Ungkapan “Saudaraku” Kepada Non-Muslim


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustaz, saya sering mendengar tokoh agama dan ulama kita mengatakan ungkapan “saudara kita yang non-Muslim“. Apakah sebagai seorang Muslim kita dibolehkan mengucapkan hal itu?

Hamba Allah

Jawaban :

Islam adalah rahmat bagi semesta, agama kemanusiaan yang bersifat universal dan memiliki sistem sosial yang mampu beradaptasi dengan lingkungan budaya manapun. Tapi, Islam melalui Al-Quran dan sunah Nabi Muhammad SAW menegaskan, hubungan yang paling kuat dan suci serta yang harus selalu diutamakan adalah hubungan persaudaraan dalam akidah.

Dalam hal ini, setiap Mukmin yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya adalah saudara bagi Mukmin lainnya. “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah ( perbaikilah hubungan ) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” ( QS al-Hujurat [49] : 10 ).

Dalam ayat lainnya, Allah berfirman, “Jika mereka bertobat, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat, maka ( mereka itu ) adalah saudara-saudaramu seagama. Dan Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi kaum yang mengetahui.” ( QS at-Taubah [9] : 11 ). Dalam sejumlah hadis, Rasulullah juga menjelaskan mengenai persoalan ini.

“Perumpamaan orang yang beriman dalam hal kasih sayang, kecintaan, dan kelemah-lembutan di antara mereka adalah bagaikan satu tubuh, apabila ada satu anggotanya yang sakit maka seluruh tubuh juga merasakan demam dan tidak bisa tidur.“ ( HR Bukhari dan Muslim ). “Tidak beriman seorang di antara kalian sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri“. ( HR Bukhari ).

Di samping hubungan persaudaraan berdasarkan keimanan, Islam juga mengakui hubungan persaudaraan berdasarkan nasab antara seorang Muslim dengan kerabatnya yang non-Muslim meskipun mereka menentang Allah dan Rasul. Tetapi, Al-Quran melarang adanya hubungan cinta kasih di antara mereka.

“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka.“( QS al-Mujadalah [58] : 22 ).

Nabi Ibrahim memanggil bapaknya “ya abati“ yang menunjukkan penghormatan meski bapaknya kafir. “Ceritakanlah ( Hai Muhammad ) kisah Ibrahim di dalam Al-Kitab (Al-Quran) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan lagi seorang Nabi. Ingatlah ketika ia berkata kepada bapaknya, “Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak dapat menolong kamu sedikit pun?“ ( QS Maryam [19]: 41-42 ).

Al-Quran juga menyematkan ungkapan saudara terhadap kerabat meskipun hubungan nasabnya jauh, sebagaimana dalam kisah para nabi yang diutus kepada kaumnya, di sini Al-Quran menegaskan hubungan persaudaraan antara para nabi dengan kaumnya yang kafir. “Dan ( Kami telah mengutus ) kepada penduduk Madyan saudara mereka, Syuaib.” (QS al-A’raf [7] : 85).

Bahkan, ungkapan saudara antara Nabi Luth dan kaumnya meskipun Nabi Luth bukan berasal dari daerah dan suku kaumnya tersebut karena beliau adalah keponakan Nabi Ibrahim yang beriman bersama beliau dan hijrah bersama ke daerah Syam. Allah berfirman, “Ketika saudara mereka, Luth, berkata kepada mereka, mengapa kamu tidak bertakwa?“ ( QS al-Syu’ara` [26] : 161).

Persaudaraan di sini maksudnya adalah pertemanan atau persaudaraan berdasarkan kemanusiaan atau saudara sesama manusia makhluk Allah.Tapi, jika penyebutan ungkapan saudara itu menimbulkan dugaan akan keikutsertaan dalam kebatilan yang dilakukan orang kafir itu maka ungkapan saudara itu tidak disebutkan sebagaimana dalam kisah Nabi Syuaib yang disebut saudara kaum Madyan.

Namun, ketika mereka disandarkan kepada pohon Aikah yang mereka sembah maka Allah tidak menyebutkan Syuaib sebagai saudara kaum Madyan. Penduduk Aikah telah mendustakan rasul-rasul. Ketika Syuaib berkata kepada mereka, “Mengapa kamu tidak bertakwa?” ( QS al-Syu’ara’ [26] : 176-177 ).

Berdasarkan dalil di atas, pendapat ulama yang kuat adalah bolehnya menggunakan ungkapan “saudaraku“ atau “saudara kita“ bagi non-Muslim selama dilakukan dalam konteks dakwah, ajakan, dan usaha melembutkan hati agar dapat menerima agama Allah. Namun, tetap memperhatikan kaidah al-wala’ wal al-bara ( konsep loyalitas dan berlepas diri dalam bertauhid ) di dalam hati kaum Muslimin dan tidak menimbulkan dugaan ikut serta dalam kebatilan mereka.

Dan dilarang untuk mengunakan ungkapan “saudaraku“ atau “saudara kita“ jika diucapkan dalam konteks menghilangkan perbedaan antara kaum Muslimin dengan umat lainnya dan menganggap remeh tali ikatan iman yang paling kuat yaitu cinta karena Allah dan benci karena Allah. Wallahu a’lam bish shawab

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Sabtu, 28 April 2012/6 Jumadil Akhir 1433 H

Gambar : dppgarda.wordpress.com

ΩΩΩ

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Akhlak, Aqidah, Bachtiar Nasir, Dunia Islam, Sejarah and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s