Marah karena Allah SWT


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz, di mana kita harus menempatkan kemarahan kita? Apa perlu marah itu diperlihatkan jika kita melihat sesuatu yang benar-benar melanggar perintah atau larangan Allah SWT, seperti melihat keluarga ketahuan mencuri, berdusta, minum arak atau narkoba? Apakah kita boleh berpaling dari keluarga yang mempunyai kebiasaan seperti itu?

Hamba Allah

Jawaban :

Hanya orang gila yang marah bukan pada tempatnya dan cuma keledai yang tidak marah pada saat ia harus marah. Fitrah setiap manusia di antaranya adalah memiliki naluri rasa berkehendak dan marah ( emosi ), begitu Ibnul Qayyim Aljawziyah menerangkan. Selanjutnya, beliau menjelaskan, cara terbaik menempatkan rasa berkehendak adalah untuk mendapatkan sesuatu yang bermanfaat.

Sedangkan, menempatkan marah yang tepat adalah untuk menghindari bahaya (mudarat). Rasulullah tidak pernah marah kepada orang lain yang berbuat salah atau menyakiti beliau jika hal itu berkaitan dengan kepentingan dirinya sendiri. Bahkan, beliau akan membalas yang menyakiti atau berbuat salah kepadanya itu dengan kebaikan.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah, seorang laki-laki berkata kepada Nabi, “Berilah wasiat kepadaku.“ Nabi menjawab, “Janganlah engkau marah.“ Laki-laki tadi mengulangi perkataannya, beliau ( tetap ) bersabda, “Janganlah engkau marah.“ ( HR Bukhari ). Sesuai firman-Nya,  “… dan orang yang menahan amarah dan memaafkan ( kesalahan ) orang. Allah menyukai orang yang berbuat kebajikan.“ ( QS Ali `Imran [3] : 134 ).

Tapi, beliau akan sangat marah jika ada hukum dan aturan Allah yang dilanggar dan dihinakan orang lain atau ada kehormatan Islam dan umatnya yang diinjak-injak. Beliau perlihatkan ketika Zaid bin Haritsah meminta pengampunan bagi wanita Makhzumiyyah yang mencuri. Begitu juga ketika ada yang memanjangkan bacaan shalatnya sehingga membuatkan orang lain tidak mau shalat berjamaah.

Rasulullah juga membenarkan kemarahan Saad bin Ubadah yanga akan memenggal leher orang yang menodai istrinya tanpa harus menunggu empat orang saksi. Ada banyak hadis yang menjelaskan bagaimana Nabi akan marah jika ada hukum dan aturan Allah yang dilanggar atau dihinakan.

Diriwayatkan dari `Aisyah, dia berkata, “Rasulullah tidak pernah sama sekali memukul sesuatu dengan tangannya, juga tidak pernah memukul wanita ( istri ) dan tidak pernah memukul seorang pembantu. Beliau hanya memukul jika berjihad di jalan Allah. Dan, tidaklah beliau disakiti dengan sesuatu sama sekali, lalu beliau membalas terhadap pelakunya. Kecuali, jika ada sesuatu di antara perkara-perkara yang diharamkan Allah dilanggar, beliau membalas dengan hukuman hanya karena Allah.“ ( HR Muslim ).

Para ulama membagi kemarahan itu menjadi tiga macam. Pertama, kemarahan yang terpuji, yaitu kemarahan karena Allah disebabkan oleh adanya hukum dan aturan Allah yang dilanggar. Atau, demi untuk membela agama Allah dan kehormatan umat Islam.

Kedua, kemarahan yang diharamkan, yaitu kemarahan karena demi membela yang batil dan kemaksiatan.Misalnya, marah karena ditegakkannya hukum, marahnya banyak orang yang menutup aurat, atau marah demi membela kemungkaran, seperti pornografi, perjudian, perzinahan, dan kemaksiatan lainnya.

Ketiga, kemarahan yang dibolehkan, tapi menahannya itu lebih baik dan dianjurkan, yaitu marah karena untuk kepentingan diri sendiri yang tidak dalam kemaksiatan kepada Allah. Kemarahannya tidak berlebihan dan melampaui batas yang biasanya menjerumuskannya kepada perkara yang diharamkan Allah.

Untuk itu, jika kita melihat ada suatu kemungkaran yang dilakukan, sebagai seorang mukmin, harus muncul kemarahan dalam hati kita dan rasa benci karena Allah terhadap kemungkaran tersebut.

Jika kita mampu maka kita berusaha melakukan kewajiban amar makruf nahi mungkar dengan cara yang paling baik dan cocok menurut kita yang dapat menghentikan kemungkaran tersebut. Dan, jika kita tidak mampu atau menurut kita akan menimbulkan mudarat yang lebih besar, paling tidak harus ada kemarahan dan kebencian terhadap kemungkaran dan itu adalah selemah-lemahnya keimanan.

Kalau melihat ada anggota keluarga yang melakukan kemungkaran, harus muncul kemarahan dalam hati kita karena Allah. Seandainya kita mampu memberikan nasihat dengan cara yang baik untuk menghentikan mereka, hendaknya kita jalankan. Lalu, jika mereka tidak mengindahkan nasihat kita, sebaiknya kita menjauhi keluarga seperti itu. Wallahu a’lam bish shawab ■

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Selasa, 6 Maret 2012 / 13 Rabiul Akhir 1433 H

ΩΩΩ

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Akhlak, Bachtiar Nasir, Keluarga and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s