Sabar Menghadapi Kesulitan Hidup


Oleh : Ustadz Budi Hata’at

Ustadz, benarkah karena ada ayat “Tidaklah Allah membebani seseorang kecuali menurut kesanggupannya” maka kita harus sabar dan menerima berbagai kesulitan hidup saat ini, seperti kenikan BBM dan lain-lain ?

Jawaban :

Tidak ada tempat dalam Islam bagi pesimisme dalam menjalani hidup. Islam pun tidak mengajarkan umatnya untuk pasrah dan bertekuk lutut pada kesulitan hidup yang menimpanya. Termasuk arahan dari ayat “Tidaklah Allah membebani seseorang kecuali menurut kesanggupannya”. ( QS Al-Baqarah : 286 ). Ayat ini sama sekali tidak mengajak agar umat menerima begitu saja kesulitan hidupnya, lalu melemparkan seluruh beban hidup itu sebagai “tanggung jawab”  Allah yang karenanya umat cukup menerima dan pasrah. Tidak demikian ayat tersebut dipahami.

Asy-syahid Sayid Quthub dalam tafsirnya mengelompokkan ayat ini pada tema “profil orang beriman”. Ayat ini menegaskan, bahwasanya seorang beriman dibebani kewajiban untuk menjalankan ajaran Islam secara total dan menegakkannya dalam kehidupan. Seluruh kewajiban agama ini, mulai dari thaharah sampai jihad fi sabilillah, dari urusan wudhu sampai pemerintahan, seluruhnya harus ditegakkan. Itu memang tugas berat, namun semua itu masih dalam batas kesanggupan manusia untuk memikulnya. Dengan pemahamn ini, maka ayat ini justru akan memberikan semangat ( himmah ) bagi orang beriman untuk melaksanakan tugas dan tanggung jwabnya. ( lihat tafsir Fi Zhilalil Qur’an juz I, Daarusy Syuruq ).

Jadi, setiap orang beriman harus sabar dengan cara bangkit untuk mengubah keadaan dan menghilangkan sumber penyebab berbagai kesulitan hidupnya. Umat harus sabar dalam mengingatkan penguasa atas kebijakannya yang dzalim. Sabar dalam berjihad memberantas korupsi yang menyebabkan kehancuran bangsa ini. Sabar untuk terus menerus beramar ma’ruf nahyi munkar. Semua itu memang berat, tetapi masih dalam batas kemampuan orang beriman.

Pada penggalan ayat berikut pada ayat tersebut, Allah menegaskan bahwa setiap  orang, para pemimpin dan rakyatnya, para ulama dan cendekiawan, semua orang akan diminta tanggung jawabnya masing-masing, sesuai dengan posisi dan perannya. “Ia mendapat pahala ( dari kebajikan ) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa ( dari kejahatan ) yang dikerjakannya”. Demikian konteks ayat tersebut kita pahami. Wallahu a’lam bishshawab

Sumber : Fiqih Sunnah, Galamedia,  Jumat, 27 Januari 2006   / 27 Dzulhijjah 1426 H

  •  Ustadz Budi Hata’at, Lc , Pembina Yayasan Riyadhus Sunnah, Bandung

ΩΩΩ

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Akhlak, Aqidah, Budi Hata'at and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s