Shalat Sunnah Qabliyah dan Tarawih


Oleh : KH. Athian Ali Moh. Da’i

Ada beberapa pertanyaan yang ingin saya sampaikan, yaitu :

1. Apakah shalat sunat fajar sama dengan shalat qabla Shubuh ?

2. Di kampung saya, sesudah adzan Ashar, ada yang mengerjakan shalat sunat qabla. Ada yang empat rakaat, dan ada yang dua rakaat. Mana yang berdasarkan sunnah Nabi ?

3. Berdasarkan keterangan, shalat qabla Jumat itu tidak ada, tapi ada saja yang melaksanakannya. Juga pada shalat ba’da Jumat ada yang melaksanakan empat rakaat, dua rakaat, dan ada yang dua rakaat dilaksanakan di masjid dan dua rakaat lagi di rumah ?

4. Berdasarkan buku yang telah saya baca, shalat tarawih itu ada empat macam. Sedang di kampung saya ada yang melaksanakan 23 rakaat, dan 11 rakaat.

Taryo Engkosmana, Ciamis

Jawaban:

Karena banyaknya pertanyaan yang Anda ajukan, maka akan saya jawab singkat saja.

1.  Yang dimaksud dengan shalat sunat fajar adalah shalat sunat qabla Shubuh. Shalat sunat dua rakaat yang dikerjakan setelah adzan Shubuh. Shalat sunnah ini tergolong shalat sunnah muakkadah  . “Shalat fajar lebih baik daripada dunia dan segala isinya.” ( H.R. Turmudzi, Muslim, dan Ahmad ).

Menurut keterangan dari ‘Aisyah r.a. , tidak ada shalat sunat yang sangat diperhatikan Rasulullah melebihi shalat sunat fajar dua rakaat ( H.R. Muttafaq ‘alaih ).

2.  Shalat sunat qabla Ashar dua rakaat termasuk shalat sunat ghoir muakkadah. Boleh juga dikerjakan sebanyak empat rakaat. Sabda Nabi, “Allah memberi rahmat kepada orang yang melaksanakan shalat sunat empat rakaat sebelum Ashar ” ( H.R. Ahmad, Abu Daud, dan Turmudzi ).

3.  Para ulama berselisih pendapat perihal shalat sunat qabla Jumat ini. Sebagian berpendapat ada sementara yang lainnya berpendapat tidak ada. Pendapat yang terakhir ini dilandasi dengan riwayat yang mengatakan bahwa setelah Bilal mengumandangkan adzan, Rasulullah Saw langsung menyampaikan khutbah kemudian dilanjutkan dengan mengimami shalat Jumat.

Adapun shalat sunat ba’da Jumat, berdasarkan petunjuk Rasulullah Saw, sebagaimana dikatakan Ibnu Taimiyyah, bila seseorang melaksanakannya di masjid seusai shalat maka sebaiknya empat rakaat. Namun bila dilaksanakannya di rumah, maka cukup dua rakaat.

4.  Shalat sunat tarawih termasuk sunnah muakkadah  bagi pria maupun wanita.  Disunatkan  dilaksanakan  berjamaah, namun boleh dilaksanakan secara munfarid (sendiri). Lebih utama dilaksanakan di masjid. Dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah Saw pernah melaksanakan di masjid pada malam ketiga, kelima dan ke-27 sebanyak delapan rakaat, sedang shalat sunat witir dilaksanakan di rumah masing-masing.

Di masa Umar bin Khattab r.a. , umat melaksanakan 20 rakaat    secara berjamaah di masjid ditambah tiga rakaat witir yang juga dilaksanakan di rumah. Berdasarkan hadits tersebut, boleh melaksanakan shalat sunat witir di rumah, baik sesudah tidur maupun menjelang sahur ■

Sumber : Keluarga Sakinah, Tabloid Hikmah,  Minggu I – Juni 1995 / 3 – 9 Muharram 1416 H

Judul dari admin

 ΩΩΩ

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Athian Ali M. Da'i, Fiqih, Ibadah, Ramadhan, Shalat and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s