Perihal Haramnya Babi


Oleh : Ustadz Budi Hata’at

Ustadz, sejauh mana babi diharamkan, apakah hanya memakannya saja, bagaimana dengan memelihara, menjual dagingnya dll ?

+6281573668***

Jawaban :

Di dalam Al-Quran, Allah SWT berfirman, ”Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, daging babi, dan binatang yang ( ketika disembelih ) disebut ( nama ) selain Allah.”  ( QS Al-Baqarah : 173 ). Juga firman-firman-Nya pada surat al-Maidah ayat 3, al-An’am ayat 140 dan surat an-Nahl ayat 115, menegaskan tentang haramnya babi. Walau dilihat secara teksnya ( mantuq ) ayat tersebut hanya menyebut memakan daging babi, namun para ulama fiqih melihat ayat tersebut adalah dalil iltizam yaitu adanya ketentuan hukum lain yang tidak disebut langsung pada ayat, tetapi memiliki pengertian secara tersirat ( isyarat ) .

Sehingga pengertian yang diisyaratkan dari ayat tersebut ( mafhum muwafaqah ) tidak hanya haramnya memakan daging babi, tetapi seluruh hal yang berkaitan dengan babi. Nash-nash al-Quran tersebut mengharamkan pula usaha memelihara, menternakkan, memperjual-belikan, mengolah daging babi dan produk-produk ikutan lainnya yang berasal dari babi seperti lesitin dan enzim gelatine.

Pemahaman ini ditegaskan pula oleh hadits Rasulullah SAW berikut. Pada hari dibebaskannya Makkah, Rasul SAW bersabda, “Bahwasanya Allah dan Rasul-Nya mengharamkan perdagangan arak, bangkai, babi dan berhala.”  Seorang sahabat bertanya,”Ya Rasulullah, bagaimana dengan lemak babi ? Dengannya dapat digunakan untuk mengecat perahu, untuk menghaluskan kulit, juga dapat digunakan untuk penerangan   ( lampu ) !” . Beliau menjawab, “Tidak, ia tetap haram!” ( Shahih Bukhari , kitab al-Buyu 2082, Shahih Muslim 3/17, Sunan Abu Daud 3/3486, Sunan at-Turmudzi 3/1297, Sunan an-Nasa’i, Sunan Ibnu Majah 2/2167, Sunan Ahmad 13948 ).

Jadi , hukum haramnya babi bagi kaum Muslimin, tidak hanya sekedar  memakannya, tetapi juga meliputi seluruh kegiatan pengusahaan ( jual beli, peternakan ) dan pengolahan seluruh jenis produk yang berasal dari babi. Wallahu a’lam bishshawab

Sumber : Fiqih Sunnah, Galamedia,  Jumat, 19 Agustus 2005   /  14 Rajab 1426 H

  • Ustadz Budi Hata’at, Lc , Pembina Yayasan Riyadhus Sunnah, Bandung

 ΩΩΩ

About Jalan Kehidupan

Blog ini hanya menyajikan ulang berbagai masalah keagamaan dalam bentuk tanya jawab dengan para ulama yang pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Admin tidak menyediakan fasilitas tanya jawab dengan para pengunjung blog ini. Terima kasih.
This entry was posted in Budi Hata'at, Fiqih and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s