Adakah Orang Tua Durhaka ?


Oleh : KH Ali Yafie

Pak Kyai yang saya hormati, apakah dalam Islam ada istilah orangtua durhaka, sebab selama ini selalu anak saja yang mendapat julukan durhaka ?

Mohon penjelasannya. Terima kasih.

herisiswanto062@gmail.com

Jawaban :

Dalam agama mengenal istilah birrul walidain  (kepatuhan anak terhadap kedua orang tua). Anak harus mematuhi orangtuanya selagi orangtuanya tidak mengajak untuk melakukan pelanggaran ( misalnya orang tua mengajak kafir atau mengajak dosa ).

Tetapi jika orangtua menyuruh untuk melakukan pelanggaran ( bertentangan dengan agama apa pun itu bentuknya ), maka seorang anak harus menolak dengan tegas.

Sebaliknya, bila anak tidak mau patuh terhadap kedua orangtuanya ( dalam segala hal yang tidak bertentangan dengan agama ), maka anak tersebut disebut anak durhaka.

Adapun orangtua durhaka tidak ada istilahnya dalam agama. Yang ada, kalau orang tua melalaikan kewajibannya atau tidak mengurus anaknya secara baik, — seperti mengabaikan pendidikan anaknya, — maka orang tua itu disebut sebagai orang tua yang bersalah ( bukan orang tua durhaka ). Jadi ada istilahnya anak durhaka dan ada orangtua bersalah.

Seperti yang dilakukan Nabi Ibrahim. Ibrahim tidak patuh kepada ayahnya yang menyembah berhala. Ibrahim menolak dan tidak mau mengikutinya, tetapi ia menolaknya dengan sopan dan halus ■

Sumber : Konsultasi Fiqih, Majalah Hidayah, Edisi 125, Januari 2012

  • Prof. KH. Ali Yafie, mantan Ketua MUI Pusat

 ΩΩΩ

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Akhlak, Ali Yafie, Fiqih, Keluarga and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Adakah Orang Tua Durhaka ?

  1. Novi Mahanani says:

    Bagaimana seharusnya sikap anak terhadap orangtua yang bersalah jika anak sudah bertahun tahun berusaha memberi nasihat, mendoakan, membantu mencari solusi namun sikap orangtua tetap tidak berubah?
    Terima kasih.

  2. deas says:

    Bagaimana kita menghadapi orang tua yang pilih kasih terhadap anak, lebih mementingkan anak yang hidupnya berkecukupan daripada anak yang hidupnya serba kekurangan (fakir)?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s