Mengqadha Shalat yang Ditinggalkan


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz, teman saya setiap melakukan shalat fardu selalu melakukannya dua kali ( bukan shalat sunah rawatib ). Setelah saya tanya ternyata dia melakukan shalat qadha untuk membayar shalat yang sering ia tinggalkan beberapa tahun yang lalu sebelum dia insaf. Benarkah itu? Adakah dalilnya? Dan bagaimana hukumnya Ustadz ?   —  Abu Falach

Jawaban :

Shalat merupakan kewajiban dan ritual ibadah yang paling utama dalam Islam setelah syahadat yang semestinya selalu dilaksanakan pada waktunya oleh seorang Muslim dan selalu dijaganya agar jangan sampai sekalipun ia meninggalkannya kecuali ada halangan syar’i khususnya bagi wanita Muslimah. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya shalat itu adalah fardu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.“ ( QS al-Nisa` [4]: 103 ).

Adapun masalah meninggalkan shalat fardu bagi seorang Muslim maka hal itu dapat dibagi kepada dua keadaan. Pertama, yang meninggalkan shalat karena lupa atau ketiduran. Dalam hal ini ulama sepakat bahwa dia tidak berdosa dan harus melaksanakan shalat yang tertinggal karena tidur atau lupa tersebut ketika dia ingat dan telah bangun dari tidurnya. Hal itu berdasarkan hadis Nabi SAW.

Diriwayatkan dari Anas bin Malik RA, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Jika salah seorang dari kalian tertidur hingga terlewatkan waktu shalat, atau dia lupa untuk melaksanakannya pada waktunya, maka hendaklah dia melaksanakan shalat itu ketika ia ingat karena sesungguhnya Allah berfirman, `Dirikanlah shalat untuk mengingatku’.“ ( HR Bukhari dan Muslim, ini lafadz Muslim ).

Diriwayatkan dari Anas RA bahwasanya Nabi SAW bersabda, “Barang siapa yang lupa mengerjakan shalat, hendaklah ia mengerjakannya bila telah ingat dan selain itu tidak ada kewajiban kaffarat yang lain.“ ( HR Bukhari ).

Diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah bahwa Umar bin al-Khattab datang kepada Nabi SAW setelah matahari terbenam dan mencaci maki kaum Qurays, dan berkata, “Ya Rasulullah, saya belum shalat Ashar sehingga matahari terbenam.“ Maka Nabi SAW bersabda, “Sungguh aku juga belum shalat. Umar lalu berkata, `Kami pun bangun bergerak ke Buthan ( sebuah tempat di Madinah ), lalu baginda SAW berwudhu untuk shalat, dan kami pun berwudhu ( untuk shalat ). Baginda SAW kemudian mendirikan shalat Ashar selepas terbenamnya matahari, kemudian mendirikan shalat Maghrib selepasnya ( selepas shalat Ashar ).“ ( HR Bukhari ).

Rasulullah SAW juga bersabda, “Sesungguhnya orang yang ketiduran tidaklah dikatakan tafrith ( meremehkan ). Sesungguhnya yang dinamakan meremehkan adalah orang yang tidak mengerjakan shalat sampai datang waktu shalat berikutnya, maka barang siapa yang melakukan hal itu hendaklah dia shalat ketika dia ingat.“ ( HR Muslim ).

Kedua, yang meninggalkan shalat dengan sengaja tanpa ada uzur ( halangan syar’i ). Dalam hal ini, para ulama sepakat bahwa ia telah melakukan suatu dosa besar, bahkan sebagian ulama menganggapnya telah kafir keluar dari Islam berdasarkan hadis-hadis yang menegaskan bahwa yang membedakan orang Muslim dengan orang kafir adalah shalat.

Dan para ulama sepakat bahwa dia wajib bertobat dengan tobat nasuha atas dosa besar yang telah dilakukannya, tapi para ulama berbeda pendapat mengenai apakah wajib baginya mengqadha semua shalat yang telah ditinggalkan dengan sengaja di masa lalu. Jumhur ulama dari empat mazhab yang diikuti oleh mayoritas umat Islam sekarang, yaitu Hanafi, Malik, Syafi’i, dan Hanbali berpendapat, wajib bagi yang meninggalkan shalat fardu secara sengaja untuk mengqadha shalat yang ditinggalkannya itu.

Di antara dalil pendapat mereka, jika orang yang lupa atau tertidur saja dimaafkan dan tidak berdosa, diwajibkan untuk mengqadha shalat yang dia tinggalkan, maka orang yang meninggalkan secara sengaja lebih diwajibkan lagi karena dia tidak ada halangan syar’inya.

Mereka juga berlandaskan pada hadis Nabi SAW di atas yang menjelaskan bahwa Nabi SAW mendirikan shalat Ashar pada saat perang Khandaq ketika telah masuk waktu Maghrib yaitu dengan terbenamnya matahari karena disibukkan jihad melawan kaum musyrikin hingga lupa, maka orang yang tidak disibukkan oleh jihad lebih diwajibkan lagi. Dan menurut mereka karena ia telah bermaksiat kepada Allah SWT maka di antara tanda kesempurnaan tobatnya adalah dengan mengqadha shalat-shalat yang telah ditinggalkan.

Kedua, pendapat Ibnu Hazm, Ibnu Taimiyyah, dan sebagian ulama mazhab Syafi’i yang mengatakan, orang yang meninggalkan shalat secara sengaja, tidak mengqadha shalat yang ditinggalkanya tersebut, tapi dia harus bertobat dengan sungguh-sungguh dan memperbanyak istighfar dan shalat-shalat sunah karena tobat itu menutupi dan menghapus semua dosa dan kesalahan yang telah lalu.

Sedangkan dalil mereka adalah shalat itu merupakan ibadah yang telah ditentukan waktunya maka tidak boleh dilakukan di luar waktu tersebut, baik sebelum waktunya ataupun sesudahnya tanpa halangan atau alasan syar’i.

Berdasarkan pendapat jumhur ulama di atas maka apa yang dilakukan oleh teman adalah benar, di mana dia mengqadha shalat-shalat yang telah ditinggalkannya dengan sengaja pada masa lalu sampai dia merasa telah mengqadha semua shalat yang ditinggalkannya tersebut. Wallahu a’lam bish shawab ■

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Sabtu , 7 April 2012 / 15 Jumadil Awal 1433 H

ΩΩΩ

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bachtiar Nasir, Fiqih, Shalat and tagged , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Mengqadha Shalat yang Ditinggalkan

  1. mustiko says:

    wah betul pak ustad dengan begitu semua umat islam rajin serta secara langsung disiplin
    waktu dan bukanyanya nanti bukti kita supaya dikenal oleh baginda rasulloh di padang maksar

  2. ramadhan says:

    meskipun Allah telah mengampuni segala dosa kita ketika kita bertaubat (Insya Allah), alangkah baiknya jika kita juga melaksanakan kewajiban kita yang tertinggal dahulu

  3. awabi says:

    lao kita bkerja sengaja g solat dhuhur krn msih ngirim….tp stelah itu d qada’ dgn cr sholat ashar dlu bru mengqada’sholat dhur gmn hukumx…minta pnjelasanx thnks.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s