Metode Salaf Menuntut Ilmu Agama


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz, di masyarakat kita banyak terjadi perbedaan pemahaman dalam metode menuntut ilmu agama. Perbedaan pemahaman tersebut sering menimbulkan pertengkaran antara suami dan istri yang seharusnya tidak perlu terjadi. Bagaimana metode belajar agama Islam yang dilakukan oleh ulama terdahulu ( salaf ) ?

Hamba Allah

Jawaban :

“Menuntut ilmu adalah suatu kewajiban bagi setiap Muslim.“ (HR Ahmad dan Ibnu Majah). Yang dimaksud dengan ilmu dalam Al-Quran maupun Sunah bukanlah ilmu-ilmu yang bersifat keduniaan, melainkan ilmu-ilmu tentang agama. Imam Ibnu Hajar al-Asqalani berkata, “Dan, yang dimaksud dengan ilmu adalah ilmu syar’i.“ Namun, bukan berarti ilmu keduniaan tidak wajib dipelajari.

Hal terpenting dalam menuntut ilmu bagi ulama salaf menurut Imam al-Khatib Albagdadi adalah keikhlasan niat karena Allah SWT semata, “Adalah wajib bagi setiap penuntut ilmu agama untuk memurnikan ( ikhlas ) niatnya dalam menuntut ilmu dan memusatkan tujuannya hanya mengharapkan wajah Allah semata.“

Rasulullah bersabda, “Barang siapa yang menuntut ilmu agama, di mana seharusnya dituntut demi untuk mengharapkan wajah Allah, namun ia melakukannya untuk tujuan keduniaan belaka, maka di hari kiamat kelak ia tidak akan dapat mencium harumnya surga.“ ( HR Ibnu Majah, Ahmad, dan Abu Daud ).

Ketika keikhlasan mendasari masing-masing pasangan dalam menuntut ilmu, maka Allah akan berkahi ilmunya. Bukanlah perbedaan paham yang muncul, tetapi saling memberi dan menerima pengetahuan baru antara pasangan. Dalam hal metode belajar, ada prinsip yang harus dipegang sebagaimana ulama salaf menuntut ilmu.

Imam Muhammad bin Siriin berkata, “Sesungguhnya, ilmu ini adalah agama, maka perhatikanlah dari siapa engkau mengambil agamamu.“ Dalam riwayat lain beliau berkata, “Dahulu, mereka ( para ulama salaf ) tidak bertanya tentang isnad ( orang yang meriwayatkan hadis ). Namun, setelah menyebarnya fitnah, maka mereka mulai bertanya,’Dari siapa kamu mendengarkan hadis tersebut?’”

Oleh karena itu, dalam menuntut ilmu, para ulama salaf memulai dengan menyeleksi guru yang mendatangkan keberkahan ilmu bagi mereka, selain faktor kompetensi ilmu dan akhlak. Abdullah bin Amru bin al ‘Ash mengatakan, “Rasulullah bersabda, ‘Sesungguhnya, Allah tidaklah mencabut ilmu sekaligus dari hamba, akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan cara mewafatkan para ulama hingga bila sudah tidak tersisa. Maka, manusia akan mengangkat pemimpin dari kalangan orang bodoh. Ketika ditanya, mereka berfatwa tanpa ilmu. Mereka sesat dan menyesatkan.’” ( HR.Bukhari ).

Belajar dari guru dan ulama yang berbeda paham tentu lebih baik daripada hanya belajar kepada yang sepaham saja. Hanya saja, perlu dipahami bahwa para ulama yang diberkahi adalah orang-orang yang bukan hanya lurus akidahnya, tetapi juga sungguh-sungguh mengamalkan ilmunya. Ahmad bin Hanbal berkata, “Tidaklah sampai satu hadis pun kepadaku kecuali saya telah beramal dengannya. Dan, tidaklah saya beramal dengannya kecuali saya telah menghafalnya.“

Perbedaan pendapat dalam menuntut ilmu pada akhir zaman ini tak akan dapat dihindari. Akan tetapi, kita harus berhati-hati terhadap paham-paham sesat yang mengatasnamakan Islam. “Sesunggunya, agama ( umat ) ini akan terpecah menjadi 73 (kelompok), 72 di (ancam masuk ke) dalam neraka dan satu yang di dalam Surga, dia adalah al-Jama’ah.“ (HR Ahmad dan Abu Daud dan juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Anas bin Malik ra dan juga mirip dengannya dari hadis Auf bin Malik ra). Dalam suatu riwayat, “ (al-Jama’ah adalah) siapa yang berada di atas seperti apa yang saya dan para sahabatku berada di atasnya.“ ( Hadis hasan ). Wallahu a’lam bish shawab ■

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Kamis, 16 Februari 2012 / 23 Rabiul Awal 1433 H

ΩΩΩ

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Akhlak, Bachtiar Nasir, Pendidikan and tagged , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Metode Salaf Menuntut Ilmu Agama

  1. agung says:

    bismillah. . Kalo menunu ilmu keduniaan niatnya untk dunia bgaimana hukumnya ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s