Hibah untuk Anak Perempuan


Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir

Ustadz, saya ingin bertanya mengenai harta waris. Bapak saya sudah almarhum, ibu masih hidup, kami enam bersaudara, empat laki-laki, dan dua perempuan, semuanya satu ibu dan satu bapak. Sebelum bapak meninggal, bapak saya menghibahkan sebagian rumahnya untuk saya dan ada saksinya adik dan kakak saya. Apakah ada batasan dalam hibah? Yang saya pernah dengar, hibah itu maksimalnya hanya boleh 1/3 dari harta milik bapak saya, apakah benar Ustadz?

Hamba Allah

Jawaban :

Dalam menyelesaikan kasus kewarisan, yang menjadi patokan adalah pewaris, yaitu orang yang meninggal. Jadi, dalam kasus ini almarhum wafat meninggalkan istri, empat anak laki-laki, dan dua anak perempuan. Langkah pertama, menyelesaikan hak-hak berkaitan dengan harta peninggalan, seperti biaya pengurusan jenazah, utang, dan menyelesaikan harta bersama antara almarhum dan istri.

Setelah diaudit semuanya, baru harta yang tersisa disebut harta warisan dan harta inilah yang akan diselesaikan untuk para ahli waris. Istri mendapatkan 1/8 bagian karena almarhum memiliki keturunan ( lihat QS an-Nisa [4]:12 ). Dan, sisanya untuk anak-anak, dengan kadar bagian setiap anak laki-laki dua kali lipat dari bagian perempuan ( lihat QS an-Nisa [4]:11 ). Adapun perinciannya ( lihat tabel ).

Hibah orang tua kepada anak haruslah adil, jangan sampai anak yang satu mendapatkan hibah, sedangkan yang lainnya tidak mendapatkan. Kecuali, hibah tersebut karena ada sebab, seperti peran anak tersebut dalam pengembangan aset almarhum semasa hidupnya.

Diriwayatkan dari al-Thabrani dan al-Bayhaqi dari Ibn Abas, Nabi SAW pernah bersabda, “Samakanlah pemberian yang kamu lakukan terhadap anak-anakmu, dan sekiranya hendak melebihkan, maka hendaklah kelebihan itu diberikan kepada anak perempuan.“

Berkaitan dengan masalah tersebut, ada sebuah solusi, yaitu dengan cara hibah yang diberikan orang tua kepada anaknya dapat diperhitungkan sebagai warisan. Pengertian “dapat“ bukan berarti imperatif ( harus ), tetapi merupakan salah satu alternatif yang dapat ditempuh untuk menyelesaikan sengketa warisan.

Sepanjang para ahli waris tidak ada yang mempersoalkan hibah yang sudah diterima oleh sebagian ahli waris, maka harta warisan yang belum dihibahkan dapat dibagikan kepada semua ahli waris sesuai dengan porsinya masing-masing.

Tetapi, apabila ada sebagian ahli waris yang mempersoalkan hibah yang diberikan kepada sebagian ahli waris lainnya, hibah tersebut dapat diperhitungkan sebagai harta warisan dengan cara mengalkulasikan hibah yang sudah diterima dengan porsi warisan yang seharusnya diterima. Apabila hibah yang sudah diterima masih kurang dari porsi warisan maka tinggal menambah kekurangannya. Dan, kalau melebihi dari porsi warisan maka kelebihan hibah tersebut dapat ditarik kembali untuk diserahkan kepada ahli waris yang kekurangan dari porsinya. Wallahu a’lam bi shawab ■

Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Senin, 30 Januari 2012/6 Rabiul Awal 1433 H

ΩΩΩ

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Bachtiar Nasir, Fiqih, Waris and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s