Berbakti kepada Orang Tua


Oleh : M Quraish Shihab

Al-Quran menempatkan kewajiban berbuat baik kepada orang tua pada urutan kedua setelah taat kepada Allah. Adapun yang menjadi pertanyaan saya adalah :

a.  Bagaimana penerapan dari kewajiban berbuat baik tersebut bagi anak laki-laki dan anak perempuan baik sebelum maupun sesudah menikah ?

b.  Di manakah perbedaan dan persamaan di antara keduanya ?

Saya terkadang merasa ragu dalam berbuat baik kepada orang tua, apakah harus sesuai dengan ajaran Islam atau adat-istiadat setempat ? Mengingat posisi saya sebagai seorang anak dan juga seorang suami.

Mohon penjelasan Bapak. Terima kasih atas penjelasan Bapak.

Ali F. Rizaldi,  Jakarta Selatan

Jawaban :

Al-Quran menggunakan kata ihsaanaa , dan kata husn  utuk menggambarkan kewajiban anak – lelaki atau perempuan – kepada ibu-bapaknya. Kata itu digunakan untuk dua hal. Pertama memberi nikmat kepada pihak lain dan kedua perbuatan baik. Karena itu kata ihsaan  lebih luas dari sekedar “memberi nikmat atau nafkah”. Maknanya bahkan lebih tinggi dan dalam dari kandungan makna “adil” , karena adil adalah “memperlakukan orang lain sama dengan perlakuannya kepada Anda”. Sedang ihsaan , “memperlakukannya lebih baik dari perlakuannya terhadap Anda”. Adil adalah mengambil semua hak Anda dan atau memberi semua hak orang lain, sedang ihsaan adalah memberi lebih banyak daripada yang harus Anda beri dan mengambil lebih sedikit dari yang seharusnya Anda ambil.

Karena itu pengajaran Ilahi untuk berdoa “Rabbi irhamhumaa kamaa rabbayaani shagiraa ( QS, 17 : 23 ), patut diartikan “Ya Allah rahmatilah mereka berdua ( Ibu Bapak ) dikarenakan ( bukan “sebagaimana” ) mereka telah mendidik aku di waktu kecil”. Karena itu pula Rasul SAW berpesan kepada seseorang : “Engkau dan hartamu adalah untuk/milik ayahmu, orang tuamu”. ( HR Abu Daud ).

Al-Quran menggunakan kata penghubung “bi” ketika berbicara tentang bakti kepada ibu bapak. “Wa bil waalidain ihsaanaa”, padahal bahasa juga membenarkan penggunaan “li” yang berarti “untuk” dan “ilaa” yang berarti kepada untuk penghubung kata “ihsaan”. Menurut pakar-pakar bahasa kata “ilaa” mengandung makna jarak, sedang Allah tidak menghendaki adanya “jarak” walau sedikit dalam hubungan antara anak dan orang tuanya.

Anak selalu harus mendekat dan merasa dekat kepada ibu bapaknya, bahkan kalau dapat dia melekat kepadanya . Karena itu digunakan kata bi  yang mengandung arti ilshaaq yakni kelekatan. Karena kelekatan itu, maka bakti yang dipersembahkan oleh anak kepada orang tuanya, pada hakikatnya bukan untuk ibu bapak, tetapi untuk diri sang anak sendiri. Itu pula sebabnya tidak dipilih kata penghubung li  yang mengandung makna peruntukan itu.

Namun demikian, harus dipahami bahwa ihsaan  ( bakti )  kepada orang tua yang diperintahkan agama adalah bersikap sopan santun kepada keduanya dalam ucapan dan perbuatan sesuai dengan adat kebiasaan masyarakat, sehingga mereka merasa senang terhadap kita, serta mencukupi kebutuhan-kebutuhan mereka yang sah dan wajar sesuai kemampuan kita ( sebagai anak ).

Tidak termasuk sedikit pun ( dalam kewajiban berbuat baik/berbakti kepada keduanya ) sesuatu yang mencabut kemerdekaan dan kebebasan pribadi atau rumah tangga atau jenis-jenis pekerjaan yang bersangkut paut dengan pribadi anak, agama atau negaranya. Jadi apabila keduanya atau salah seorang bermaksud memaksakan pendapatnya menyangkut kegiatan-kegiatan anak yang sah, maka bukanlah dari bagian berbuat baik atau berbakti menurut syara’/agama meninggalkan apa yang kita ( anak ) nilai kemaslahatan umum atau khusus, dengan mengikuti pendapat atau keinginan mereka. Atau melakukan sesuatu yang mengandung mudarrat umum atau khusus dengan mengikuti pendapat keduanya.

Demikian Muhammad Rasyid Ridha pakar tafsir Mesir kenamaan ketika menafsirkan QS [4] : 35. Demikianlah rumusannya semoga bermanfaat dalam mengatasai keraguan Anda. Wa Allah A’lam

Sumber : Quraish Shihab Menjawab ,  Dialog Jumat, Republika, Jumat, 27 Februari 2004 /  6 Muharram 1425 H

ΩΩΩ

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Akhlak, M.Quraish Shihab and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s