Sumpah karena Kebiasaan


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz, saya sering mengucapkan ungkapan yang mengandung makna sumpah, seperti “demi Allah“ tapi bukan karena niat bersumpah melainkan karena terbiasa mengucapkannya. Apakah itu termasuk sumpah yang bila kita langgar harus membayar kafarat?

Hamba Allah

Jawaban :

Bersumpah dalam Islam maksudnya adalah memperkuat suatu perkara yang diucapkan dengan menyebutkan nama Allah SWT atau sifat-sifat-Nya. Di dalam Islam, seorang Muslim tidak boleh bersumpah dengan menyebut selain Allah. Rasulullah bersabda, “Sesiapa yang ingin bersumpah maka bersumpahlah atas nama Allah atau ( jika tidak ) maka diamlah.“ ( HR Bukhari dan Muslim ). Tapi, Allah telah menegaskan dalam kitab-Nya bahwa Dia hanya akan menghukum kita berdasarkan sumpah yang dengan sengaja kita niatkan untuk bersumpah.

Ulama membagi sumpah menjadi tiga macam. Pertama, sumpah yang tidak sengaja atau yang tidak dimaksudkan, yaitu sumpah yang biasa diucapkan oleh seorang Muslim tanpa ada unsur kesengajaan atau yang tidak diniatkan. Hal ini biasa terjadi bagi orang terbiasa menggunakan kata “demi Allah“ atau “demi Tuhan“ dalam pembicaraannya. Termasuk juga ke dalam jenis ini, orang yang bersumpah terhadap suatu perkara berdasarkan perkiraannya, padahal keadaan yang sebenarnya bukan sebagaimana perkiraannya. Sumpah seperti ini tidak dianggap dan tidak wajib membayar kafarat.

Kedua, sumpah yang sah, yaitu sumpah untuk sesuatu yang akan datang, di mana dia bersumpah dengan menyebut nama Allah, dia akan melakukan sesuatu atau meninggalkan sesuatu. Seperti, perkataan seorang Muslim “demi Allah saya akan melakukan hal ini“ atau “demi Allah saya akan meninggalkan atau tidak melakukan hal ini lagi“.

Dalam kasus seperti ini, jika dia tidak melaksanakan sumpahnya itu, dia wajib membayarnya dengan kafarat sumpah. Ia bisa memilih alternatif memberi makan sepuluh orang miskin dari makanan yang biasa ia berikan kepada keluarganya atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. Mereka yang tidak sanggup melakukannya, kafaratnya puasa selama tiga hari.

Ketiga, sumpah palsu, yaitu bersumpah dengan sengaja berbohong untuk sesuatu perkara yang telah terjadi, seperti sumpah seorang saksi yang mengatakan dia tidak menerima suap atau memberi suap, padahal dia melakukan hal itu. Atau, sumpah seorang penjual bahwa barangnya tidak ada cacatnya padahal dia tahu barangnya itu punya cacat.

Sumpah ini disebut ghamus ( menenggelamkan ) karena sumpah ini akan menenggelamkan orang yang melakukannya di dalam neraka jahannam. Dan, hukum bagi orang yang melakukan sumpah ini menurut para ulama, ia telah melakukan perbuatan maksiat dan berdosa besar dan tidak diwajibkan baginya kafarat atas sumpah palsunya, tapi dia harus segera bertaubat dan meluruskan kembali kesaksiannya yang berdasarkan sumpah palsu tersebut.

Dalam hadis Rasulullah diriwayatkan, “Seorang Arab badui menemui Nabi dan bertanya, `Wahai Rasulullah, apakah dosa-dosa besar itu?’ Beliau menjawab, `Menyekutukan Allah.’ Dia bertanya lagi, `Setelah itu apa?’ Nabi menjawab, `Mendurhakai orang tua.’ Dia kembali bertanya, `Selanjutnya apa?’ Nabi SAW menjawab, `Sumpah ghamus.‘ Kami bertanya, `Apa makna sumpah ghamus?’ Beliau menjawab, `Sumpahnya yang dengan dia menguasai harta seorang Muslim, padahal sumpahnya itu bohong belaka.’“ ( HR Bukhari ).

Diriwayatkan dari Abu Umamah, Rasulullah bersabda, “Barang siapa yang mengambil hak seorang Muslim dengan sumpahnya ( yang dusta ), sesungguhnya Allah mewajibkan baginya neraka dan mengharamkan ke atasnya surga.“ Lalu, seorang (yang hadir bersama) bertanya kepada baginda, “Sekalipun terhadap sesuatu yang remeh, ya Rasulullah?“ Rasulullah menjawab, “ ( Ya ), sekalipun sebatang kayu arak ( yang digunakan untuk bersiwak ).“ ( HR Muslim ).

Oleh karena itu, berhati-hatilah menggunakan lafaz sumpah. Dan, terhadap sumpah-sumpah yang telah diucapkan maka seseorang harus berijtihad untuk mengetahui mana sumpah yang sah ( al-yamin al-mun’aqidah ) yang telah dia langgar. Dan, setelah mengetahuinya maka dia harus membayarkan kafarat untuk pelanggaran sumpah tersebut.

Jika sumpah itu untuk mengerjakan suatu perkara atau meninggalkan suatu perkara, kafaratnya hanya satu meskipun sumpahnya berkali-kali. Tapi, kalau sumpahnya berbeda-beda maka untuk tiap sumpah dia harus membayarkan kafaratnya. Dan, sekali-kali seorang Muslim tidak boleh bersumpah palsu karena itu merupakan dosa besar sebagaimana yang ditegaskan oleh Rasulullah.

Wallahu a’lam bish shawab ■

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Kamis, 8 Maret 2012 / 15 Rabiul Akhir 1433 H

ΩΩΩ

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Akhlak, Bachtiar Nasir, Fiqih and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s