Pahala Bukan Angan Kosong


Oleh : M Quraish Shihab

Apakah sebenarnya konsep pahala, dan bagaimana wujudnya jika dikaitkan dengan ayat yang menyebutkan bahwa pahala bukanlah suatu angan-angan yang kosong ( surat dan ayat lupa ), dan dengan QS 4 : 134 tentang pahala di dunia dan di akhirat. Sekian, wassalam.

Iffa Asdati

Jawaban :

Saya duga ayat yang Anda  maksud adalah QS An-Nisaa’ [4] : 123–124 yang menyatakan : ”(Pahala dari Allah) itu bukanlah menurut angan-angan kamu yang kosong dan tidak (pula) menurut angan-angan Ahli Kitab. Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong baginya selain dari Allah. Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun”.

Kedua ayat ini menegaskan salah satu prinsip dasar menyangkut ganjaran dan sanksi. Ini perlu karena salah satu cara setan memperdaya manusia adalah angan-angan kosong, misalnya bahwa Allah Maha Pengampun, Dia tidak akan menjatuhkan sanksi setelah seseorang mengucapkan dua kalimat syahadat. Demikian juga angan-angan yang ditumbuhsuburkan setan ke dalam hati orang-orang Yahudi dan Nasrani, seperti bahwa mereka adalah “Anak-anak Tuhan dan kinasih-Nya” ( QS Al-Maidah [5] : 18 ). Atau terhadap orang-orang musyrik yang menyatakan bahwa “Kami memiliki lebih banyak harta dan anak sehinggga kami tidak akan disiksa” ( QS Saba’ [34] : 35 ).

Untuk membatalkan semua angan-angan itu, ditegaskannya bahwa pahala dari Allah bukanlah menurut angan-angan kamu yang kosong, wahai masyarakat musyrik atau ummat Islam yang belum menghayati agamanya dan tidak ( pula ) menurut angan-angan Ahli Kitab, yakni orang Yahudi dan Nasrani. Yang benar adalah; Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan sesuai dengannya, yakni dengan kejahatan dan kadarnya. Balasan itu boleh jadi hanya di dunia berupa penyakit atau petaka apapun – ini bila Allah masih mengasihinya dan bisa juga di akhirat jika murka Allah telah jatuh atasnya dan ia tidak mendapat pelindung untuk membelanya dan tidak pula penolong selain dari Allah. Sebaliknya barangsiapa yang mengerjakan sebagian amal-amal saleh, yakni yang sah dan bermanfaat dalam ukuran Allah dan Rasul baik pelakunya laki-laki maupun wanita sedang ia dalam keadaan mukmin, membenarkan dengan hatinya apa yang disampaikan oleh para nabi, maka mereka itu masuk atas anugerah Allah ke surga dan mereka tidak dianiaya oleh siapapun walau sedikit.

Ayat ini menegaskan manusia tidak memiliki  wewenang dalam penetapan sanksi dan ganjaran. Angan-angan dan keinginan manusia tidak ada kaitannya sedikitpun dengan kedua hal tersebut, tetapi tetapi keduanya semata-mata adalah atas dasar ketentuan Allah yang ditetapkan oleh-Nya, kadar dan penerimanya. Dia memberi ganjaran atas anugerah-Nya yang dapat berlipat ganda, sedang Dia memberi balasan sebagai buah dari amal. Untuk balasan itu, Dia tidak melebihkannya sedikitpun, bahkan banyak hal yang Dia maafkan. Demikian secara singkat maksud ayat tersebut. Wa Allah A’lam

Sumber : Quraish Shihab Menjawab ,  Dialog Jumat, Republika, Jumat, 31 Mei 2002 /  18 Rabiul Awal 1423 H

 ΩΩΩ

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Al-Quran, Aqidah, M.Quraish Shihab and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s