Karakteristik Orang-orang Shaleh


Oleh : Ustadz Aam Amiruddin

Ustadz, doa apa yang kita panjatkan kepada Allah agar bisa menjadi orang shaleh ? Dan mohon dijelaskan ciri-ciri orang shaleh itu seperti apa ?

Yanna @ … com

Jawaban :

Sesungguhnya setiap shalat, kita selalu memohon kepada Allah untuk menjadi orang shaleh. Bukankah ketika shalat kita membaca Ihdinashshiraathal mustaqim, Shiraathalladziina an’amta ‘alaihim ghairil maghdhuubi ‘alaihim waladhdhaallin ( Ya Allah tunjukan kepada kami jalan yang lurus, yaitu jalan yang pernah ditempuh oleh orang-orang yang telah Engkau beri nikmat, dan bukan jalan orang-oarng yang Engkau benci dan jalan orang-orang sesat ).

Para ahli tafsir menyebutkan, yang dimaksud dengan “orang-orang yang telah diberi nikmat” adalah para nabi, shiddiqin ( orang-orang yang benar keimanannya), syuhada (orang-orang yang mati dalam membela agama Allah) dan shalihin ( orang-orang yang shaleh ). Jadi, dalam surat Al Fatihah terkandung doa menjadi orang shaleh.

Kesalehan bisa diraih bukan sekedar dengan doa tapi harus dibarengi dengan mujahadah (usaha yang sungguh-sungguh dan berkesinambungan). Berikut akan dijelaskan ciri-ciri orang yang shaleh, mudah-mudahan kita bisa melatih diri untuk mewujudkannya dalam diri kita. Ciri-cirinya sebagai berikut:

Salimul ‘Aqidah

Salimul ‘aqidah artinya keimanan yang lurus atau kokoh. Aqidah atau keimanan kepada Allah merupakan fondasi bangunan keislaman. Apabila fondasi keimanan itu kuat, insya Allah amaliah keseharian pun akan istiqamah ( konsisten ), tahan uji, dan handal.

Keimanan itu sifatnya abstrak, karenanya, untuk mengetahui apakah iman itu kokoh ataukah masih rapuh, kita perlu mengetahui indikator atau tanda-tanda iman yang kokoh.

1.  Memiliki muraqabatullah

Orang yang memiliki keimanan yang kokoh merasakan Allah sangat dekat dengan dirinya, mengawasi seluruh ucap dan geraknya. Dengan demikian akan tumbuh dari dirinya perilaku yang lurus dan selalu mawas diri. Inilah yang disebut Muraqabatullah, yaitu kondisi psikis dimana kita merasa ditatap, dilihat,dan diawasi Allah swt  kapan dan dimana pun berada. Adapun yang menjadi landasannya adalah:

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya.” ( QS. Qaaf 50 : 16 )

“Tidakkah kamu perhatikan bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah yang keempat. Dan tiada pembicaraan antara lima orang, melainkan Dia-lah yang keenam. Dan tiada ( pula ) pembicaraan antara ( jumlah ) yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia ada bersama mereka di mana pun mereka berada, kemudian Dia akan memberitakan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” ( QS. Al Mujadalah 58 : 7 )

2.  Dzikrullah

Orang yang memiliki keimanan yang kokoh akan merasakan kerinduan yang sangat kuat kepada Allah. Bila kita selalu merindukan-Nya, Dia pun akan merindukan kita. Dzikrullah adalah ekspresi kerinduan kepada Allah swt.

“Dan dzikirlah ( ingatlah ) Allah sebanyak-banyaknya, supaya kamu beruntung.” ( QS. Al-Jumu’ah 62 : 10 )

“Karena itu, ingatlah kepada-Ku, niscaya aku akan mengingatmu pula. Dan bersyukurlah kepada-Ku, serta janganlah kamu mengingkari nikmat-Ku.” ( QS. Al-Baqarah 2 : 152 ).

Allah swt. akan menyertai orang-orang yang selalu berdzikir/rindu kepada-Nya, sebagaimana dijelaskan dalam hadits qudsi berikut ini, “Aku adalah menurut persangkaan hamba-Ku kepada-Ku. Dan Aku bersamanya ketika ia menyebut-Ku dalam dirinya, maka Aku menyebutnya dalam diri-Ku. Ketika ia menyebut-Ku di tengah-tengah sekelompok orang, maka aku menyebutnya di tengah-tengah kelompok orang yang lebih baik dari mereka ( kelompok malaikat ).” ( HR. Imam Ahmad, Imam Bukhari, Imam Muslim, At-Tarmidzi, dan Ibnu Majah )

3. Meninggalkan syirik

Syirik artinya meyakini ada kekuatan atau kekuasaan yang setaraf dengan kekuasaan, kebesaran, dan keagungan Allah swt. Orang yang memiliki keimanan yang kokoh akan memiliki loyalitas atau kesetiaan yang fokus kepada Allah swt., karenanya dia akan meninggalkan seluruh perbuatan syirik. Syirik diklasifikasikan sebagai dosa yang paling besar sebagaimana dijelaskan dalam keterangan berikut. “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan dia mengampuni segala dosa selain dari ( syirik ) bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” ( QS. An-Nisaa : 48 )

4.  Rajin membaca, memahami, dan mengamalkan Al-Quran

Al Quran merupakan kitab suci yang merekam seluruh pesan-pesan Allah awt. Kita bisa menelaah apa saja yang Allah swt  sukai dan apa yang dimurkai-Nya. Orang yang memiliki iman yang kokoh akan berusaha membaca, memahami, dan mengamalkan apa yang ada dalam Al-Quran. “Ini adalah sebuah kitab yang Kami ( Allah ) turunkan kepadamu, yang di dalamnya penuh berkah, supaya mereka memperhatikan ayat-ayat-Nya, dan supaya mendapatkan pelajaran orang-orang yang mau menggunkan akalnya.” ( QS. Shaad 38 : 29 ).

Shahihul ‘Ibadah

Karakter orang shaleh berikutnya adalah shahihul ibadah, artinya benar dan tekun dalam beribadah. Ibadah adalah ekspresi lahiriah pengabdian seorang hamba kepada Allah swt.  Para ahli membagi ibadah pada dua bagian, yaitu Ibadah ‘Ammah dan Ibadah Khashshah.

Ibadah ‘Ammah adalah seluruh ucapan dan perbuatan – baik tampak ataupun tidak tampak – yang diridhai dan dicintai Allah swt. Misalnya, mencari ilmu, mencari nafkah, hormat kepada orang tua, ramah pada tetangga, dan lain-lain. Ini semua disebut ibadah ‘ammah  karena teknik pelaksanaanya tidak diatur secara detail tapi disesuaikan dengan tuntutan situasional.

Sedangkan ibadah Khashshah adalah ibadah yang teknik pelaksanaanya ditentukan atau diatur secara detail oleh Rasulullah saw. Misalnya ibadah shalat, haji, shaum, dll. Kalau kita shalat, maka ruku, sujud, dan seluruh gerakan serta bacaanya harus mengikuti sunah Rasulullah saw. Kita tidak dibenarkan menambahi atau menguranginya karena shalat merupakan ibadah khashshah.

Allah swt. Akan membalas seluruh pengabdian kita sesuai dengan usaha dan kesungguhan yang kita lakukan. Makin rajin kita beribadah, Allah pun makin dekat dengan kita. Makin malas kita mengabdi, Allah pun makin menjauhi kita. Karena itulah orang-orang shaleh akan rajin, tekun, dan khusu dalam beribadah kepada-Nya. Perhatikan keterangan berikut. “Jika ia manusia bertaqarrub ( beribadah ) kepada-Ku satu jengkal, maka Aku akan mendekat kepadanya satu hasta. Jika ia berataqarrub kepada-Ku satu hasta, maka Aku mendekat kepadanya satu depa. Dan apabila ia mendatangi-Ku dengan berjalan, maka Aku mendatanginya dengan berlari.” ( HR. Imam Ahmad, Imam Bukhari, Imam Muslim, At-Tarmidzi, dan Ibnu Majah ).

Akhlaaqul Kariimah                                                                   

Orang shaleh bukan hanya pandai mengabdikan dirinya kepada Allah swt  yang diekspresikannya dengan Aqidah Salimah dan Shahihul Ibadah seperti yang telah dijabarkan di atas, tapi orang shaleh juga sangat santun dan perhatian kepada sesama manusia. Sikap ini dalam bahasa praktis disebut Akhlaqul Karimah, artinya berakhlak mulia dan santun kepada orang lain. Orang shaleh akan memiliki akhlak berikut:

1. Tidak menghina dan zhalim ( aniaya ) kepada orang lain

“Seorang Muslim adalah saudara bagi sesama Muslim. Karena itu janganlah menganiayanya, jangan membiarkannya teraniaya, dan jangan menghinanya. Taqwa tempatnya di sini! – sambil beliau menunjuk dadanya tiga kali –. Alangkah besar dosanya menghina saudara sesama Muslim. Setiap Muslim haram menumpahkan darah sesama Muslim, haram merampas hartanya, dan haram mencemarkan kehormatan dan nama baiknya,” ( HR. Muslim, Jilid IV, No. 2193 )

2. Tidak berprasangka buruk, tidak mencari-cari keburukan orang lain, tidak dengki, serta bersaing secara sehat

“Hindari prasangka buruk, karena dia berita paling bohong. Jangan saling mencari keburukan, jangan saling mengorek aib, jangan bersaing secara tidak sehat, jangan saling mendengki, jangan saling marah, dan jangan saling tidak peduli. Tetapi jadilah kamu semua bersaudara sebagai hamba-hamba Allah.” ( HR. Muslim, jilid IV, No. 2119 )

3. Bersikap Ramah

“Janganlah kamu menganggap sepele ( remeh ) pada kebaikan, walaupun sekedar menampakkan wajah yang ramah saat bertemu saudaramu ( sesungguhnya itu adalah kebaikan ).” ( HR. Muslim )

“Wajah yang ramah saat bertemu saudaramu, itu merupakan shadaqah.” (HR. Tirmidzi)

“Sejak masuk Islam, saya menyaksikan wajah Rasul selalu tersenyum ramah.” ( HR. Bukhari dan Muslim )

4.  Berbicara Santun dan Menghargai Orang Lain

“Serulah ( manusia ) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah ( bijaksana ) dan nasihat yang baik, serta berdiskusilah dengan cara yang baik…” ( QS. An-Nahl 16 : 125 )

5.  Mendoakan yang baik untuk orang lain

“Sesungguhnya doa seorang Muslim yang dipanjatkan tanpa sepengetahuan orang yang didoakan, pasti dikabulkan karena di atas kepalanya ada malaikat. Setiap kali orang itu mendoakan kebaikan untuk orang lain, malaikat itu menyahutnya: “Amien! Mudah-mudahan Allah mengabulkan dan memberikan kebaikan yang sama kepadamu.” ( HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad ).

“Doa yang paling cepat dikabulkan adalah do’a yang dipanjatkan tanpa sepengetahuan orang yang didoakan.” ( HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad )

6.  Berusaha meringankan beban orang lain

“Siapa yang menolong kesusahan seorang Muslim dari kesusahan-kesusahan dunia, pasti Allah akan menolongnya dari kesusahan-kesusahan akhirat. Siapa yang meringankan beban orang yang susah, niscaya Allah akan meringankan bebannya di dunia dan akhirat. Siapa yang menutup aib seorang Muslim, niscaya Allah akan tutup aibnya di dunia dan akhirat. Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya selama si hamba itu suka menolong orang lain.” ( HR. Bukhari )

7.    Berusaha mencintai orang lain dengan tulus tanpa meminta imbalan

Abu Hurairah ra, berkata: Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Allah swt  berfirman pada hari kiamat: “Mana orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku? Hari ini akan Aku naungi ( tolong ) mereka, dimana tidak ada naungan (pertolongan) yang lain selain dari-Ku.” ( HR. Muslim, jilid IV, No. 2197 )

Kesimpulannya, setiap shalat kita mendoa menjadi orang shaleh. Keshalehan dapat kita raih bukan hanya denga doa, tapi dengan melatih diri untuk mencapainya. Secara garis besar ada tiga tanda keshalehan, yaitu Shalehul Aqidah ( memiliki keimanan yang laurus dan kokoh ), Shaliihul Ibadah ( rajin dan benar dalam beribadah ), dan Akhlaqul Kariimah ( berakhlak mulia ). Wallahu A’lam

Sumber : Bedah Masalah, Majalah Percikan Iman, No. 9 Thn. II September 2001 / Jumadil Tsaniyah  1422

Gambar : Buku Sudahkah Aku Jadi Orangtua Shaleh ? — Jinanshop.wordpress.com

       ΩΩΩ

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Aam Amiruddin, Akhlak, Aqidah, Ibadah and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Karakteristik Orang-orang Shaleh

  1. Pingback: Karakteristik Orang-orang Shaleh | Wina Apriana =))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s