Acara Syukuran


Oleh : KH. Athian Ali Moh. Da’i

Setiap acara syukuran atau selametan harus selalu membakar kemenyan dan tumpeng, karena menurut mereka merasa tidak sempurna apabila acara tersebut tidak dilaksanakan, bagaimana menurut pendapat Pak Kiai, apakah termasuk perbuatan musyrik ?

H.S.B. Kuningan, Jabar

Jawaban:

Doa merupakan hubungan langsung antara seorang hamba dengan Allah SWT tanpa perantara, dan tanpa harus menyediakan tumpeng atau membakar kemenyan dan sebagainya!

Mari kita simak firman Allah SWT, “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka ( jawablah ) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi segala perintah-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran” ( QS Al-Baqarah : 186 ). Dalam firman lain dikatakan, “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya.” ( QS Qaaf : 16 )

Jelas pada ayat yang pertama dinyatakan bahwa agar seseorang dikabulkan doanya cukuplah dengan seseorang berupaya menjadi hamba Allah yang saleh dengan melaksanakan segala perintah dan menjauhi segala larangan-Nya. Tidak diwajibkan harus menyediakan tumpeng, membakar kemenyan dan sebaginya. Upacara dan penyelenggaraan semacam itu jelas melanggar aturan Allah SWT yang karenanya akan membuat seseorang semakin jauh doanya untuk diterima dan dikabulkan Allah SWT.

Mengungkapkan rasa syukur dengan mengundang orang lain untuk turut menikmati karunia Allah SWT boleh-boleh saja, sepanjang tidak sampai pada tingkat mubazir karena “sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya.” ( QS Al-Israa : 27 )

Kendati dibolehkan bila tidak sampai pada tingkat pemborosan, namun perlu digarisbawahi bahwa hakekat syukur bukan hanya sekedar itu, hakekat syukur yang sebenarnya adalah dengan cara memanfaatkan seluruh karunia yang Allah SWT berikan (baik materi maupun non-materi) di jalan yang diridhai Allah SWT ■

Sumber : Keluarga Sakinah, Hikmah,  Minggu Ke-2 – November 1994 / 7 – 13 Jumadil Tsaniyah 1415 H

Judul dari admin

ΩΩΩ

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Aqidah, Athian Ali M. Da'i, Syariah and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s