Adakah Zakat Perikanan?


Oleh : KH. A Cholil Ridwan

Pak Ustadz saya mau tanya. Sesungguhnya bagaimanakah perhitungan zakat perikanan? Sudah beberapa kali saya mencari di beberapa buku, tapi belum ketemu juga. Jazakallahu khairan jaza’ atas jawaban antum. — Abdul Latif Ibrahim, Lampung

Jawaban:

Islam telah menetapkan kewajiban zakat dalam dua bentuk, yakni zakat fitrah dan zakat harta ( mal ). Zakat mal diwajibkan pada harta-harta: (1) Ternak, yaitu unta, sapi dan kambing; (2) Tanaman ( hasil pertanian ) dan buah-buahan; (3) Nuqud/mata uang ( emas dan perak-pen ); (4) Keuntungan dari perdagangan. Zakat diwajibkan pada jenis harta-harta tersebut, jika telah mencapai nishab, hutangnya sudah dilunasi, serta sudah mencapai satu tahun ( haul ). Kecuali untuk tanaman hasil pertanian dan buah-buahan, zakatnya diwajibkan pada saat panen.

Menurut para fuqaha, zakat adalah bagian dari ibadah mahdhah ( murni ). Sebagaimana ibadah yang lain, zakat juga memiliki ketentuan khusus, baik mengenai wajib zakat (muzakki), penerima zakat ( mustahiq ), petugas zakat ( ‘amil ), harta yang wajib dikeluarkan zakatnya, waktu berzakat hingga kadar dan ukurannya. Semuanya telah ditentukan secara rinci oleh nash-nash syara’.

Karena bagian dari ibadah mahdhah, menurut Dr. Husain Abdullah dalam kitab Dirasat Fil Fikri al Islami, zakat juga bersifat tawqifiyah ( otoritas penuh ) yang menjadi hak Allah dan tidak memiliki illat ( alasan hukum ). Artinya persoalan zakat adalah persoalan yang sepenuhnya harus dikembalikan kepada Allah, dalam hal ini adalah dalil-dalil syara’. Tidak boleh menggunakan qiyas ( analog i) dalam persoalan ini.

Nah, berkaitan dengan zakat ikan/perikanan, Dr. Yusuf Al Qaradhawi dalam kitabnya, Fiqhuz Zakat, berpendapat bahwa penangkapan ikan juga dapat dikenakan wajib zakat. Alasannya, “tidak wajar sama sekali apabila ikan tidak terkena kewajiban zakat berdasarkan penganalogian dengan barang tambang, hasil pertanian dan lain-lain”. Dasarnya adalah dari Abu Ubaid yang telah meriwayatkan dari Yunus bin Ubaid, ”Umar pernah mengirim surat kepada petugasnya di Oman agar ia tidak memungut apapun dari ikan yang kurang harganya dari 200 dirham. Bila bernilai 200 dirham, yaitu besar nishab uang, maka harus dipungut zakatnya”.

Al Qaradhawi menambahkan, “Hal itu diriwayatkan pula dari sumber Ahmad”. Menurut Mazhab Imamiah, besar zakat ikan adalah 20% karena mereka memandangnya sama dengan ghanimah. “Dan pendapat kita tadi berlaku juga terhadap kasus ini”, tutup Al Qaradhawi. ( lihat Yusuf Qardhawi, Hukum Zakat : Studi Komparatif Mengenai Status dan Filsafat Zakat Berdasarkan Qur’an dan Hadits, Jakarta: Litera Antar Nusa, Cet. 11, 2011, hal. 432 ).

Menurut hemat kami, pendapat Al Qaradhawi ini adalah pendapat yang lemah. Sebab sebagaimana dikatakan di atas, Al Qaradhawi telah menggunakan analogi sebagai dasar dalam menentukan zakat perikanan. Padahal, analogi (qiyas) tidak boleh dipakai dalam urusan ibadah. Karena ibadah memang tidak ada illat-nya. Artinya, karena memang kewajiban zakat perikanan tidak ada dalilnya sedikitpun, baik dari Al Qur’an maupun hadits, maka tidak ada kewajiban zakat ikan.

Imam Abu Ubaid sendiri dalam Kitab Al Amwal mengatakan, “Kami tidak pernah mengetahui ada seorang ulama pun yang mempraktikkan tentang pembayaran zakat ikan”. Beliau juga menulis, “Pada zaman Rasulullah tidak ada penghasilan kekayaan yang dikeluarkan dari laut. Oleh karena itu, kamipun tidak pernah mengetahui sebuah haditspun yang menjelaskan hal itu. Kami juga tidak pernah mendengar atsar para sahabat dari kalangan para Khalifah setelah wafat Rasulullah dan atsar itu dapat dipertanggungjawabkan kesahihannya. Oleh karena itu, menurut pendapat kami, kekayaan yang dihasilkan dari laut tidak dikenakan kewajiban mengeluarkan zakat, sebagaimana tidak dikenakan kewajiban zakat pada kuda dan budak”.

Sedangkan mengenai dalil bahwa Umar telah mewajibkan zakat atas penghasilan kekayaan laut, Abu Ubaid mengatakan bahwa pendapat itu tidak dapat dipertanggungjawabkan dan tidak dapat dipastikan bahwa itu merupakan pernyataan Umar. Abu Ubaid berkata, ”Sanad hadits itu dhaif dan tidak dikenal”. ( lihat Abu ‘Ubaid al-Qasim, Al Amwal : Ensiklopedia Keuangan Publik, Jakarta: GIP, 2009, hal. 438-440 ).

Kesimpulannya, tidak ada dalil yang mewajibkan adanya zakat ikan ( perikanan ). Tetapi, bila hasil keuntungan berbisnis ikan telah terwujud dan menjadi uang lalu telah mencapai nishab zakat uang ( nuqud ), yakni sebesar 20 dinar ( 85 gram emas atau senilai Rp. 189. 550.000.- dengan nilai tukar 1 dinar Rp. 2.230.000.- per 14/10/2011, www.wakalanusantara.com ) dan telah mencapai haul ( satu tahun hijriyah ), maka wajib dikeluarkan zakatnya sebesar 2,5%. Hal ini berdasarkan riwayat dari Ali bin Abi Thalib yang berkata,”Setiap 20 dinar zakatnya ½ dinar dan setiap 40 dinar zakatnya satu dinar”. Jadi yang wajib dizakati adalah uang yang dihasilkan, bukan ikannya. Wallahu a’lam bi shawwab ■

Sumber : Konsultasi Ulama, Suara Islam, Edisi 122, 21 Oktober – 4 November 2011 / 23 Dzulqaidah – 8 Dzulhijjah 1432 H

 ΩΩΩ

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in A. Cholil Ridwan, Fiqih, Zakat, Infak, Sedekah dan Wakaf and tagged , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Adakah Zakat Perikanan?

  1. Fuan says:

    Saya setuju dengan ustadz,, banyak sekarang brkembang pendapat yg mewajibkan zakat selain yg sudah disebutkan di atas, namun dalam masalah zakat uang, saya rasa zakat uang dulu bukan karena uangnya, tetapi karena uangnya berbentuk emas atau perak

  2. suciramadhan95@gmail.com says:

    assalamualaikum
    maaf saya sempat memperhatikan detail tentang kalimat yang ini “sebesar 20 dinar ( 85 gram emas atau senilai Rp. 189. 550.000.- dengan nilai tukar 1 dinar Rp. 2.230.000.- per 14/10/2011”
    tampaknya ada kekeliruan dalam penghitungan anda….
    hitungan saya 85 gram emas = Rp. 46.750.000 (1 gram emas = 550.000).
    walaupun kita hitungan dari Dinar hasilnya tidak jauh berbeda,1 dinar = Rp. 2.230.000.
    maka 20 dinar x Rp. 2.230.000 = Rp. 44.600.000.
    tidak ada kesenjangan yang jauh antara hitungan berdasarkan emas ataupun dinar.
    sedangkan dipostingan anda tertera (85 gram emas atau senilai Rp 189.550.000). mohon di benarkan kembali. terima kasih
    wassalam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s