Dakwah di Kalangan Wanita Non-Muslim


Oleh : M Quraish Shihab

Dalam tugas saya berdakwah di kalangan wanita-wanita non-Muslim, saya menghadapi satu problema berkaitan dengan persoalan istri yang suaminya kafir. Wanita itu ingin masuk Islam, tetapi sulit untuk mengorbankan rumah tangganya, terutama ketika mereka sudah dikaruniai beberapa orang anak dan kebetulan suaminya baik budi, sehingga ia dikuasai rasa cinta kepada suaminya tersebut.

Sementara kami tahu bahwa wanita non-Muslim yang masuk Islam, tidak boleh meneruskan rumah tangganya dengan suaminya yang juga non-Muslim, berdasarkan firman Allah , “Wanita-wanita mukminah itu tidak halal bagi mereka, dan mereka juga tidak halal bagi wanita-wanita itu.”

Jadi, bagaimana kami menghadapi problematika ini ? Apakah boleh kita memfokuskan perhatian pada keislaman mereka, sementara mengabaikan persoalan lain tersebut ?

Zahara Agustina , Malang, Jawa Timur

Jawaban :

Seorang wanita non-Muslim yang masuk Islam sementara suaminya tidak, maka ia harus berpisah sebagaimana yang telah ditegaskan Allah dalam firmannya yang telah Anda sebutkan tadi.

Akan tetapi apakah masih mungkin baginya untuk mendakwahi suaminya itu ? Misalnya ia katakan, “Saya ingin masuk Islam. Kalau saya masuk Islam, nikah kita batal, kecuali bila engkau juga masuk Islam.” Mudah-mudahan bila diingatkan demikian, sang suami akan menyetujui ajakan tersebut.

Ketika hendak berdakwah kepada wanita-wanita yang hendak masuk Islam itu hendaknya difokuskan kepada beberapa hal berikut :

  1. Mendahulukan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya, daripada cinta kepada selain keduanya.
  2. Kalau wanita itu ikhlas dalam mendakwahi suaminya dan mendoakannya, bisa jadi sang suami akan masuk Islam di tangannya.
  3. Orang yang meninggalkan sesuatu karena Allah, akan diganti oleh Allah dengan yang lebih baik darinya.
  4. Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya yang berkorban dengan yang dia cintai karena Allah.

Demikian pula hendaknya harus diselesaikan persoalan wanita tersebut kalau ternyata ia masuk Islam dan berpisah dengan suaminya dengan mencarikan saudara seiman yang mau menikahinyadan mengikutsertakan anak-anak mereka. Atau bila ada di antara dermawan kaum Muslimin yang mau bersedekah kepada mereka semua. Kami memohonkan hidayah, taufik dan kebenaran kepada Allah. Semoga shalawat dan salam terlimpahkan kepada nabi Muhammad SAW.

Akan tetapi, kalau wanita tersebut masih mengharapkan keislaman suaminya, ia bisa tinggal di rumah itu hingga berakhir masa iddah. “Kalau wanita itu tetap saja hidup dengan suaminya setelah Islam, berarti ia melakukan dosa besar, karena telah berzina. Karena, perlu diingat, bahwa jika seorang istri masuk Islam, berarti pernikahan dengan suaminya batal ■

Sumber : Anda Bertanya Hikmah Menjawab,  Majalah Hikmah, No. 01 – Tahun I / Juni 2003 / Rabiul Akhir 1424 H

Judul asli : Dakwah di Kalangan Istri Non-Muslim

ΩΩΩ

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Aqidah, Dakwah, Keluarga, M.Quraish Shihab, Pernikahan and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s