Pembagian Waris Bagi Keponakan dan Sepupu


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Seorang Muslimah wafat, meninggalkan keponakan laki-laki ( anak laki-laki dari saudara laki-laki kandung ), sepupu laki-laki, dan sepupu perempuan “A“ ( anak laki-laki dan anak perempuan dari paman kandung jalur ayah ), sepupu laki-laki dan sepupu perempuan “B“ ( anak laki-laki dan anak perempuan dari paman kandung jalur ibu ), sepupu laki-laki dan dua sepupu perempuan “C“ ( anak laki-laki dan dua anak perempuan dari bibi kandung jalur ayah ), dan sepupu laki-laki “D“ ( anak laki-laki dari bibi kandung jalur ibu ).

Siapakah di antara mereka yang berhak mendapatkan hak waris? Dan, bagaimana bagian untuk yang terhalang ( terhijab ) di antara mereka?

Hamba Allah

Jawaban :

Secara global, kaidah dalam penyelesaian kewarisan Islam, merujuk pada hadis Rasulullah, “Berikanlah bagian-bagian tetap ( furdhu ) itu kepada yang berhak. Adapun sisanya untuk ahli waris laki-laki yang lebih  dekat ( kedudukan / kerabatnya kepada si mayit ).“  ( HR Bukhari dan Muslim ).

Dari hadis ini, kita harus mengetahui siapa di antara ahli waris yang ditinggalkan si mayit yang lebih dekat kepadanya, baik dari sisi kedudukan maupun kekerabatan. Dalam ilmu kewarisan, terdapat empat kelompok ’Ashobah. Pertama, al-Bunuwwah yang terdiri atas anak laki-laki, cucu laki-laki ( anak laki-laki dari anak laki-laki si mayit ), dan seterusnya dari jalur laki-laki.

Kedua, al-Ubuwwah yang terdiri dari ayah, kakek ( ayahnya ayah ), dan seterusnya dari jalur ayah dan ketiga, al-Ukhuwwah yang terdiri atas saudara laki-laki kandung, saudara laki-laki seayah, keponakan laki-laki “A“ ( anak laki-laki dari saudara laki-laki kandung ) dan keponakan laki-laki “B“ ( anak laki-laki dari saudara laki-laki seayah ).

Dan keempat, al-`Umumah yang terdiri dari paman kandung ( dari jalur ayah ), paman seayah, sepupu laki-laki “A“ ( anak laki-laki dari paman kandung ) dan sepupu laki-laki “B“ ( anak laki-laki dari paman seayah ). Dalam menyelesaikan kasus di atas maka kita harus mengurut ahli waris yang ada:

Setelah kita mengetahui status masing-masing, yang mendapatkan hak dalam kasus ini adalah keponakan laki-laki ( anak laki-laki dari saudara laki-laki kandung ) saja, ia mendapatkan seluruh harta waris si mayit. Adapun sepupu laki-laki “A“ ( anak laki-laki dari paman kandung jalur ayah ) terhalang atau terhijab oleh keponakan laki-laki. Yang lainnya tidak termasuk kategori ahli waris, akan tetapi disebut dzawil arham. Bagi ahli waris yang mendapatkan hak waris, hendaklah ia memberikan kebaikan dengan bagian yang tidak ditentukan kepada para sepupu yang terhijab atau sepupu yang termasuk golongan dzawil arham. Wallahu a’lam bish shawab ■

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Senin, 5 Maret 2012 / 12 Rabiul Akhir 1433 H

Judul asli : Pembagian Waris

ΩΩΩ

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bachtiar Nasir, Fiqih, Waris and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s