Sosialita ‘Madamme Pemboros’


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Di antara faktor penyebab korupsi kalangan elite bangsa ini adalah gaya hidup glamor keluarga mereka, terutama gaya hidup kaum sosialita. Fashion-nya berkiblat ke Paris, Milan, atau New York dengan pernak-pernik berkelas tinggi. Di Indonesia, kelompok ini sudah menunjukkan eksistensi dan dampak negatifnya. Pertanyaan saya, bagaimana Islam memandang gaya hidup seperti ini dari sisi positif dan negatifnya?

Surya , Jakarta Pusat

Jawaban :

Di antara tanda lemah akal dan iman seseorang adalah ketika merasa bangga dengan harta dan penampilan yang mewah dan merasa hina serta minder ketika kekurangan.

Penampilan juga menunjukkan kelemahan akal dan imannya. Khadijah Al-Kubra, istri Rasulullah SAW, adalah orang kaya raya yang menghabiskan hartanya di jalan Allah, mendidik putri kesayangannya, Fatimah az-Zahra, dengan sangat sederhana. Bahkan, pembantu rumah tangga pun tidak Rasulullah berikan untuk putri dan cucu beliau selepas wafatnya Khadijah.

Istilah sosialita dapat dipahami sebagai gaya hidup orang kaya raya dengan penghasilan berlimpah, namun aktif dalam berbagai kegiatan sosial yang bukan berkenaan dengan filantropi belaka. Mereka bisa menyumbang dengan angka yang sangat besar dan saling bersaing menunjukkan kelas sosialnya secara materi. Kebanyakan korbannya memang kaum hawa sehingga dikenallah istilah ‘madamme pemboros’.

Kalau tidak salah, istilah sosialita diambil dari gaya hidup kaum borjuis Prancis. Di Indonesia, kelompok ini termasuk salah satu faktor penting penyebab korupsi, silakan lihat lembaran surat kabar dan majalah akhir-akhir ini, beberapa di antaranya sudah menjadi pesakitan di meja hijau dan sudah dihakimi media massa sebelum dipenjara.

Dari sudut pandang positif, kaum ini memiliki kontribusi walau sedikit dan sesaat dalam membantu meri ngankan beban orang sekelilingnya. Mereka memberikan santunan lewat cara-cara formal. Namun, secara garis besar, gaya hidup kaum sosialita alias ‘madamme pemboros’ ini terbilang negatif. Dari sudut pandang Al-Quran, kaum ini disebut ikhwaa nasy syayathiin ( saudara-saudara para setan ).

Oleh karena itu, jika mampu kaya raya maka sederhana jauh lebih baik. Karena, sederhana itu adalah benteng dari serangan cinta dunia. Cara terbaik dan paling benar membelanjakan harta adalah di jalan Allah. Selain di jalan Allah berarti di jalan setan.

Hanya orang yang kurang akal yang rela hidup mewah di persinggahan sementara dan rela hidup sengsara di alam keabadian. Orang jenius adalah orang yang menundukkan hawa nafsu dengan

akalnya dan memperbanyak bekal setelah kematiannya. Disebutkan dalam riwayat yang sahih, “Saya melihat bekas tikar membekas di rusuk Rasulullah SAW, tiba-tiba mataku meneteskan air mata.” Beliau bersabda, “Apa yang membuatmu menangis?” Saya menjawab, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Kisra ( Persia ) dan Kaisar ( Romawi ) sedang bermewah-mewah dengan apa yang mereka miliki, sedangkan Anda adalah Rasulullah.” Maka, Rasulullah SAW bersabda, “Apakah kamu tidak rela jika mereka memiliki dunia, sedangkan kamu memiliki akhirat?” ( HR Bukhari ). Wallahu a’lam bi shawab ■

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Sabtu, 28 Januari 2012/4 Rabiul Awal 1433 H

ΩΩΩ

Entri Terkait :

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Akhlak, Bachtiar Nasir. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s