Selalu Jatuh dalam Maksiat


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz, saya adalah orang yang kesal dengan cara hidup saya sendiri karena ada banyak keinginan baik dan cita-cita mulia yang ingin saya capai dan jalani, tapi saya selalu jatuh dalam maksiat. Berdosakah saya dengan perasaan saya ini?

Hamba Allah

Jawaban :

Orang yang beriman selalu memiliki harapan, bukan hanya dalam hidupnya, bahkan setelah kematiannya. Allah menyapa semua hamba-Nya yang berdosa dengan sapaan kasih sayang seraya memberi dan membangunkan harapan bagi mereka yang ingin kembali kepada-Nya. “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya, Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.“ ( QS az-Zumar [39] : 53 ).

Anas bin Malik berkata, ia mendengar Rasulullah berkata, “Allah berfirman, `Wahai anak Adam, tidaklah engkau berdoa kepada-Ku dan berharap kepada-Ku, melainkan Aku ampuni dosa yang ada padamu dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, seandainya dosa-dosamu telah mencapai setinggi langit, kemudian engkau meminta ampun kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampunimu dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, seandainya engkau datang kepada-Ku dengan membawa kesalahan sepenuh bumi, kemudian engkau menemui-Ku dengan tidak menyekutukan sesuatu dengan-Ku, niscaya aku akan datang kepadamu dengan ampunan sepenuh bumi.”’ ( Tirmizi ).

Berkaitan dengan ayat tersebut di atas, ada riwayat dari ‘Urwah bahwa dia pernah bertanya kepada Aisyah, “Bagaimana pendapat kamu tentang firman Allah dalam QS Yusuf ayat 110 yang artinya “Sehingga apabila para rasul itu tidak mempunyai harapan lagi — tentang keimanan kaum mereka — dan mereka berprasangka bahwa mereka telah dituduh berdusta ( kudzdzibuu, huruf dzal bertasydid ) atau didustakan ( kudzibuu, dzal tidak bertasydid ). Aisyah berkata, bahkan yang benar adalah para rasul benar-benar telah didustakan oleh kaum mereka.”

Aku katakan, “Demi Allah, sungguh mereka telah yakin bahwa kaum mereka menuduh mereka berdusta, lalu apa maksud berprasangka dalam ayat itu?”  ‘Aisyah ra berkata, “Wahai ‘Urwah, sungguh para rasul telah yakin mereka akan didustakan.” Aku katakan, “Semoga saja begitu. Atau mereka hanya berprasangka bahwa mereka telah didustakan?” Aisyah berkata, “Allah Maha Melindungi. Sungguh para rasul tidak berprasangka kepada Rabb mereka.

Ayat ini, katanya, “Berkaitan dengan pengikut mereka yang ditimpa ujian dalam masa yang cukup lama, sedangkan pertolongan belum juga datang sehingga ketika di antara mereka berputus asa terhadap orang yang mendustakan mereka, dan jangan-jangan pengikutnya malah akan mendustakan kenabiannya, barulah datang pertolongan Allah.’’

Untuk menjaga konsistensi setelah bertobat dan tidak kembali terjatuh dalam maksiat, lanjutkanlah dengan berinabah, yaitu bergantungnya qalb kepada Allah karena merasakan ketenangan serta kebahagiaan saat mengingat dan menyebut nama-Nya.

Selanjutnya, Allah berpesan untuk bersungguh-sungguh berpegang teguh beragama melalui  Al-Quran dan sunah-sunah Rasul-Nya. Wallahu a’lam bish shawab ■

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Rabu, 1 Februari 2012 /8 Rabiul Awal 1433 H

ΩΩΩ

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Akhlak, Bachtiar Nasir and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s