Membaca Sayyidina dalam Tahiyyat


Oleh : Ustadz Aam Amiruddin

Saya cermati, ada orang yang menambahkan kata “sayyidina” kalau menyebut nama Nabi saw, namun ada juga yang tidak. Mana yang benar ?

Roni

Jawaban :

Untuk menjawab masalah ini sebaiknya kita memahami jenis-jenis ibadah yang secara garis besar terbagi pada dua bagian yaitu ibadah Khashshah dan ibadah ‘Ammah.

Ibadah Khashshah adalah ibadah yang pelaksanaannya telah diatur secara mendetail atau rinci oleh Nabi saw. Kita tidak dibenarkan untuk menambahi ataupun mengurangi, alias tidak dibenarkan memodifikasinya, ibadah shalat, shaum, haji, dll.

Ibadah ‘Ammah adalah ibadah yang teknik pelaksanaannya tidak diatur secara mendetail atau rinci oleh Nabi saw. Artinya, kita diberi kebebasan untuk melakukan modifikasi sesuai tuntutan zaman, misalnya berdakwah, mencari ilmu, mendidik anak, mencari nafkah, dll.

Kalau yang Anda maksud menyebut sayyidina Muhammad dalam konteks ibadah ‘Ammah  tentu boleh-boleh saja. Misalnya, saat berceramah Anda mengatakan,”Saudara-saudara sekalian, demikianlah Sayyidina Muhammad saw. mengajarkan kemuliaan akhlak … dst.”  Namun, kalau yang Anda maksud menyebut sayyidina Muhammad itu dalam konteks ibadah Khashshah, tentu hal seperti ini tidak perlu Anda lakukan. Karena prinsip dalam ibadah Khashshah adalah harus mengikuti contoh nabi.

Misalnya, saat membaca shalawat  dalam tahiyyat, Anda membaca “Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad … dst”. Tambahan seperti ini tidak boleh dilakukan karena sebagaimana sabdanya, ”Shallu kamaa ra-aitumuuni ushalli,” artinya “Shalatlah kamu sebagaimana kalian melihat aku shalat.” Keterangan sahih ini menegaskan bahwa dalam shalat, tidak boleh ada modifikasi. Kita hanya mengikuti contoh Nabi saw.

Dalam hadis-hadis sahih, Nabi tidak mencontohkan tambahan Sayyidina Muhammad ketika membaca shalawat dalm tahiyyat, jadi kita pun tidak perlu menambahinya. Silakan cermati keterangan berikut. Ibnu Mas’ud r.a. berkata, ”Ya Rasulullah bagaimana cara kami bershalawat kepadamu ?” Nabi saw bersabda, ”Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa’alaa aali Muhammadin kama shallaita ‘ala  aali ibraahim wa baarik ‘alaa Muhammadin wa ‘alaa aali Muhammadin kamaa baarakta ‘ala aali ibraahim innaka hamiidun majiid.” ( H.R. Muslim )

Coba cermati, apakah Nabi mengajarkan shalawat dalam tahiyyat dengan menggunakan kata sayyidida ? Karena dalam hadis ini tidak ada kata sayyidina, kita pun tidak perlu memakainya karena Nabi saw pun tidak mengajarkannya.

Kesimpulannya, kita diperbolehkan menambahkan kata sayyidina  saat menyebut nama Nabi saw kalau dalam konteks ibadah ‘Ammah. Namun tidak dibenarkan kalau dalam konteks ibadah Khashshah, sebab prinsip ibadah Khashshah adalah mengikuti sebagimana dicontohkan Nabi saw. Wallahu a’lam ■

Sumber : Bedah Masalah, Percikan Iman, No. 06 Th. VIII Juni 2007 / Jumadil Ula 1428

ΩΩΩ

Entri terkait :

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Aam Amiruddin, Fiqih, Shalat and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s