Mengurus Jenazah Yang Terkena AIDS


Oleh : Ustadz Aam Amiruddin

Ustadz, apakah penyakit AIDS itu merupakan azab atau bukan ? Bagaimana cara mengurus jenazah orang yang terkena penyakit tersebut ?

Budi Hartono, Kiara Condong, Bandung

Jawaban :

AIDS adalah kependekan dari Aquired Immuno Diffeciency Syndrome. Penyakit tersebut berasal dari virus HIV  ( Human Imuno Diffenciency Virus ) atau virus penyebab menurunnya sistem kekebalan tubuh manusia. Virus HIV menginfeksi suatu kelompok dari sel darah putih yang disebut helper T-Cells atau sel T pembantu. Sel T pembantu mempunyai pengaturan yang sangat penting dalam sistem kekebalan tubuh manusia. Penyakit ini adalah penyakit yang sangat berbahaya dan dapat menular kepada orang yang sehat, bahkan bisa menghancurkan sistem kekebalan tubuh manusia. Sampai saat ini, belum ada seorang dokter ataupun lembaga kesehatan internasional –WHO sekalipun — yang sudah menemukan obat mujarab untuk menghancurkan penyakit tersebut. Cara penularan virus HIV atau penyakit AIDS diantaranya melalui jalan hubungan seksual, jarum suntuk, dan penularan pada janin sebelum kelahiran.

Apakah AIDS termasuk azab? Ini sangat tergantung pada siapa yang ditimpanya. Apabila menimpa ahli maksiat, itu bisa merupakan azab. Namun, apabila yang ditimpa penyakit tersebut adalah orang baik-baik atau orang shaleh, itu merupakan ujian. Cara penularan AIDS yang bukan hanya melalui hubungan sex, memungkinkan penyakit tersebut tidak hanya menimpa orang-orang yang berbuat maksiat ( berperilaku sex bebas ), malainkan dapat pula menimpa orang baik-baik. Karena itulah, kalau ada seseorang yang terkena AIDS, kita jangan langsung berperasangka negatif terhadapnya.

Apa yang harus dilakukan oleh seseorang yang terkena AIDS?  Pertama, ia wajib berobat. Walaupun sampai saat ini belum ditemukan obat yang akurat untuk penyakit tersebut, namun kewajiban untuk berobat harus tetap dilaksankan karena Islam memerintahkan untuk berupaya mengobati setiap penyakit. Membiarkan penyakit bersarang dalam tubuh, berarti membiarkan diri terjerumus pada kematian, dan Islam mengharamkan hal tersebut. “…dan janganlah kamu membunuh dirimu! Sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepadamu.” ( QS. An Nisa 4:29 )

Maksudnya, apabila sakit, berobatlah secara optimal sesuai dengan kemampuan karena setiap penyakit sudah ditentukan obatnya. Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa seorang Arab Badui mendatangi Rasulullah saw. seraya bertanya, “Apakah kita harus berobat?” Rasulullah menjawab, “Hai hamba Allah, berobatlah kamu, sesungguhnya Allah tidak menurunkan penyakit melainkan juga ( menurunkan ) obatnya, kecuali untuk satu penyakit.” Para sahabat bertanya, “Apa itu ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Penyakit tua.” ( HR. Abu Daud, Tirmizi, Ibnu Majah, dan Ahmad

Kedua, berupaya agar penyakit tersebut tidak menular pada orang lain. Ustadz Sayyid Sabiq di dalam kitab Fiqhus Sunnah mengatakan bahwa barang siapa yang diuji Allah swt. dengan penyakit menular, sebaiknya ia menahan diri untuk tidak tinggal dengan orang yang sehat dan tidak pula menemani orang yang sehat karena Muhammad saw. telah bersabda, “Tidak boleh masuk orang yang berpenyakit ( menular ) kepada orang yang sehat.”

Dalam hadits lain diriwayatkan, ketika datang seorang yang berpenyakit patek ( nama salah satu penyakit menular saat itu ) untuk berbaiat kepada Rasulullah saw., Rasulullah kemudian mengutus seorang untuk membaiatnya dan Nabi tidak mengizinkan orang itu memasuki Madinah.

Bagaimana sikap kita terhadap orang yang terkena AIDS? Seperti dikemukakan di atas, penyakit AIDS tidak hanya menyerang ahli maksiat, tapi juga bisa menyerang orang baik-baik. Kerena itulah, apabila ada seseorang yang terkena AIDS, kita wajib memberikan motivasi kepadanya untuk berobat dan bersabar.

Andai dalam keluarga kita ada yang terkena AIDS ( Naudzubillah! ), kita tidak perlu mengucilkannya. Kita masih dapat bergaul dengan mereka dalam batas-batas tertentu. Berkonsultasilah dengan ahli kesehatan tentang hal apa yang tidak dilakukan saat kita bergaul dengan mereka. Orang yang terkena AIDS sudah pasti menderita, alangkah pedihnya kalau penderitaan mereka ditambah lagi dengan pengucilan oleh keluarga atau masyarakat.

Apabila penderita AIDS meninggal, bagaimana cara memandikannya? Cara memandikannya sama saja dengan memandikan jenazah yang tidak terkena AIDS. Namun, karena AIDS tersebut tergolong penyakit menular dan sangat berbahaya, alangkah baiknya kalau sebelum memandikannya kita berkonsultasi terlebih dahulu pada ahli kesehatan, apakah virus HIV dapat menular saat kita memandikannya atau tidak. Kalau jawabannya tidak, tentunya tidak ada masalah. Namun, kalau jawabannya dapat menular, jenazah tersebut harus ditangani secara khusus oleh orang yang dianggap dapat mengantisipasi penularan tersebut. Kalau sudah jelas dapat menular, namun kita tetap memaksa memandikannya, hal itu sama saja dengan menjerumuskan diri pada kebinasaan. Firman Allah: “Janganlah sekali-kali kamu mencampakkah diri kamu ke dalam kebinasaan…” ( QS. AL Baqarah:195 )

Kesimpulannya, penyakit AIDS dapat merupakan azab kalau menimpa ahli maksiat, namun merupakan ujian bila menimpa orang baik-baik atau shaleh. Orang yang terkena AIDS harus kita bantu dengan memotivasinya untuk berobat dan bersabar. Apabila ia meninggal, jenazahnya ditangani sebagaiman kita menagani jenazah-jenazah lainnya, namun kalau menurut ahli kesehatan hal itu dapat menyebabkan penularan, kita harus menyerahkannya pada orang yang memang berkompeten menanganinya. Wallahu A’lam ■

Sumber : Bedah Masalah, Percikan Iman, No. 2 Th. III Februari 2002 / Dzulqo’dah 1422 H

             ΩΩΩ

Entri Terkait :

  1. Mencampur Kuburan Muslim dan Non-Muslim
  2. Membaca Al-Quran di Kuburan
  3. Memperlakukan Makam
  4.  Hukum Memulangkan Jenazah Ruyati
  5. Membaca Yasin untuk Mayat
  6. Tuntunan Ziarah Kubur
  7.  Persamaan Alam Kubur dengan Kuburan
  8.  Jangan Terlalu Salahkan Diri Sendiri
  9. Wasiat  Menguburkan Mayat
  10. Membaca Al-Quran di Kuburan , Bolehkah ?
  11.  Masjid  di  Atas Kuburan
  12. Shalat Jenazah di Kuburan
  13. Hajatan  Kematian
  14. Mengurus Jenazah yang Terkena AIDS
  15. Orang  yang Berhak  Memandikan Jenazah
  16. Wanita Shalat Jenazah
  17.  Shalat Jenazah Berulang
  18.  Mati Bunuh Diri
  19.  Uang Duka
  20.  Mengubur Jenazah Malam Hari
  21. Membuka Tali Kafan
  22. Mengubur Jenazah di Laut
  23. Azan Ketika Penguburan Mayat

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Aam Amiruddin, Fiqih and tagged , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s