Membeli Ijazah


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz, sahabat saya cacat akibat kecelakaan yang mengakibatkan kakinya patah dan karena cacat dia malu untuk melanjutkan studinya. Sekarang setelah dewasa, dia mau membeli ijazah karena ingin bekerja. Boleh atau tidakkah bagi dia melakukan hal itu, Ustadz?

Hamba Allah

Jawaban :

Putus asa dikategorikan sebagai dosa besar karena hamba dianggap telah terlepas dari rahmat Allah. Di antara bentuk putus asa adalah membohongi diri sendiri dengan jalan membohongi orang lain hanya karena tidak sabar menunggu datangnya rezeki Allah. Janganlah keterlambatan datangnya rezeki membuat kita bermaksiat.

Karena Allah Yang Mahaadil tidak pernah salah sedikit pun dalam membuat keputusan. Coba perhatikan, adakah oksigen selama ini cukup untuk dihirup orang sedunia? Adakah matahari tetap adil menyinari untuk semua? Pernahkah melihat matahari dan oksigen datang terlambat?

“Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya.” (QS al-Thalaq [65]:  2-3). Tak ada yang salah dengan semua takdir Allah. Si hambalah yang salah menilai ketetapan dan perbuatan Allah. Seluruh sifat Allah adalah suci maka suci pula semua takdir dan perbuatan-perbuatan-Nya. Musibah apa pun yang menimpa jika dihadapi dengan ketakwaan maka akan selalu ada jalan keluar dan akan didatangkan rezeki dari arah yang tidak pernah disangka-sangka. Jangankan manusia yang berakal, binatang yang tak mampu memenuhi kebutuhannya sendiri pun telah Allah jaminkan rezekinya.

Ijazah adalah tanda kelulusan dengan predikat atau prestasi tertentu yang telah dijalani seseorang di sebuah lembaga. Tanda kelulusan ini digunakan untuk menjelaskan kapasitas atau prestasi diri si penerima di hadapan orang lain atau lembaga, dan hal itu memiliki implikasi kepada nilai jasa dan penerimaan atau gajinya. Karenanya, perbuatan membeli ijazah dapat dikategorikan sebagai kebohongan, kecurangan, penipuan, jika dengan membayar berarti mengandung unsur sogokan.

Semua itu adalah perbuatan dosa dan diharamkan. Wallahu a’lam bish shawab ■

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Rabu, 29 Februari 2012 / 7 Rabiul Awal 1433

ΩΩΩ

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Akhlak, Bachtiar Nasir, Fiqih and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s