Hewan yang Diharamkan


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz, pada waktu sekolah kami diberi tahu mengenai hewan yang haram dikonsumsi, di antaranya yang hidup di dua alam, mempunyai taring, dan berkuku tajam. Apakah ada hadis yang menjelaskan tentang hal ini?

Hamba Allah

Jawaban :

Hukum asal segala sesuatu itu adalah boleh, maka tidak ada yang haram kecuali yang ditetapkan oleh nash syara, baik Al-Quran maupun hadis sahih. Pada dasarnya, tidak ada dalil dari nash syar’i dengan tegas mengharamkan binatang yang hidup di dua alam kecuali tentang kodok yang dijelaskan dalam hadis. Nabi melarang untuk membunuhnya ketika ditanya seorang tabib yang akan menggunakannya sebagai obat. Perbedaan pendapat ulama soal hewan yang hidup di dua alam itu timbul karena perbedaan mereka dalam menentukan apakah hewan itu dianggap sebagai hewan laut atau hewan darat. Karena kalau hewan-hewan itu dianggap hewan laut, berdasarkan banyak dalil umum dalam Al-Quran, itu halal untuk dikonsumsi tanpa harus disembelih terlebih dahulu.

Mazhab Hanafi berpendapat, semua hewan air, baik yang hidup di air atau yang hidup di air maupun darat, adalah haram kecuali ikan karena mereka mengartikan sabda Nabi bahwa bangkainya pun halal itu khusus untuk ikan.

Mazhab Maliki menyatakan, semua binatang yang hidup di air itu halal dan boleh dimakan. Ini berdasarkan umumnya dalil Al-Quran dan hadis yang tidak menyebutkan pengecualian.

Mazhab Syafi’i memandang, semua hewan air halal dan boleh dimakan kecuali kodok. Mazhab Hanbali menegaskan, semua hewan yang hidup di air atau di dua alam halal kecuali kodok, ular, dan buaya. Mereka juga menyatakan, hewan air itu halal bangkainya, sedangkan hewan yang hidup di dua alam, seperti anjing laut, maka tidak boleh dimakan kecuali setelah disembelih terlebih dahulu. Selain itu, dalil bagi yang mengatakan ular itu haram adalah karena ia beracun dan hewan menjijikkan. Wallahu a’lam bish shawab ■

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Sabtu , 14 April 2012 / 22 Jumadil Awal 1433

 ΩΩΩ

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bachtiar Nasir, Fiqih and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s