Pelaksanaan Wasiat


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz, ada dua rumah peninggalan orang tua saya. Semasa hidupnya, bapak saya bilang dua rumah itu dikontrakkan, hasilnya untuk biaya pendidikan anak, cucu, dan keponakan. Kami lima bersaudara terdiri atas dua perempuan dan tiga laki-laki. Selama kurang lebih 15 tahun rumah tersebut dikuasai oleh kedua adik saya.

Begitupun dengan hasil kontrakannya, tanpa menjalankan apa yang orang tua saya rencanakan. Saya sudah berusaha untuk memberikan peringatan kepada mereka, tapi hasilnya tidak ada. Apa yang harus saya lakukan dengan amanat bapak saya itu?

Hamba Allah

Jawaban :

Sebenarnya, untuk masalah pembagian harta warisan yang ditinggalkan oleh seseorang kepada ahli warisnya, Allah SWT telah mengaturnya dengan secara terperinci dalam Al-Quran. Dan, inilah satu-satunya permasalahan yang hukumnya diatur secara perinci. Itu hanya dalam tiga ayat, yaitu di Surah al-Nisa ayat 11, 12, dan 176.

Tindakan yang bapak Anda lakukan dengan mengontrakkan rumah itu kemudian memberikan hasilnya kepada anak, cucu, dan keponakannya, jika ia melakukan itu pada masa hidupnya maka itu adalah bentuk pemberian ( hibah ) dan hal itu dibolehkan. Tetapi, jika ia melakukan itu setelah meninggal, dalam arti beliau menyuruh Anda untuk mengontrakkan rumah itu setelah beliau wafat maka itu berarti wasiat.

Dalam Islam, tidak diperbolehkan memberikan wasiat kepada ahli waris karena mereka akan mendapatkan bagian dari harta waris. Dan, kalaupun mau memberikan wasiat kepada ahli waris maka menurut jumhur ulama harus atas persetujuan ahli waris yang lainnya.

Dan, untuk yang diwasiatkan, jika wasiat bapak Anda tidak sesuai hukum Islam dalam hal ini dengan berwasiat kepada ahli waris maka Anda tidak perlu menaatinya. Dan, seharusnya Anda dan saudara-saudara Anda yang lain membagikan harta warisan orang tua itu sesuai hukum kewarisan Islam.

Dalam hal ini, ahli warisnya adalah Anda dan empat orang saudara yang lain. Sesuai hukum kewarisan Islam, anak laki-laki mendapat dua kali lipat bagian anak perempuan. Jika kedua rumah itu tetap disewakan maka hasil sewaannya harus dibagikan kepada ahli waris sesuai dengan bagiannya dalam hukum kewarisan Islam. Namun, jika sebagian saudara merelakan bagiannya diambil oleh yang lain, hal itu dibolehkan dengan syarat dia mengetahui ada bagiannya dalam harta tersebut.

Bila Anda mau menjual rumah-rumah tersebut maka hasil penjualannya harus dibagikan sesuai bagian masing-masing menurut hukum kewarisan Islam. Wallahu a’lam bish shawab ■

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Selasa,10 April 2012/18 Jumadil Awal 1433 H

ΩΩΩ

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bachtiar Nasir, Fiqih, Waris and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s