Dilamar Orang Jarang Shalat


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz, dalam umur saya yang sudah melebihi 30 tahun ini, ada laki-laki datang ke keluarga saya untuk malamar. Dia orang yang sangat berbakti kepada ibunya, sangat baik perilakunya dalam pergaulan dengan orang lain, dan sangat tekun dalam usahanya. Sayangnya, dia orang yang menganggap enteng urusan shalat dan jarang menunaikannya. Mungkinkah bagi saya menerima lamarannya?

Hamba Allah

Jawaban :

Etika dalam menyikapi lamaran bagi perempuan sesungguhnya telah diajarkan oleh Rasulullah. Etika itu harus dipahami dan dipegang teguh oleh anak dan kedua orang tua perempuan. Setiap orang tua yang mengabaikannya, sesungguhnya merekalah penyebab bencana sosial.“Jika datang kepada kalian seseorang yang engkau ridai agama dan akhlaknya melamar ( anak perempuan kalian ), segera nikahkanlah. Jika tidak, akan terjadi fitnah di bumi ini dan kerusakan yang besar.“ ( HR at-Tirmizi ).

Ukuran kebaikan dalam agama bukanlah materi dan tradisi sebagaimana ukuran akhlak dimulai dari tauhidnya. Alat ukur tauhid dan akhlak seseorang adalah shalatnya. Shalat sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah, bukan shalatnya orang Syiah, Islam jamaah ( LDII ), Ahmadiyah, atau paham-paham lainnya.

Menolak orang yang telah mendirikan shalat, maka akan menimbulkan fitnah. Dan tradisi mendahulukan kriteria keduniaan ketimbang kriteria mendirikan shalat, akan menimbulkan kerusakan yang besar di muka bumi. Diriwayatkan dari Abdullah bin Syaqiq al-‘Aqili, ia berkata, “Para sahabat Nabi tidak mengatakan seseorang yang meninggalkan ibadah sebagai kafir kecuali yang meninggalkan shalat.”

Kalaupun ada ulama yang mengatakan, meninggalkan shalat itu tidak kafir, tetapi mereka menegaskan orang yang meninggalkan shalat itu harus disuruh untuk melaksanakannya. Dan jika dia tidak mau, ia dihukum karena meninggalkan shalat bukan karena murtad ( keluar dari Islam ). Ada banyak dalil menyatakan, yang membedakan orang Islam dari orang kafir adalah shalatnya.

Rasulullah bersabda, “Pemisah antara seseorang dan kekufuran serta kesyirikan adalah meninggalkan shalat.” ( HR Muslim ). Akad nikah berarti kedua mempelai mengikat perjanjian di hadapan Allah, sebuah perjanjian suci untuk membangun mahligai keluarga penuh mawadah dan rahmat dari Allah. Semua itu hanya terjadi jika keduanya sudah mendirikan shalat.

Sebab, shalat adalah tiang agama yang menjadi sumber semua kebajikan. Jika salah satunya sudah meninggalkan shalat, bisa saja perjanjian itu batal karena orang ini sudah meruntuhkan pijakan tiang kebajikan. Nabi bersabda, “Perjanjian antara kami dan mereka adalah shalat, barang siapa yang meninggalkannya, ia telah kafir.” ( HR Ahmad, Tirmizi, al-Nasa`i, al-Baihaqi, dan al-Daruquthni ).

Imam Abu Hanifah berpendapat, orang yang meninggalkan shalat itu tidak kafir, tapi beliau menegaskan, barang siapa yang menikahkan anaknya dengan orang yang meninggalkan shalat, seolah-olah dia telah melemparkan anaknya ke dalam neraka. Wallahu a’lam bish shawab

Sumber :  Konsultasi Agama, Republika, Rabu, 8 Februari 2012 / 15 Rabiul Awal 1433

ΩΩΩ

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Akhlak, Bachtiar Nasir, Shalat and tagged , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s