Hukum Tawasul


Oleh : Ustadz Mohammad Baharun

Bagaimana hukum tawasul ? Sebab, praktik ini sampai kini masih menimbulkan pro dan kontra di kalangan umat Islam, terutama Muslimin awam. Ada yang secara ekstrem bilang syirik, ada pula yang paling moderat berkata tidak ada dasr hukumnya. Bagaimana ?

Mustafa Umar, S.Ag. , Situbondo, Jawa Timur

Jawaban :

Dasar tawasul adalah Al-Quran dan  sunah. Antara lain firman Allah, “Wahai orang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah untuk sampai kepada-Nya dan berjihadlah di jalan-Nya, supaya kamu berbahagia.” ( QS Al-Maidah : 35 ). Wasilah di sini artinya perantara, dari akar kata tawassul, dalam bahasa Arab.

Dalam ayat lain Allah berfirman pula, “Jika mereka telah berbuat aniaya terhadap dirinya ( berbuat dosa ), lalu mereka datang kepadamu ( hai Rasul ) dan meminta ampunan  kepada Allah, dan Rasul memohonkan ampunan untuk mereka, tentulah Allah Maha Penerima Tobat dan Maha Penyayang.” ( QS An-Nisa : 64 ).

Dasar sunahnya adalah periwayatan dari Anas bin Malik. Ia berkata, “Manakala musim kemarau tiba, Umar bin Khaththab RA bertawasul melalui Abbas bin Abdul Muthalib RA, ia berkata, “Ya Allah, kami pernah berdoa dan bertawasul kepada-Mu melalui nabi kami Muhammad SAW, maka turunkanlah hujan. Dan sekarang kami bertawasul melalui paman Nabi, maka turunkanlah hujan!” Anas berkata,”Maka turunlah hujan kepada kami!” ( HR Bukhari : 954 ).

Dari riwayat ini kita dapat informasi penting tentang tawasul. Yaitu, praktik berdoa melalui perantaraan ini juga sudah dulakukan para sahabat di zaman Rasulullah SAW. Atas dasar itu, tawasul, praktik permohonan doa seseorang kepada Allah melalui orang yang saleh, ada dan dibenarkan. Baca Syawahidul Haq, halaman 157 dan158; Kasyf  an-Nur al-Anshab al-Qubur, halaman 13 ; dan Empat Puluh Masalah Agama ( K.H. Sirajuddin, 137-138 ) ■

Sumber : Konsultasi Akidah, Majalah Al Kisah, No. 16 / Tahun III / 1  –  14 Agustus 2005 / 25 Jumadil Akhir  – 9 Rajab 1426 H

ΩΩΩ

Entri Terkait :

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Aqidah, Mohammad Baharun and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Hukum Tawasul

  1. Jalmi Laip says:

    Berikut sebagai informasi tambahan , saya sajikan sebuah uraian tentang wasilah dari Ensiklopedi Islam:

    WASILAH ( Arab : wasīlah = jalan atau sebab yang mendekatkan diri kepada Allah SWT atau yang lain ). Jalan atau sarana yang dijadikan oleh seseorang untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan cara yang telah disyariatkan oleh Allah SWT, yaitu iman dan amal saleh disertai dengan memperbanyak ibadah. Pendekatan ini dilakukan langsung oleh seseorang kepada Allah SWT tanpa melalui perantara.

    Dalam Al-Quran, kata wasilah disebutkan dua kali pada dua tempat yang berbeda, yaitu dalam surah al-Ma’idah ayat 35 yang artinya:”Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah SWT dan carilah wasilah ( jalan yang mendekatkan diri ) kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan” dan surah al-Isra ayat 57 yang artinya : “Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari wasilah ( jalan kepada Tuhan ) mereka, siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya.”

    Menurut para mufasir ( ahli tafsir ), yang dimaksud dengan wasilah dalam Al-Quran adalah amal saleh, jalan atau sarana yang dipakai oleh seseorang untuk dekat kepada Allah SWT. Jalan atau sarana tersebut, antara lain, berupa usaha perorangan dengan memperbanyak ibadah, berbuat kebajikan, menegakkan budi pekerti yang tinggi, dan belas kasihan kepada sesama manusia.

    Wasilah juga menunjukkan nama suatu tempat yang diistimewakan dalam surga yang diperuntukkan bagi seorang hamba Allah SWT. Hal ini didasarkan pada sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Imam Ahmad bin Hanbal (Imam Hanbali), dan Ashāb as-Sunan al-Arba’an ( Sunan Ibnu Majah, Sunan Abu Dawud, Sunan an-Nasa’i , dan Sunan at-Tirmizi ) kecuali Ibnu Majah dari Ibnu Umar yang artinya : “Rasulullah SA W bersabda : ‘Jika kalian mendengar azan, hendaklah kalian membaca apa yang dibaca oleh orang yang azan itu. Setelah selesai hendaklah kalian ucapkan shalawat buat aku, sesudah itu mohonlah agar Allah SWT menganugerahkan wasilah kepadaku.’ Rasulullah SAW mengatakan bahwa wasilah itu suatu hal yang istimewa di dalam surga yang disediakan hanya untuk seorang hamba Allah SWT. Kata Rasulullah SAW selanjutnya ,’Aku berharap mudah-mudahan akulah hamba Allah SWT itu. Maka barangsiapa yang memohonkan wasilah itu untukku, layaklah ia memperoleh syafaat’”

    Wasilah juga berarti permintaan tolong kepada orang lain yang masih hidup untuk membaca doa dan memohon sesuatu kepada Allah SWT. Hal ini pernah dilakukan oleh para shahabat Rasulullah SAW. Mereka meminta Nabi SAW agar mendoakan mereka. Pernah pula Umar bin Khattab ketika mengerjakan shalat istisqa ( minta hujan ) meminta paman Nabi SAW, Abbas bin Abdul Muttalib, agar membaca doa. Oleh sebab itu, meminta tolong kepada orang yang masih hidup untuk berdoa tidak dilarang oleh agama. Inilah yang dimaksud wasilah dengan doa Nabi SAW dan orang-orang saleh lainnya.

    Pada Abad Pertengahan dan pada masa tumbuh dan berkembangnya tarekat-tarekat sufi, pribadi Nabi SAW dan orang-orang saleh, terutama para tokoh sufi besar, dijadikan sebagi wasilah ( perantara ) kepada Allah SWT dan selalu disebut-sebut atau diucapkan pada setiap kali berdoa kepada Allah SWT. Karena kesalehannya, mereka dipandang dapat membantu mengantarkan doa kepada Allah SWT sehingga menyebabkan terkabulnya doa seseorang. Lebih dari itu, banyak orang datang ke kuburan pribadi-pribadi itu dan meminta supaya mereka memenuhi hajat, menolak bahaya, dan memberi manfaat. Akhirnya orang menyeru penghuni kubur bersama Allah SWT dalam meminta terkabulnya hajat ( kebutuhan ). Inilah pengertian wasilah yang berkembang dalam masyarakat Islam pada umumnya sampai sekarang, terutama berkembang di kalangan masyarakat penganut tarekat sufi. Dengan demikian, untuk dekat kepada Allah SWT tidak lagi mengutamakan keimanan dan kesalehan pribadi seseorang, melainkan menyandarkan diri pada kesalehan probadi orang-orang yang sudah meninggal yang dijadikan sebagai wasilah.

    Wasilah dalam pengertian yang terakhir inilah yang dipandang sebagai perbuatan syirik oleh Ibnu Taimiyah. Ia berpendapat bahwa untuk dekat kepada Allah SWT tidak perlu menyandarkan diri pada kesalehan orang-orang yang sudah meninggal dan menjadikannya sebagai perantara, melainkan harus dengan iman, takwa, dan kesalehan pribadi masing-masing.

    Sumber : Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam , Ensiklopedi Islam , Jilid 5 , Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 2001, hlm. 195-196

  2. ryan says:

    Assalamualaikum,
    Saya awam terhadap hukum2 agama dan kebetulan sedang baca2 tetang dasar hukum tawasul di internet. Yang saya tangkap dari sana sini adalah memang benar2 ada dasar hukum tawasul dari Qur’an dan Hadist seperti yang disampaikan di atas, namun demikian sampai saat ini “wasilah syar’i” yang saya temukan adalah amal/do’a dan Nabi SAW serta individu yang masih hidup. Tidak/belum saya temukan dasar hukum bertawasul kepada individu yang telah meninggal walau individu tersebut adalah Nabi kita SAW
    Pernah saya baca dalam suatu buku yang menyatakan para nabi dan para syuhada hakekatnya tetap hidup dan menjadi alasan untuk bertawasul, namun dari hadist di atas bisa kita ketahui bahwa walau memang nabi SAW pada hakekatnya tetap hidup (menjawab salam dsb) namun karena para sahabat meninggalkan tawasul kepada beliau ketika beliau SAW telah wafat
    Saya tidak sektarian, dari lingkungan sekuler, terexposed pada ajaran Islam “modern” dan “tradisional”. saya ingin amalan saya yang amat sangat sedikit dilakukan dengan benar. Dan kl boleh saya curhat saya rasa “wahabi” kadang terasa terlalu menyederhanakan hal, namun demikian jika mau “aman” interprestasi merekalah yang rasanya masuk akal dan bisa dipertanggung jawabkan dasar2 hukumnya… Walahualam
    kadang saya bingung juga..🙂 mudah2an Allah memberi petunjuk dan Hidayah kepada kita semua. Amin
    Wassalam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s