Menunda Hubungan Suami Istri


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz, ada seorang Muslim dan Muslimah yang saling suka, kemudian mereka memutuskan untuk menikah. Tapi, mereka berdua atau tepatnya si pria masih kuliah sehingga belum memiliki harta yang cukup untuk menafkahi istrinya. Karena itu, mereka sepakat untuk menunda berhubungan suami istri sampai kondisi finansial mereka dapat mencukupi kehidupan keluaraga mereka. Yang ingin saya tanyakan, apakah hal itu dibolehkan dalam Islam, Ustadz?

Hamba Allah, Jakarta

Jawaban :

Nikah secara bahasa berarti `himpunan’ ( adh-dham ), kumpulan ( al-jam’u ), atau hubungan intim ( al-wath’u ). Secara konotatif, kata nikah merujuk makna hubungan intim. Secara syar’i, nikah adalah akad yang membolehkan hubungan intim dengan menggunakan kata “menikahkan“,  “mengawinkan“,  atau terjemah keduanya.

Pada dasarnya, nikah tidak dianjurkan bagi orang yang tidak mempunyai biaya. Seperti firman Allah yang artinya, “Orang yang tidak mampu menikah hendaklah menjaga kesucian dirinya, sampai Allah memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya.“ ( QS An-Nur [24] : 23 ).

Sebagai solusinya, pemuda yang belum sanggup tersebut harus menahan diri dari maksiat dengan berpuasa dan bekerja keras mencari nafkah. Rasulullah bersabda, “Hai para pemuda, siapa di antara kalian telah mampu jima’ dan telah sanggup memberi biaya nafkah dan nikah hendaklah dia menikah karena nikah itu lebih aman bagi mata dan lebih menjaga kemaluan. Dan, barang siapa tidak mampu, hendaklah dia berpuasa karena puasa adalah pelindung.“

Di sinilah peran besar wali, keluarga besar, lembaga zakat atau dermawan Muslim dalam membantu masalah sosial di sekitarnya, sebagaimana diperintahkan Allah SWT, “Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan, Allah Maha luas ( pemberian-Nya ) lagi Maha Mengetahui.“ ( QS Al-Nur [24] : 32 ).

Di tengah budaya permisif berpacaran seperti zaman sekarang ini, banyak pemuda yang berani berzina, tapi takut menikah. Maka, jika ada pemuda menikah karena takut berzina dan menahan diri untuk tidak berhubungan suami istri sampai dimampukan Allah maka hal ini dapat dibenarkan. Dalam ayat di atas, Allah juga menegaskan bahwa pernikahan merupakan salah satu dari sebab dibukanya pintu rezeki bagi hamba-Nya.

Imam al-Qurthubi dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini mengandung makna bahwa kita tidak boleh takut menikah karena miskin. Allah SWT sudah menegaskan bahwa jika miskin, maka Dia akan mencukupi dengan nikmat-Nya. Ini janji Allah SWT. Kepada mereka yang menikah karena mencari ridha Allah dan takut jatuh ke dalam kemaksiatan, Ibnu Mas’ud mengatakan, “Carilah kecukupan dalam pernikahan.“ Kemudian, beliau membacakan ayat di atas. Umar bin Khattab juga menegaskan, “Saya heran dengan orang yang tidak mencari kecukupan dalam pernikahan sedangkan Allah sudah menjelaskan bahwa jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya.“

Rasulullah SAW juga menjelaskan dalam hadisnya. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda, “Tiga kelompok yang berhak mendapat pertolongan Allah adalah mujahid di jalan Allah, budak yang ingin menebus dirinya dengan mencicil kepada tuannya, dan orang yang menikah karena ingin menjaga kesucian ( dari zina ).“ ( HR Tirmizi, al-Nasa`i dan Ibnu Majah ).

Tapi, jika yang dimaksudkan adalah kesepakatan antara mereka untuk tidak berhubungan suami istri supaya tidak mendapatkan anak karena takut tidak mampu membiayainya, maka hal itu tidak seharusnya dilakukan oleh seorang Muslim yang yakin akan pertolongan Allah SWT. Karena hal itu bertentangan dengan sifat tawakal kepada Allah SWT dan menyerupai kaum jahiliah dahulu yang membunuh anak-anak mereka karena takut miskin ( QS Al-Isra` [17] : 13 ). Hal itu juga berlawanan dengan tujuan pernikahan dalam Islam, di antaranya yaitu mendapatkan keturunan yang insya Allah menjadi anak saleh yang mendoakan kedua orang tuanya. Wallahu a’lam bish shawab ■

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Selasa, 21 Februari 2012 / 28 Rabiul Awal 1433

ΩΩΩ

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bachtiar Nasir, Fiqih, Keluarga, Pernikahan and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s