Emansipasi dalam Islam


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz, pada bulan April ini sering didengungkan kata emansipasi, mungkin karena berkaitan dengan hari Kartini. Pertanyaan saya, apakah ada tuntunan dalam Islam tentang emansipasi?

Hamba Allah

Jawaban :

Emansipasi adalah kata benda yang berarti pembebasan dari perbudakan, yaitu persamaan hak dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat. Di Indonesia, Kartini adalah sosok yang kerap dijadikan contoh. Sebuah upaya dan proses pelepasan diri perempuan dari kedudukan sosial ekonomi yang rendah atau dari pengekangan hukum yang membatasi kemungkinan untuk berkembang dan untuk maju.

Kurang pas menyandingkan kata emansipasi dengan kata Islam, karena kata emansipasi berangkat dari kultur sosial yang jauh dari nilai-nilai Islam. Kata emansipasi sarat dengan pesan pemberontakan segelintir perempuan di tengah lingkungan yang tidak menguntungkan dirinya, lalu menggeneralisasi dan menyederhanakan cara pandang.

Seakan semua perempuan diperlakukan sama seperti dirinya atau atas nama perempuan sedunia agar tidak ada yang diperlakukan seperti dirinya. Celakanya, wacana lokal dan sektarian ini dipaksakan untuk masuk ke wilayah yang lebih luas lagi, bahkan dikolaborasikan dengan doktrin gender ala Barat dan dipaksakan untuk diundang-undangkan.

Emansipasi dalam Islam adalah emansipasi keserasian. Serasi tidak harus setara. Sebab, keserasian tidak pernah menuntut kesamaan dan persamaan, apalagi penyamaan. Keserasian menggambarkan keharmonisan, kesepadanan, keselarasan, dan kesesuaian. Keserasian menghasilkan keterpaduan yang utuh dan hubungan baik yang melahirkan ketenteraman lahir batin.

Tentu saja, jauh dari perasaan iri hati dan ambisi untuk merebut apa yang dimiliki orang lain. Keserasian adalah buah keberagaman dan perbedaan. Masing-masing individu menempatkan dirinya dan berperan sesuai kapasitasnya. Yang muda menghormati yang tua dan sebaliknya. Yang alim berjihad dengan ilmunya, yang kaya berjihad dengan hartanya, yang kuat berjihad dengan kekuatannya.

“Hendaklah yang kecil memberi salam kepada yang besar, yang berjalan kepada yang duduk, dan yang sedikit kepada yang banyak.“ ( HR Ahmad ). Lebih lanjut, Rasulullah berwasiat, “Cukuplah bagi sekumpulan orang apabila mereka sedang lewat agar satu saja yang mengucapkan salam dan cukuplah bagi sekumpulan orang agar satu saja yang menjawab ( salam ).” ( HR Ahmad dan Baihaqi ).

Setiap orang tidak perlu berebut untuk sekadar menjadi “pengucap salam”. Dan, tidak perlu kecewa, apalagi hasad ketika tidak dipilih menjadi wakil untuk “mengucapkan atau membalas salam”. Sebab, masing-masing mempunyai peranan dan masing-masing mempertanggungjawabkan peran yang dimainkannya.

Rasulullah bersabda, “Ingatlah! Kamu semua adalah pemimpin dan kamu semua bertanggung jawab atas rakyat yang dipimpinnya. Penguasa yang memerintah rakyat adalah pemimpin mereka dan ia bertanggung jawab atas mereka. Laki-laki adalah pengurus keluarganya dan ia bertanggung jawab atas mereka. Wanita adalah pengurus rumah suaminya dan anaknya dan ia bertanggung jawab atas itu. Hamba sahaya adalah pengurus harta tuannya dan ia bertanggung jawab atas harta itu. Kamu semua pengurus dan kamu semua bertanggung jawab atas apa yang kamu urus.” ( HR Bukhari ). Islam secara indah menggambarkan keserasian relasi laki-laki dan perempuan dalam QS an-Nisa: 32.

Imam Mujahid ra menceritakan berkenaan sebab turunnya ayat ini bahwa Ummu Salamah berkata, “Wahai Rasulullah SAW, sungguh kaum laki-laki bisa berperang, sementara kita kaum hawa ini tidak. Mereka juga mendapatkan dua kali lipat harta warisan dari yang kita dapatkan. Sekiranya kita ini laki-laki niscaya kita juga akan berperang seperti yang mereka lakukan dan kita pun akan mendapatkan bagian yang sama dalam harta warisan.” Maka, Allah pun menurunkan wahyu-Nya, “Dan janganlah kamu mengangan-angankan karunia yang dilebihkan Allah kepada sebagian kamu dari sebagian lainnya.” ( QS an-Nisa: 32 ). Dan, Allah pun menurunkan pula, “Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang Muslim.…” ( QS al-Ahzab: 35 ).

Istilah “kesetaraan gender” sering dilontarkan sebagai ekspresi ketidakpuasan untuk menuntut kesamaan peran dan kedudukan. Kesetaraan sering menimbulkan ketidakserasian. Dan, ketidakserasian itu berarti ketidakharmonisan. Serasi itu ibarat musik yang didasari perbedaan nada sehingga menghasilkan suara indah. Itulah keserasian, bukan kesetaraan. Dan, serasi itu tidak harus setara!  Wallahu a’lam bish shawab. ■

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Jumat, 27 April 2012/5 Jumadil Akhir 1433 H

Gambar : indonesian.irib.ir

ΩΩΩ

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bachtiar Nasir, Keluarga, Syariah and tagged , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s