maaf bila kurang berkenan.
    Wassalam

  2. supratman says:

    saya mau bertanya ibu mau jual sebidang tanh bersamanya sama almarhum bapak tanpa pengetahuan anaknya karna itu hasil jerih payah bersama almarhum bapak boleh ibu mejualnya apakah benar seperti itu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s