Adopsi Anak dalam Islam


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustaz, saya sudah menikah lebih dari lima tahun dan karena tidak dikarunia anak, pada 2005 saya mengadopsi anak adik istri (A). Adopsi ini disahkan oleh pengadilan sehingga dalam akta kelahiran tercatat anak dari adik ipar (A) dan pada lembar berikutnya ditulis sesuai putusan pengadilan dilakukan adopsi oleh saya.

Penulisan nama orang tua masih tercatat nama A karena saya tidak ingin menghilangkan nama asal usul dari si anak. Bagaimanakah syariat Islam memandang adopsi, bagaimana hak warisnya, dan bagaimana sebaiknya penulisan nama anak dalam dokumen seperti ijazah?

Hamba Allah

Jawaban :

Anak angkat sudah dikenal sejak zaman jahiliah sebelum datangnya Islam dan dibolehkan pada masa awal Islam. Dahulu anak angkat dinasabkan kepada ayah angkatnya, boleh menerima waris, boleh berkhalwat ( berdua-duaan ) dengan anak serta istrinya, dan istri anak angkat haram bagi ayah angkatnya.

Secara umum anak angkat layaknya anak kandung di dalam segala urusan. Bahkan, Zaid bin Haritsah yang merupakan anak angkat Nabi dipanggil dengan nama Zaid bin Muhammad. Kemudian, Allah mengharamkan pengankatan anak ( adopsi ) dan mengharamkan anak angkat dinasabkan kepada ayah angkat secara hakiki, bahkan anak-anak juga dilarang bernasab kepada selain bapak mereka yang asli.

Allah juga menghapuskan semua hal yang dibolehkan yang disebabkan hubungan antara anak angkat dan keluarga angkatnya. Untuk itu, dibolehkan seseorang menikahi anak angkatnya,  tidak ada saling mewarisi antara mereka, dan anak angkat bukan mahram bagi istri dan anak dari ayah angkatnya. Hal itu dijelaskan dalam Al-Quran dan hadis-hadis Rasulullah.

“Dan Dia tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu ( sendiri ). Yang demikian itu hanyalah perkataanmu di mulutmu saja. Dan Allah mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukkan jalan ( yang benar ). Panggilah mereka ( anak-anak angkat itu) dengan ( memakai ) nama bapak-bapak mereka. Itulah yang lebih adil pada sisi Allah. Dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, ( panggilah mereka sebagai ) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu. Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi ( yang ada dosanya ) apa yang disengaja oleh hatimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” ( QS al-Ahzab [33] : 5 ).

“Barang siapa menyandarkan dirinya kepada selain bapaknya, atau kepada selain tuan-tuannya, maka ia akan mendapatkan laknat Allah yang berkelanjutan hingga datang hari kiamat.” ( HR Abu Daud ). Hadis lainnya menyebutkan, “Barang siapa menasabkan diri kepada selain ayahnya, padahal ia tahu bukan ayahnya, maka surga haram baginya.” (HR Bukhari dan Muslim).

“Tidak ada seseorang pun yang menasabkan dirinya kepada selain ayahnya, padahal dia tahu dia bukan ayahnya kecuali dia telah kafir.” ( HR Bukhari dan Muslim ).

Berdasarkan ayat dan hadis-hadis tersebut di atas, hukum adopsi dengan menasabkan anak yang diadopsi ke pada orang tua yang mengadopsinya adalah haram dalam Islam.

Dan, sebenarnya tidak ada hubungan apa pun antara anak angkat dan keluarga angkatnya. Anak angkat itu harus diberi tahu siapa ayah dan ibunya yang sebenarnya kalau itu belum diketahui. Tetapi, hal itu bukan berarti Islam melarang umatnya untuk berbuat baik dan menolong anak yatim dan telantar yang membutuhkan pertolongan. Sama sekali tidak!

Islam melarang sikap berlebihan terhadap anak angkat seperti yang dilakukan oleh orang-orang pada zaman jahiliah. Agama Islam sangat menganjurkan perbuatan menolong anak yatim dan anak telantar yang tidak mampu dengan membiayai hidup, mengasuh, dan mendidik mereka dengan pendidikan Islam yang benar.

Bahkan, perbuatan ini termasuk amal saleh yang bernilai pahala besar di sisi Allah SWT. Rasulullah bersabda, “Aku dan orang yang menanggung anak yatim ( kedudukannya ) di surga seperti ini,” kemudian beliau mengisyaratkan dengan jari telunjuk dan jari tengah beliau, serta agak merenggangkan keduanya. ( HR Bukhari ).

Dan, karena tidak ada hubungan apa pun antara anak angkat dan keluarga angkatnya, mereka juga tidak saling mewarisi, yang berarti bahwa anak angkat tidak berhak mendapatkan apa pun dari harta warisan orang tua angkatnya. Karena, kewarisan dalam Islam itu berdasarkan hubungan pernikahan dan kekerabatan.

Kalaupun mau memberikan sesuatu kepada anak yang di bawah asuhan kita, dapat dilakukan dengan hadiah, wasiat, atau hibah. Tetapi, dalam pemberian itu, mesti diperhatikan juga hak-hak keluarga yang ada hubungan darah dengan yang memberi, seperti ayah, ibu, dan saudara-saudaranya sehingga tidak terjadi kezaliman dengan memberikan sebagian besar harta pada orang yang tak ada hubungan darah.

Mengenai nama anak dalam dokumen-dokumen resminya, seharusnya dinasabkan kepada orang tua aslinya, bukan kepada orang tua asuhnya. Karena, itulah yang ditegaskan dan ditetapkan berdasarkan ayat dan hadis Nabi. Wallahu a’lam bish shawab. ■

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Senin , 26 Maret 2012 / 3 Jumadil Awal 1433

ΩΩΩ

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bachtiar Nasir, Fiqih, Keluarga and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Adopsi Anak dalam Islam

  1. mustiko says:

    wah setuju pas ustad tapi menurut saya pejabat yang gajinya gede bagus tu kalau ada kesadaran untuk mengasuh anak anak terlantar sehingga secara tidak langsung mengamalkan
    pasat 34 uud 1945

    a

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s