Waris Kalalah, Pewaris tidak Punya Anak dan Ayahnya Sudah Meninggal


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Saya ingin bertanya tentang pembagian waris. Kakak kandung saya, laki-laki, baru meninggal lima bulan yang lalu, umurnya 63 tahun. Ia mempunyai satu orang istri yang non-Muslim, tidak mempunyai anak kandung, tetapi mempunyai satu orang anak angkat perempuan umur 14 tahun. Kedua orang tua kami sudah lama meninggal dunia. Kami semua tujuh bersaudara, dua laki-laki dan lima perempuan.

Kakak laki-laki yang pertama sudah terlebih dahulu meninggal. Jadi, yang laki-laki kedua-duanya sudah meninggal, tinggallah kami perempuan lima orang. Bagaimana cara pembagian waris kakak kami yang baru meninggal ini, sementara ia meninggalkan surat yang menyatakan jika ia meninggal semua hartanya untuk istri dan anak angkatnya. Apakah ini sesuai dengan syariat Islam?

Heni , Palembang

Jawaban :

Surat pernyataan yang ditulis oleh pewaris ( almarhum ) semasa hidupnya, yang menyatakan semua harta warisnya diberikan kepada istri dan anak angkatnya, memang tidak sesuai dengan syariat Islam. Seorang istri yang non-Muslim tidak berhak mendapatkan waris dari suaminya yang Muslim. Rasulullah bersabda, “Tidaklah seorang Muslim itu mewarisi seorang kafir, tidak pula sebaliknya.“ ( HR al-Bukhari ).

Begitupun anak asuh tidak mendapatkan hak waris dari ayah asuhnya karena tidak ada hubungan nasab di antara keduanya. Tetapi, keduanya bisa mendapatkan hak selain hak waris, seperti hak bersama antara suami istri, hibah, atau wasiat. Surat pernyataan itu bisa dikategorikan sebagai surat wasiat, tetapi dalam aturan wasiat tidak boleh lebih dari sepertiga bagian dari harta peninggalan almarhum.Rasul bersabda, “Sepertiga, dan sepertiga itu sudah terlalu banyak atau besar.“ ( HR al-Bukhari ).

Jadi, langkah pertama, selesaikan hak bersama antara suami istri dengan kadar bagian sesuai peran kontribusi suami istri dalam harta bersama itu.

Langkah ke dua, keluarkan wasiat yang ditujukan kepada istri dan anak asuh sebesar sepertiga bagian.

Langkah ketiga, sisa dari harta itu diberikan kepada para ahli waris yang berhak. Dalam kasus ini ahli warisnya adalah lima saudara perempuan kandung, seperti dijelaskan dalam firman Allah SWT, “Mereka meminta fatwa kepadamu ( tentang kalalah ). Katakanlah, Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah ( yaitu ) : jika seorang meninggal dunia, dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan, maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya, dan saudaranya yang laki-laki memusakai ( seluruh harta saudara perempuan ), jika ia tidak mempunyai anak; tetapi jika saudara perempuan itu dua orang, maka bagi keduanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal. Dan jika mereka ( ahli waris itu terdiri dari ) saudara-saudara laki dan perempuan, maka bahagian seorang saudara laki-laki sebanyak bahagian dua orang saudara perempuan. Allah menerangkan ( hukum ini ) kepadamu supaya kamu tidak sesat. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.“ ( QS al-Nisa [4] : 176 ).

Dalam kasus ini mereka mendapatkan seluruh harta warisan ( fardhan wa raddan / bagian pasti ditambah sisanya ) karena tidak ada ahli waris lainnya yang mendapatkan ‘ashobah.

Sebagai ilustrasi, misalnya harta almarhum :

Harta bawaan  : Rp 500 juta ; Harta dapatan : Rp 300 juta ; Harta bersama : Rp 1 milyar.                                                                                                                                                                                                                                         Setelah diaudit, disepakati kontribusi istri dalam harta bersama sebesar 30 persen, maka istri mendapatkan hak bersama sebesar: 30 persen x Rp 1 miliar = Rp 300 juta. Sisa harta bersama: Rp 1 miliar – Rp 300 juta = Rp 700 juta. Jadi, jumlah harta peninggalan almarhum adalah Rp 500 juta + Rp 300 juta + Rp 700 juta = Rp 1,5 miliar.

Kemudian wasiat sebesar : 1/3 x 1,5 M = Rp 500 juta ( diberikan kepada istri dan anak asuh ) untuk pembagiannya diserahkan kepada mereka. Sisanya, Rp 1,5 miliar – ­ Rp 500 juta = Rp 1 miliar adalah  harta warisan yang diberikan kepada para ahli waris. Dengan rincian:

Dalam kasus ini, terdapat sisa saham, yaitu satu saham. Sisa tersebut diberikan kepada para saudara sebagai raddan ( tambahan ). Maka, angka 5* sebagai pokok masalah baru, diambil dari jumlah ahli waris yang ada. Wallahu a’lam bish-shawab

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Kamis , 22 Maret 2012 /  29 Rabiul Akhir 1433

Judul asli : Waris Kalalah

ΩΩΩ

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bachtiar Nasir, Fiqih, Waris and tagged , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s