Bedakah Zakat Semasa Nabi dengan Saat Ini ?


Oleh : KH Didin Hafidhuddin

Bagaimama zakat diberlakukan pada saat Nabi Muhammad SAW hidup, saat para sahabat, dan penerusnya ? Hingga kini adakah yang berubah dan karena apa ?

Evasari Wulandari, Bandung

Jawaban :

Ketika Rasulullah saw masih berada di Makkah dalam rangka melakukan pembinaan aqidah dan keyakinan umat, ayat-ayat tentang zakat sudah diwahyukan ( diturunkan ) kepada beliau, misalnya QS. 30 : 39 dan QS. 51 : 19. Tetapi ayat-ayat tersebut baru berisikan penyadaran kepada umat bahwa pada setiap harta yang kita miliki ada hak orang lain yang membutuhkan, misalnya untuk  fakir miskin. Demikian pula berisikan penyadaran dan dorongan kuat untuk berzakat. Sebab, zakat itu meskipun kelihatannya mengurangi harta kita, akan tetapi justru hakikatnya akan menambah, mengembangkan, dan memberkahi harta yang kita miliki.

Pada periode Madaniyyah ayat-ayat tentang zakat sudah terinci meliputi rincian tentang golongan yang berhak ( mustahik ) zakat ( QS. 9 : 60 ) , zakat itu disamping diserahkan langsung oleh muzakki ( orang yang berzakat ) atas dasar keikhlasan dan kesadarannya zakat juga harus diambil oleh para petugas yang dikhususkan untuk melakukan kegiatan tersebut ( QS. 9 : 130 ), dan diuraikan pula beberapa komoditas yang termasuk harta yang wajib dikeluarkan zakatnya dengan persyaratan tertentu yang harus dipenuhi ( nisab, persentase zakat, waktu pengeluarannya ). Zakat pertanian, tumbuhan, dan hasil tanaman ( QS. 6 : 141 ), zakat emas dan perak ( QS. 9 : 34 – 35 ), zakat peternakan ( al-hadits ), zakat barang temuan ( al-hadits ), zakat perdagangan ( al-hadits ), dan zakat hasil usaha ( QS. 2 : 267 ).

Pelaksanaan zakat di zaman Rasulullah saw dan yang kemudian diteruskan para sahabatnya yaitu para petugas mengambil zakat dari para muzakki, atau muzakki sendiri secara langsung menyerahkan zakatnya pada baitul Maal, lalu oleh para perugasnya ( amil zakat ) didistribusikan kepada para mustahik.

Pada zaman sekarang pun sesungguhnya inti dan substansi zakat itu tidak ada yang berubah dan  memang tidak boleh berubah. Hanya saja diperlukan penafsiran kembali tentang beberapa hal yang berkaitan zakat sesuai dengan perkembangan zaman dan kemaslahatan umat. Dalam melakukan penafsiran kembali tetap harus berlandaskan pada kaidah-kaidah yang bisa dipertanggungjawabkan, mislanya melalui qiyas ( analogi ).

Beberapa hal yang perlu mendapatkan penafsiran kembali antara lain : Pertama, kriteria mustahik zakat, misalnya pada asnaf sabilillah. Jika zaman Nabi Muhammad dan para sahabat yang termasuk pada asnaf ini adalah para sukarelawan perang yang tidak memiliki gaji tetap.

Pada saat sekarang, bolehkah atas nama asnaf ini dimasukkan pembangnan sarana ibadah, sarana pendidikan,  perpustakaan, sarana kesehatan, training para da’i, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan pembangunan kekuatan umat ? Mayoritas ulama berpendapat boleh, sebagian lagi menyatakan tidak boleh.

Kedua, harta objek zakat. Apakah hanya terbatas pada objek-objek zakat yang sebagaimana terdapat di zaman Nabi ataukah boleh dikembangkan. Misalnya di zaman Nabi peternakan hanya tiga macam : unta, sapi, dan kambing / domba. Bagaimana halnya halnya dengan peternakan ayam, itik, dan lain sebagainya dan juga profesi-profesi yang di zaman Nabi tidak ada tapi sekarang bermunculan dan sangat beragam. Ternyata bila dilihat dalam nash-nash yang bersifat umum, seperti dalam QS. 9 : 103 dan QS. 2 : 267, maka semua harta yang belum ada contohnya di zaman nabi menjadi “harta yang bernilai”, maka jika memenuhi syarat wajib zakat, harus dikeluarkan zakatnya.

Ketiga, aspek pengelolaan. Jika dahulu hanya ditekankan pada pembagian yang bersifat konsumtif, kini perlu ditekankan pada pembagian yang bersifat produktif, meskipun tetap memperhatikan aspek konsumtif ■

Sumber : Konsultasi Zakat, Republika, Jumat, 7 Desember 2001/21 Ramadhan 1422 H

  • Prof. Dr. KH. Didin Hafidhuddin, MS. , Ketua Umum BAZNAS

 ΩΩΩ

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Didin Hafidhuddin, Zakat, Infak, Sedekah dan Wakaf and tagged , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s