Menepis Kecenderungan Buruk


Oleh : Ustadz Aam Amiruddin

Ustadz, mohon penjelasan. Apakah dalam diri manusia selalu ada kecenderungan buruk dan bagaimana cara menepisnya ? Terima kasih

Jawaban :

Memang dalam diri manusia ada kecenderungan baik dan ada juga kecenderungan buruk. Kecenderungan baik disebut nafs muthmainnah  dan kecenderungan buruk disebut nafs ammarah . Dua kecenderungan tersebut selalu berkompetisi. Apabila yang memenangkan kompetisi itu adalah nafs ammarah ( dorongan buruk ), maka yang akan muncul dalam ucapan dan perilaku adalah hal-hal tercela. Apabila yang memenangkan kompetisi tersebut adalah nafs muthmainnah   ( kecenderungan baik ) , maka yang akan muncul dalam ucapan dan perbuatan adalah hal-hal mulia dan terpuji.

Orang yang selalu mengikuti kecenderungan-kecenderungan buruk  disebut sebagai orang yang diperbudak nafsu, sebagimana dijelaskan dalam ayat berikut.

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah ( membiarkannya sesat ). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” ( QS Al-Jaatsiah [45] : 23 ).

Ayat ini menegaskan bahwa ada orang-orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhan, yaitu orang-orang yang selalu mengikuti kecenderungan-kecenderungan buruk dalam dirinya. Apabila kecenderungan buruk itu selalu diikuti, maka mata, telinga, dan hati menjadi tertutup untuk respons nilai-nilai kebaikan dan kebenaran sehingga orang seperti ini akan berada dalam belantara kesesatan.

Nah, bagaimana caranya agar kita tidak diperbudak kecenderungan buruk ? Silakan cermati ayat berikut .

“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya, dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang ( miskin ) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa ( yang tidak mau meminta ),  dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan,  dan orang-orang yang takut terhadap azab Tuhannya.  Karena sesungguhnya azab Tuhan mereka tidak dapat orang merasa aman ( dari kedatangannya ). Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak-budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanah-amanah ( yang dipikulnya ) dan janjinya. Dan orang-orang yang memberikan kesaksiannya. Dan orang-orang yang memelihara shalatnya. Mereka itu (kekal) di surga lagi dimuliakan.” ( QS  Al Ma´aarij [70] : 19 – 35 ).

Ayat tersebut di atas menegaskan bahwa manusia memiliki sejumlah kecenderungan buruk seperti kikir, putus asa, dan keluh kesah. Lalu, pada ayat ini juga dijelaskan sejumlah cara mengatasinya, yaitu pertama  , lakukan shalat secara khusyuk. Caranya ? Lakukan shalat sesuai yang dicontohkan Rasul Saw, berusaha untuk memahami dan menghayati makna bacaan shalat, serta jadikanlah shalat sebagai kebutuhan dan bukan sekedar kewajiban. Insya Allah, cara dapat membuat shalat kita khusyu.

Kedua , asah jiwa sosial dengan meringankan beban orang-orang yang  kekurangan. Hal tersebut dapat dilakukan dengan memberikan bantuan, baik berupa harta, tenaga, atau pikiran. Sesuaikan pemberian bantuan tersebut dengan kemampan yang kita miliki. Ketiga, yakini bahwa akan ada hari pembalasan. Sekecil apa pun kebaikan yang kita perbuat pasti akan ada pahalanya dan sekecil apa pun keburukan yang kita perbuat pasti akan ada balasannya pula.

Keempat , jagalah kehormatan diri. Jagalah agar jangan sampai syahwat diekspresikan kepada yang tidak halal. Ekspresikan nafsu syahwat kepada pasangan yang sah, yaitu suami atau istri. Kelima , jagalah amanah dan janji. Jiwa akan sehat apabila kita selalu berusaha menunaikan amanah yang dipikulkan dan menunaikan janji yang kita ikrarkan.

Itulah lima cara agar kita bisa meminimalisir kecenderungan-kecenderungan buruk. Semoga dengan latihan-latihan tersebut, kecenderungan baik akan lebih mendominasi diri kita sehingga akan muncul ucapan dan perilaku yang mulia.  Amin. Wallahu a’lam

Sumber : Bedah Masalah, Percikan Iman, No. 01 Th. XII Januari 2011 / Shafar 1432

             ΩΩΩ

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Aam Amiruddin, Akhlak and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s